
"Mas... malu...," ujarku ketika Reza memelukku. Saat itu aku sedang mencuci piring kotor di wastafel, sementara di dekat kami ada ibuku yang entah sedang sibuk apa di depan lemari-lemari dapur.
Aku melirik sekilas. "Santai saja," katanya. "Kenapa mesti malu?"
"Tuh, Bundanya biasa saja," balas Reza, lalu ia berbisik, "Aku mau semesra dulu supaya kamu tidak meriang lagi."
Kugeleng-gelengkan kepala keheranan. "Sini, dengar. Kasih sayang darimu itu cukup, kok. Aku sama sekali tidak kekurangan kasih sayang. Jadi jangan merasa bersalah dan mendadak aneh begini. Aku malu juga dilihat Bunda."
"Sudah dibilang tidak apa-apa. Santai saja di depan Bunda. Bunda kan masih muda, jadi Bunda mengerti dengan kebutuhan kalian. Kalian mau ciuman di depan Bunda juga silakan. Janji deh, Bunda nggak bakalan baper."
Aku tahu. Ibuku memang tergolong ibu yang pola pikirnya jauh dari kata kolot. Tapi namanya juga anak, tetap saja aku risih mesti bermesra-mesraan di depan orang tua. Tapi boleh juga dicoba, pikirku. Sekali-kali praktik jahil, bagaimana ekspresinya?
"Yakin nggak bakal baper?"
"Iyalah. Cuma sebatas ciuman juga. Kalian mana berani lebih dari itu di depan Bunda."
"Jiaaah... nantangin ni ceritanya? Ayo, Mas, sini. Awas, lo, Bund, kalau baper tanggung sendiri," cerocosku.
Tapi...
__ADS_1
Euw... pengecut. Reza angkat tangan sambil geleng-geleng kepala dan menjauh. Dia duduk di kursi bar kami. "Aku tadi kan cuma peluk, Sayang. Masa mau ciuman di depan Bunda."
"Ah, cemen!"
"Haha! Kasihan," ledek ibuku.
"Aku tidak suka diremehin begini," rajukku. "Sini nggak."
Tetap saja Reza menolak.
"Aku ngambek, lo, Mas...! Sini...."
"Diam!" kataku begitu aku menghampiri Reza. "Aku mau menciummu dan kamu tidak boleh bergerak. Oke?"
Kaku! Ciuman tanpa respons, malah Reza langsung mengulu* bibirnya.
"Tidak asyik," kataku. "Yang dicium malah kagok!"
Yap! Cukuplah bermain kemesraannya. Toh, semua orang mendapatkan respons seperti yang mereka inginkan. Yang penting aku sudah turut menjaga keharmonisan di antara kami, kan?
__ADS_1
Lalu, tak lama berselang, bel pun berbunyi bersamaan dengan aku yang baru mendaratkan *okongku di sofa. Sewaktu aku mengikuti Reza membuka pintu, ternyata yang datang itu Erik dan empat orang tukang. Mereka membawa mobil pikap berisi semacam kayu dan teman-temannya yang entah apa saja, kemudian mengangkutnya ke halaman belakang melalui jalan samping.
Dan selama beberapa jam, apa yang tadi bertumpuk-tumpuk di dalam mobil pikap itu sudah disulap menjadi sebuah pondokan kecil di halaman belakang. Aku bisa membayangkan, betapa sejuknya pondokan itu tatkala nanti pohon-pohon di halaman belakang itu sudah bertambah tinggi dan lebih rimbun.
"Bagaimana? Suka?" tanya Reza.
"Ya, cantik," sahutku.
"Ini kupersembahkan untuk istriku tercinta."
"Ya ampun... aku suka, Mas. Terima kasih...," ucapku sambil membalas pelukannya.
"Permisi, Pak," sela Erik. Dia membawa matras, bantal juga selimut di tangannya. "Saya--"
"Biar saya saja," potong Reza. Dia mengambil alih matras itu dari tangan Erik lalu naik ke pondokan. "Kamu boleh pulang, Rik. Terima kasih, ya. Kerjamu bagus."
Erik mengangguk, menyunggingkan senyum penuh arti dan langsung berpamitan.
"Sini dong, Sayang, bantu aku."
__ADS_1
Hmm... dasar modus....