Hot Couple: Cerita Cinta Inara Season 3

Hot Couple: Cerita Cinta Inara Season 3
My Lovely Mom


__ADS_3

Tidak tahu mesti bagaimana dan mesti percaya atau tidak dengan penuturan Reza, aku hanya bisa terdiam dan menghabiskan makananku. Pun Reza yang sudah mengosongkan isi piringnya lebih dulu. Setelah itu, buru-buru kubereskan meja makan dan membawa peralatan makan yang kotor itu ke wastafel. Sementara Reza masih duduk diam di kursinya. Aku yakin, dia terus memandangiku dalam diamnya, sebagaimana yang kudapati ketika aku berbalik setelah selesai menata peralatan makan itu ke raknya.


"Sini dulu," panggilnya.


Aku mendekat. "Ada apa?" tanyaku.


"Duduk sini," katanya seraya menepuk-nepuk pahanya. "Duduk di pangkuan Mas."


Hmm... ada perasaan aneh. Rasanya aku deg-degan. Tetapi... aku tetap mengikuti keinginannya. Aku duduk di paha yang dulu -- merupakan pangkuan ternyaman bagiku. Dan sekarang...


Sialnya masih. Dia tempat ternyaman -- pertama, dan mungkin terakhir dan selamanya.


Ayolah, Nara... ngapain deg-degan... kamu sudah punya dua anak, dan ingat -- tuduhan terhadapnya belum terbukti benar atau salah. Lupakan dulu tentang perasaan dan kenyamanan itu.


"Sayang?"

__ADS_1


"Emm?"


"Aku sayang padamu."


Aku juga sangat sayang padamu. Tapi aku tak ingin mengatakannya saat ini.


"Tidak apa-apa kalau kamu belum bisa percaya. Tidak apa-apa kalau kamu masih mau mendiamkan aku. Tapi janji, jangan pergi. Jangan tinggalkan aku sendiri. Ya? Aku tidak mau berpisah denganmu dan anak-anak. Kalau memang kita belum bisa berbaikan, minimal aku masih bisa melihatmu, masih bisa melihat anak-anak dan memeluk mereka. Janji, ya, jangan pergi? Jangan jadikan aku lelaki sebatang kara lagi."


Lagi. Untuk ke sekian kalinya air mataku menetes. Aku hanya bisa mengangguk dengan lidah yang kelu.


Aku berusaha menyunggingkan senyum, tapi tetap tidak bisa. "Aku... aku ke kamar dulu, mau jaga anak-anak. Kasihan Bunda, dia belum makan."


"Iya," kata Reza, lalu ia memelukku beberapa saat.


Setelahnya, aku pun berdiri dengan perasaan tak rela meninggalkan tempat ternyaman itu. Tapi aku harus beranjak dari sana.

__ADS_1


"Sebelum tidur, tolong pastikan semua pintu terkunci, ya. Aku... aku duluan... ke atas."


Aku segera pergi, tanpa menoleh. Sementara di hati bertanya-tanya, kapan cobaan ini akan berakhir? Aku sudah lelah.


"Sudah makannya?" tanya ibuku sewaktu aku masuk ke dalam kamar.


Aku mengangguk, lalu menghempaskan tubuh ke tempat tidur, persis di sampingnya. "Bunda belum makan? Makan, gih. Setelah itu istirahat. Bunda pasti sudah capek, kan?"


"Oke. Tapi... kamu janji dulu, kamu juga istirahat. Jangan ajak suamimu bertengkar. Jangan usir dia dari kamar. Dan jangan menolak kalau dia ingin bersikap mesra."


Duuuh... kalian suka sekali memintaku berjanji. Kuanggukkan kepala dan mengiyakan permintaan ibuku.


"Ingat, Sayang," katanya, dia membelai-belai rambutku, "ayahmu dulu meninggalkan kita, dan tak sekali pun dia datang ke rumah untuk... minimal membicarakan tentang keluarga kita. Boro-boro dia minta rujuk dan bersedia meninggalkan istri-istri sirinya, tidak pernah. Bahkan kalian darah dagingnya pun tak pernah ia pedulikan. Itulah kenapa Bunda tidak bisa memaafkan ayahmu. Tapi nasibmu berbeda, Sayang. Suamimu masih di sini, masih mempertahankan kalian. Jadi tolong, kamu bertahan di sisinya, pertahankan rumah tanggamu. Kecuali, kalau suamimu terbukti mengkhianati pernikahan kalian, Bunda tidak akan pernah menghalangi kalau kamu ingin bercerai. Bahkan Bunda akan berdiri paling depan untuk mendukung keputusanmu. Ya, Sayang, ya?"


Aku bangkit, duduk menghadapnya. Kupeluk tubuh yang mulai menua itu dengan hangat. "Nara janji, Nara akan bersikap baik dan tidak akan menuntut cerai selagi tidak ada bukti nyata tentang pengkhianatan Mas Reza. Terima kasih, ya, Bund, untuk semua nasihat Bunda dan kesabaran Bunda selama ini. Nara beruntung punya sosok ibu seperti Bunda. I love you so much."

__ADS_1


__ADS_2