
Aku tidak suka dia tidak percaya padaku. Aku tidak suka dia menuduhku pura-pura. Dan aku tidak suka dia memaksakan diri padaku. Dan, kali ini tidak tahu kenapa, aku ingin menolaknya. Dengan sekuat tenaga, aku berusaha mendorong Reza meski aku tidak mampu.
"Please, tolong, aku tidak suka kamu begini. Jangan paksa aku. Jangan pernah memaksakan diri padaku! Tolong!"
Ya Tuhan, aku melengkingkan suaraku kepadanya.
Dan sama sepertiku yang bersikap tak seperti biasanya, kali ini Reza pun tak bersikap seperti biasanya: dia berhenti, dan melepaskanku dari genggamannya.
"Kamu bahkan tidak pernah menolakku mentah-mentah!" cetusnya, lalu ia berlalu.
Aku tidak tahu sejak kapan, tapi seketika kusadari -- aku menangis dan menatap punggung suamiku dengan nanar.
"Kenapa?" tanya ibuku begitu ia membuka pintu kamar dan menghampiriku di dalam kamar mandi yang terbuka. Keributanku dan Reza pasti terdengar dari luar.
Aku hanya menggeleng. Aku tahu aku diposisi yang salah karena menolak hasrat suami. Tapi mau bagaimana lagi? Aku benci dengan keadaan ini.
"Mbak? Kenapa?" tanya Raline.
__ADS_1
"Oh, kamu sudah sampai, Dek." Buru-buru kuseka air mataku. "Kamu bawa pesanan Mbak?"
"Ya," sahutnya. Dia segera merogoh tas, lalu mengeluarkan testpack dan memberikannya padaku. "Memangnya Mbak telat haid?"
"Ya, sudah dua minggu lebih," kataku sambil fokus membuka plastik testpack di tanganku. "Thanks, ya. Aku coba dulu. Bisa tolong...?"
Raline dan ibuku mengerti dan segera keluar, plus tak lupa menutupkan pintu untukku.
Dengan gemetar, seperti dulu pada kehamilan pertamaku, dan seolah ini kehamilan pertama, rasanya aku deg-degan. Entah kenapa aku merasa gugup saat mencelupkan ujung testpack-ku ke dalam cairan air seni itu hingga nyaris saja tercelup semua bagian ujungnya. Apalagi di saat detik-detik aku menunggu garis merah itu muncul, saking berdebarnya, aku seakan lupa bernapas.
Dan, beberapa detik kemudian...
Tok! Tok!
"Nak, bagaimana?" tanya ibuku dari luar pintu. Ia tak sabar ingin tahu.
Aku pun keluar. "Positif," kataku.
__ADS_1
"Alhamdulillah...," Raline dan ibuku berseru kompak. "Selamat, ya, Mbak...."
Aku menunduk lesu. "Aku tidak tahu mesti senang atau...."
"Sudah, sudah... Bunda dulu juga begitu sewaktu tahu hamil Ihsan. Kamu hanya kaget. Rileks, ya. Bunda senang."
Aku pun mengangguk. "Ya," kataku.
"Ayo, sana. Beritahu suamimu. Bunda yakin, Reza pasti sangat senang kalau dia tahu kamu hamil lagi. Pasti."
Aku tersenyum. Aku tahu itu. Bahkan baru kemarin dia mengajakku untuk memberi cucu lagi untuk ibuku. Eh, tidak tahunya ternyaya sudah jadi, janin itu sudah kembali dititipkan Tuhan di rahimku.
Sekali lagi, aku mengangguk dan segera berlalu. Dan ketika aku masuk ke dalam kamar -- suara gemericik air dari kamar mandi langsung terdengar.
Tok! Tok! Tok!
"Mas...," panggilku, "buka pin...."
__ADS_1
Pintunya tidak terkunci. Tanpa menunggu sahutan, aku pun membuka pintu dan mendapatinya berdiri di bawah pancuran air dengan posisi memunggungi pintu.
Ya Tuhan, kasihan sekali dia. Ini salahku. Aku telah membuat perasaan Reza hancur dengan penolakanku. Mestinya aku bisa mengajaknya bicara baik-baik. Mestinya aku bisa menjelaskan apa adanya tanpa harus membuatnya tersinggung. Sungguh, aku menyesal.