
Sebelum naik ke lantai atas, aku mencuci wajah dan menggosok gigi di kamar mandi lantai bawah. Aku berharap sewaktu aku masuk ke kamar, Reza sudah tertidur dan aku tinggal naik ke ranjang. Tapi ternyata tidak, dia tidak ada di dalam kamar. Untuk sesaat aku bersyukur, kupikir aku lebih baik langsung meringkuk ke tempat tidur, dan langsung tidur. Kalau tidak bisa, aku ingin pura-pura tidur lagi. Lagi-lagi, aku berubah pikiran saat menyadari pintu beranda kamar tidak terkunci. Kupikir, Reza pasti ada di luar. Dan aku jadi tidak enak kalau aku langsung tidur, padahal tadi dia menungguku dan memintaku untuk cepat-cepat kembali ke kamar. Jadi ya sudahlah. Aku beranjak, turun dari ranjang dan membuka pintu.
"Mas, sudah malam. Ayo tidur."
Dia menoleh. "Sebentar lagi," sahutnya.
Aku mengangguk, dan hendak menutup kembali pintu itu, tapi...
"Sayang?"
"Emm?"
"Temani aku sebentar. Kumohon?"
"Em, oke," kataku seraya mengangguk.
__ADS_1
"Dingin, bawa selimut kalau kamu...."
Aku tahu maksudmu, Mas. Tanpa bantah atau mengucapkan penolakan apa pun, aku kembali ke tempat tidur, menarik selimut dan membawanya keluar. Aku duduk di sampingnya, kemudian menyelubungkan selimut itu ke tubuhku, dan pura-pura acuh pada Reza yang aku tahu -- dia ingin aku menyelubungkan selimut itu juga ke tubuhnya.
"Bintangnya indah, ya?" katanya.
"Ya," sahutku.
"Seperti dirimu, bintang terindah."
"Kamu tidak keberatan, kan, menemani aku?"
"Kalau aku keberatan, aku tidak di sini."
"Em, aku boleh ikut... selimutmu?"
__ADS_1
"Silakan," kataku.
Dan sumpah demi apa, mungkin bagi kalian yang pernah merasakan berada di posisiku saat ini, rasanya waw! Luar biasa tertekan. Serba salah. Bercerai sakit, bersama juga sakit. Mungkin sebagian orang-orang di luar sana bisa dengan gampang mengatakan: ya sudah, nikmati saja, jalani saja, atau ya sudah -- percaya saja pada suami. Atau opsi terakhir: ya sudah, cerai saja. Tapi sumpah, jika kau mengalaminya sendiri -- berada di posisi ini sangat sulit. Hati dan ego tak henti bertarung hebat di dalam benakku. Mau egois, tapi kasihan pada anak. Mau berbaikan, kasihan juga pada diri sendiri yang diombang-ambing ketidakjelasan. Aku ingin berteriak, tapi itu akan membuatku nampak seperti orang gila. Aku bisa lebih depresi.
"Boleh, kan, aku pegang tanganmu?"
Ya ampun, tanpa kusadari, tanganku sudah berada dalam genggamannya. Aku mengangguk. "Boleh," kataku. Aku menghela napas dalam-dalam. Apa iya aku harus melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Bunda dulu? Aku harus menjalani saja semuanya dan menelan semua rasa sakit di setiap detik yang kulalui?
"Sakit," cetusnya tiba-tiba.
Air mataku tak tertahan. "Sama," kataku. "Bahkan lebih dari yang kamu rasakan. Ada luka di dalam sini. Di tempat yang selalu sama. Perih, Mas. Ini benar-benar sakit."
Dia menatapku, sangat dalam. "Solusinya apa?" tanyanya. "Yang kulihat, kamu bahkan sepertinya menolak untuk memperbaiki hubungan kita. Kamu membatasi diri. Kamu menolak--"
"Bukan begitu. Aku... aku hanya tidak tahu...." Aku menggeleng dengan deraian air mata yang deras. "Kamu bukan perempuan. Kamu tidak akan mengerti keadaanku sepenuhnya. Ini... sulit dijelaskan, Mas. Aku dilema. Aku--"
__ADS_1