
Aku menolak permintaan Reza sore itu. Aku takut tidak cukup waktu untuk kami berduaan, takut keburu anak-anakku bangun dan aku tidak boleh memandikan mereka terlalu sore.
"Nanti malam saja, ya," kataku. "Sekalian kita beli sate padang. Sudah lama, lo, aku cuma makan makanan rumah. Aku kepingin jajan. Oke?"
Dia mengangguk, lalu mencium keningku. "Apa pun untukmu, Sayang. Apa pun tanpa terkecuali."
"Terima kasih, Mas. Kamu yang terbaik."
Ah, senang sekali. Dia pengertian dan mau memenuhi permintaanku itu. Toh, itu juga demi anak-anaknya. Setelah Angga dan Anggi menyusu pada malam harinya dan mereka kembali tidur pulas, barulah kami pergi. Mula-mula mencari sate padang, makanan kesukaanku.
"Sudah lama sekali, ya, kita tidak jalan-jalan berdua -- quality time begini? Kapan coba terakhir?"
Aku menggeleng. "Lupa, Mas. Kalau tidak salah terakhir itu waktu ke kantor polisi, sebelum Mas Alfi dan keluarganya kecelakaan. Kalau tidak salah, sih."
Reza tampak mengingat-ingat, lalu mengangguk.
"Omong-omong, apa kabar mereka sekeluarga? Aku sudah lama tidak ada kontak dengan Mayra , semenjak kita pulang ke Jakarta."
Reza melirikku sekilas sambil tersenyum. "Mereka baik-baik saja. Semuanya sehat. Waktu aku ke Bogor, aku sempat mampir ke sana."
"May, bagaimana? Apa dia... bahagia?"
__ADS_1
Reza mengangguk. "Menurutku sangat. Aku rasa, dia yang sekarang sebahagia dia yang dulu, zaman-zamannya dia pacaran dengan Alfi."
Tentu saja. Karena dia tidak bahagia seutuhnya setelah menikah. Makan hati hampir setiap hari. "Syukurlah. Aku turut senang. Dia layak mendapatkan kebahagiaannya."
"Yap. Dia sosok perempuan yang hebat, bukan?" Reza melirikku lagi dengan senyuman penuh arti. "Sama sepertimu," ujarnya. "Kalian hebat, istri terbaik."
Aku sependapat tentang itu, tapi tidak sepenuhnya. Mayra memang sangat hebat. Dia bisa bahagia setelah semua badai rumah tangga yang berhasil ia lalui. Sementara aku, yang kuhadapi belum seberapa dibandingkan Mayra, tapi keinginanku untuk berpisah dengan suamiku sudah berkali-kali terbesit di dalam benakku.
"Mayra memiliki hati yang luar biasa. Aku salut. Tidak semua perempuan bisa sehebat dia, selapang dada itu. Apalagi kalau dibandingkan dengan aku. Jauh sekali, Mas. Seperti bumi dan langit, ya kan? Sama sekali tidak sama."
Reza hanya tersenyum, lalu berkata, "Semua manusia memiliki karakternya masing-masing. Tidak perlu dibanding-bandingkan. Pada dasarnya kamu juga wanita hebat. Dan aku cinta padamu."
"Bukan gombal."
"Lalu?"
"Itu pernyataan cinta yang tulus dari hatiku yang terdalam."
Uuuh... gombalnya semakin menjadi-jadi.
"Nah, itu ada sate padang. Mau dibungkus atau mau makan di sini?"
__ADS_1
Hmm... malah nanya. "Dibungkuslah, Mas. Panggil saja pegawainya atau siapanya. Jangan keluar dari mobil, atau kuisolasi lagi nanti kamunya. Mau?"
Euw! Dia menggeleng-gelengkan kepalanya menanggapi keparnoanku, tapi ia tak mau berdebat. Jadi, melalui jendela mobil dia pun memanggil si bapak tukang sate.
"Sate, Pak?" tanyanya.
"Ya," sahut Reza. "Pesan sepuluh porsi."
"Hah? Sepuluh?" Aku ternganga.
"Kenapa?"
"Kebanyakan, Mas...."
Reza tersenyum sementara si bapak tukang sate berlalu. "Tidak juga," sahutnya kemudian. "Aku dan Ihsan masing-masing dua porsi. Bunda satu porsi, Mbok Tin satu porsi. Kamu tiga porsi sama jatahnya anak-anak. Tanggunglah kalau beli sembilan. Jadi... kamu dapat bonus satu lagi. Asyik, kan?"
Wah... wah... wah... ada yang benar-benar hendak menghangatkan mesin.
Ckckck!
Dasar suami mesu*!
__ADS_1