
Ara pingsan setelah perkelahian itu, setelah pisau yang ia tancapkan ke tubuh Sasya menembus jantungnya. Tapi ada sebuah keajaiban, Sasya mampu bertahan, ia bertekad tidak ingin mati sebelum bertemu cinta sejatinya. Eza.
"Sya...," suara dengan gema gemetar melengking di bawah cahaya lampu temaram. "Kenapa? Siapa yang melakukan ini?" tanya Eza pada wanita yang tengah sekarat dengan sisa-sisa kesadaran yang ia punya. Jelas, Eza sangat panik, belum lagi ia melihat istri sahnya yang tengah hamil besar juga tergeletak pingsan di sana.
Sasya tersenyum pada sosok lelaki yang paling berarti baginya itu. "A-aku... men-cintai... ka-mu, Za. A-ku pu-nya ti-ga per-minta-an terakhir. Please, a-ku ingin... de-ngar kamu...
"Mbak?"
Prank!
Sebuah mangkuk stainless di tanganku terlepas karena aku kaget. Aku terperanjat menyadari Aarin sudah berdiri di ambang pintu. Ia memergoki aku yang tengah berdiri di depan laptopnya di atas meja. Waktu itu aku hendak mengambil mangkuk stainless itu di kamar ibuku, bekas mengurasi wajah Anggi yang lengket karena keringat. Dia habis menangis kencang. Sewaktu aku hendak keluar dari kamar itu, aku melihat laptop Aarin menyala dan menampilkan ketikan naskah itu di layar monitornya. Awalnya aku hanya sekadar tertarik karena sepintas saja aku menyadari kalau itu merupakan naskah sebuah cerita. Tetapi begitu aku membacanya, aku tahu persis denganĀ cerita yang ia tulis itu, meski baru kubaca tiga alinea.
Hatiku melesak. Aarin menulis cerita itu dengan cerita dan penempatan yang terbalik. Nama yang ditulis tidak lengkap, tapi sangat jelas nama siapa yang sebenarnya ia maksudkan. Dia memosisikan aku sebagai pihak ketiga di antara Salsya dan Reza. Aku, sang antagonis yang ia maksud, yang menusuk Salsya dan menyebabkan ia kehilangan nyawa. Ia menulis dari sudut pandang cerita yang salah: Salsya sebagai tokoh utama wanita protagonis yang menderita.
Tetapi...
Setiap orang berhak dengan imajinasinya, bukan? Itu hak Aarin. Hanya saja -- di sini, di dalam hatiku, serasa dicubit kecil-kecil. Aku merasa gadis itu seolah mengkhianatiku. Dalam sekejap, ia bagaikan duri dalam daging di dalam kehidupanku.
__ADS_1
Tenang, Nara. Tidak perlu ribut. Ini rumah orang, ini hari bahagia Bunda yang berulang tahun, dan anak-anakmu juga tengah tidur nyenyak. Tahan amarahmu, Nara.
"Mbak lagi apa?" tanya Aarin. Cemas, ragu dan takut menjadi satu dalam suaranya yang gemetar.
Aku tersenyum simpul seraya mengedikkan bahu. "Ceritamu bagus," kataku. "Judulnya apa kalau boleh tahu?"
Dia tertegun. "Judulnya... emm... Mencintaimu Sampai Mati. Tapi ini... ketikanku belum selesai, sih."
"Ya, aku tahu. Omong-omong, itu si Sasya yang sekarat, mau minta apa ke Eza? Aku lanjut baca, ya?"
Aarin tidak langsung menyahut. Dia malah langsung menghampiri laptopnya, menyimpan naskah tulisannya dan segera mematikan laptop. "Belum selesai, Mbak. Tidak enak kalau Mbak baca sekarang."
Seolah berkeringat, ia menyapukan jemarinya di kulit di bawah hidungnya. "Anu...," katanya ragu.
"Yang pertama?" tanyaku.
"Emm... dia... minta Eza untuk menjaga buah hati mereka."
__ADS_1
"Oooh... mereka sudah punya anak? Mereka suami istri, ya? Apa istri sahnya tahu?"
Aarin mengangguk tak yakin, lalu menggeleng. Nampak sekali kalau dia sedang tertangkap basah melakukan kesalahan. Walau sebenarnya tidak salah-salah amat. Dia punya hak, dan aku sadar betul akan hal itu.
"Terus, yang keduanya apa?"
Dia melirikku sekilas, lalu memalingkan lagi wajahnya dariku. "Yang kedua... dia... minta... Eza mengikrarkan cinta kepadanya."
"Oh... so sweet sekali. Sudah mau mati, tapi masih sempat-sempatnya romantis-romantisan begitu."
Dia mengulum senyum tipis. Senyum palsu. "Namanya juga cerita fiksi, Mbak."
"Terus, yang ketiga?"
Aarin berdeham. "Yang ketiga... Sasya minta Eza menciumnya, untuk yang terakhir kali."
"Wow! So romantic. Omong-omong, ceritamu ini mengingatkan aku pada hubungan antara aku, Mas Reza, dan Salsya. Nama karakternya hampir sama lagi. Tapi ini dalam versi terbalik. Dalam kisah nyata, akulah tokoh utama sang protagonis. Iya, kan? Well, imajinasimu luar biasa. Semoga meledak, ya. Ups! Sori, maksudku semoga ceritamu meledak. Boom!"
__ADS_1
Aku pun melangkah pergi.
Oh, Aarin. Aku mendadak tidak suka padamu.