Hot Couple: Cerita Cinta Inara Season 3

Hot Couple: Cerita Cinta Inara Season 3
Baikan, Ya?


__ADS_3

Ihsan keluar dari ruang rawatku ketika aku hendak menyusui kedua bayiku, diikuti bibiku yang harus kembali ke ruangannya, dia sedang dinas malam waktu itu.


"Nak, kalian ribut?" tanya ibuku yang benar-benar peka terhadap situasi di antara kami.


Yeah, wajar. Sewaktu aku terkapar di lantai menahan sakit, aku berteriak memanggil ibuku, bukan memanggil suami yang meninggalkan aku di kamar hanya karena egonya yang begitu ingin mempertahankan bayi mendiang mantan kekasihnya. Dalam pikiranku, Reza seolah tidak rela mengetahui ada seorang ayah yang mengakui Aulian sebagai anak kandungnya. Padahal, seharusnya dia senang karena anak itu masih punya keluarga kandung. Tapi kenapa dia seakan takut kehilangan?


Huh!


Reza menggeleng, sementara aku menyahut, "Hanya masalah kecil, Bund," kataku.


Saat itu ibuku langsung menatap ke arah Reza yang mencoba menutupi perdebatan di antara kami. Kemudian ia mengalihkan tatapannya ke arahku lagi. "Apa masalahnya? Kamu baru selesai lahiran. Tingkat kesetresan itu bisa memengaruhi ASI, lo, Sayang."


Aku mengangguk. "Nara tahu. Tapi yang perlu Bunda nasihati itu menantu Bunda."


"Kenapa? Apa masalahnya?"

__ADS_1


Reza tidak menyahut kendati tatapan ibuku menusuk ke dalam dirinya. Dia hanya mengangguk, lalu sesaat kemudian berkata, "Aku akan menuruti keinginanmu."


Aku diam, bahkan tidak bergeming sama sekali. Karena rasanya ucapan Reza terdengar terpaksa dan tidak tulus sama sekali.


Lalu, dengan inisiatifnya, ia berdiri dan mencium keningku. "Aku janji," katanya, kali ini terdengar lebih tulus.


"Walaupun Bunda tidak tahu kalian ribut karena apa, tapi Bunda mau kalian berbaikan. Kasihan pada anak-anak, ya kan?"


Aku mengangguk, lalu menoleh ke Reza. "Janji? Kamu benar-benar mau menyerahkan Aulian pada Nicholas. Iya, kan?"


"Iya, Sayang. Aku janji."


"Em, aku yang harusnya bilang terima kasih, kamu sudah memberikanku dua orang anak. Kamu sudah mempertaruhkan nyawamu untuk melahirkan mereka. Terima kasih, Sayang."


Kali ini aku tersenyum lembut padanya, terlebih suaranya terdengar parau. "Sama-sama, Mas. Jadi, nama mereka? Siapa nama lengkapnya?"

__ADS_1


Reza terdiam sebentar, merenung. "Nama sederhana saja," jawabnya. "Angga Pratama Putra Dinata, dan Anggi Dwi Putri Dinata."


"Aku setuju, walau tidak sesederhana yang kamu bilang, berat tahu sampai empat suku kata begitu. Tapi, okelah."


Reza terkekeh. "Tidak apa-apa. Istilah keberatan bawa nama kan cuma tahayul," katanya seraya menatap dua jagoan kecilnya. "Mereka berdua penerus Dinata yang baru. Darahku." Kemudian ia menggenggam tanganku . "Sekali lagi terima kasih. Aku sudah punya keluarga yang utuh."


Oh, Mas....


Mata Reza berkaca, tapi tak sempat menetes, dia sudah menyeka air matanya lebih dulu.


"Sudah baikan?" tanya ibuku, dia sibuk dengan perabot-perabot kotor yang hendak ia bawa pulang. "Kalau sudah, Bunda mau pulang dulu, bawa ini," katanya. "Besok Bunda ke sini lagi. Jaga cucu-cucu Bunda, ya. Kalian jangan bertengkar lagi. Bisa dengarkan Bunda?"


Aku dan Reza menyahut kompak, "Iya, Bunda...."


Huh! Dia cerewet, tapi itulah caranya menunjukkan rasa sayangnya pada kami, anak-anaknya.

__ADS_1


Setelah hanya tinggal aku dan Reza di dalam kamar, dengan dua bayi kembar kami, Reza menggumam pelan, "Mereka lucu sekali." Lalu ia mencondongkan wajah. Bukannya mencium bayinya, ia malah menciumku dengan mesra.


Manis sekali. Praktis, senyum bahagia pun mengembang sempurna di wajahku malam ini. Aku bahagia.


__ADS_2