
Itu akan menghasilkan buah yang manis.
Itu -- kata ibuku pada pagi itu, dan aku berusaha memercayainya hingga sesiangan ini. Sama halnya dengan aku, Ihsan pun tak hentinya melamun hingga ibu kami merasa gusar melihat anak-anaknya berkutat dengan pikirannya masing-masing.
"Kamu kenapa?" tanyanya pada Ihsan. "Ada masalah? Hmm? Cerita pada Bunda."
Ihsan hanya mengedikkan bahu. "Nothing," sahutnya dengan satu kata.
"Jangan bohong... Bunda kan sudah seperti teman kalian sendiri. Jangan main rahasia-rahasiaan begitu."
Cengiran lebar akhirnya terbit di wajah Ihsan yang tampan. "Mau susu cokelat pakai es dong, Bund," pintanya.
"Manja!" ledekku. "Bikin sendiri."
"No, no, no, bikinan Bunda kan lebih enak."
"Alasan!"
Susu cokelat dingin pun tersaji dalam beberapa menit. Ya ampun, bahkan untukku juga. "Trims, Bunda. Baik sekali, sih... Nara jadi terharu...."
Euw... giliran Ihsan yang meledek, "Manja!" cetusnya.
"Iri bilang, Brother...."
"Nggak. Siapa juga yang iri?"
"Lagian kamu, kan bukan aku yang minta. Bunda sendiri yang mau bikinin susu untukku juga. Yang pasti ya karena sayang. Ya kan, Bund?"
Ibuku tersenyum. "Bunda tidak mau mendengar celotehan kalian yang tidak penting," ujarnya. "Jadi, kenapa? Apa yang membuat pikiranmu mengembara jauh?"
__ADS_1
"Aarin," kata Ihsan.
"Yeee... masih cinta? Hah?"
"Apa, sih...? Bukan begitu."
"Terus?" tanya ibuku setelah mendelik ke arahku.
Ihsan menggeleng. "Sabtu kemarin aku bertemu temanku, Joe. Polisi daerah sini. Emm... ya... untuk menyelesaikan masalah... ini."
"Tunggu, maksudnya bagaimana?" selidikku.
Ihsan berdeham. "Sori," katanya. "Aku... aku minta ke pihak kepolisian Bogor supaya mereka berkoordinasi dengan kepolisian Jakarta untuk mendalami kasus kemarin."
"Ya ampun, Ihsan, jangan...."
"Kenapa? Kamu takut terseret lagi?"
Sekali lagi Ihsan berdeham. "Begini," katanya, "Aarin itu patut dicurigai--"
"Tapi kan malam itu dia bersamamu."
"Aku tahu... mungkin memang bukan dia pelakunya. Tapi--"
"Tapi aku tidak mau soal pembunuhan itu diungkit-ungkit lagi."
"Tapi kan kemungkinan Aarin tahu siapa pelakunya. Melalui dia kita bisa menangkap--"
"Aku tidak mau dia tertangkap," potongku. "Please, ngerti, kan?"
__ADS_1
Ihsan menggeleng, sementara ibuku langsung menatapku penuh curiga. "Kenapa?" tanyanya. "Kamu sudah tahu siapa pelakunya?"
"Bukan begitu," sanggahku berbohong. "Dia sudah menolongku dari ancaman Salsya. Itu tidak bisa dipungkiri, dia yang menyelamatkan aku dan kandunganku pada malam itu, ya kan?"
Hmm... mereka menghela napas dalam-dalam. Aku tahu mereka merasa kesal terhadapku. Tapi aku sungguh tidak mau Kayla dipenjara. Aku masih memiliki keyakinan besar kalau Kayla adalah pelakunya, terlepas Aarin mengetahui hal itu atau tidak, terlepas kemungkinan -- apakah ada pihak lain yang menyaksikan kejadian pembunuhan pada malam itu?
"Ihsan, apa kamu sudah sebut nama Aarin di depan polisi?"
Dia mengangguk. "Baru di depan Joe," akunya. "Bahkan... kemarin kami membuntuti Aarin."
"Membuntuti?" tanya ibuku keheranan.
Sekali lagi Ihsan mengangguk. "Di hari kerja Aarin selalu di kantor, tidak ada hal yang mencurigakan. Hanya sewaktu weekend kemungkinan dia akan pergi entah ke mana. Dan... kami mengikuti dia kemarin."
"Lalu?" tanya ibuku lagi.
"Ada hasil?" tanyaku -- seakan meremehkan.
"Dia... ke tempat pemakaman."
"Hah?" aku agak tercengang.
"Ngapain?" timpal ibuku.
"Ke makam ibunya."
Aku dan ibuku bertukar pandang. "Terus? Ada hal lain yang kamu tahu?"
"Ya," sambung ibuku, "apa yang membuat pikiranmu jadi...."
__ADS_1
Ihsan menunduk sejenak, lalu mengangkat lagi wajahnya yang muram. "Dia adiknya Aruna."