Hot Couple: Cerita Cinta Inara Season 3

Hot Couple: Cerita Cinta Inara Season 3
Sekali Lagi!


__ADS_3

"Terima kasih. Aku sangat senang karena kamu kembali menjadi Nara-ku seperti sediakala," ucap Reza seraya memelukku lebih erat. Kami berdua masih terselubung selimut, masih bersantai ria di dalam pondok kecil itu.


Aku menahan tawa. "Terima kasih, ya, sudah mengajakku pacaran. Sering-sering. Aku suka."


"Asyik, ya. Kita seperti ABG," kata Reza.


Hah! Aku terbahak. "Iya, rasanya lucu. Konyol. Kamu kan sudah tua. Sudah tiga puluh tahun. Bisa-bisanya mengajakku pacaran begini."


"Ya, apa pun untukmu, Sayang. Jadi ABG tua pun aku bersedia. Aku rela demi kamu."


Kamu memang sangat mencintaiku, Mas. Terima kasih. "Setelah ini kita mandi bareng, yuk? Aku mau lanjut dimanjain kamu. Ya?"


"Oke. Kalau begitu sekarang saja, mau?"


Aku mengangguk setuju. Kukenakan kembali dressku tanpa *alaman, dan Reza hanya mengenakan kembali celana pendeknya. Setelah merapikan kembali bantal dan selimut, kami pun keluar dan turun dari pondok. Sambil menenteng sisa pakaian yang tak lagi kami kenakan, kami bergandengan tangan, masuk ke rumah dan segera menaiki tangga secepat kilat, kemudian langsung menuju kamar mandi dan saling melepaskan pakaian dari tubuh masing-masing.


"Well, kurasa kita masih punya waktu," kataku seraya menyambar tubuh suamiku, mendorongnya dengan lembut dan menyandarkan tubuh kekarnya itu ke dinding, lalu aku berbisik, "Lagi, please... one more...."


Reza menggeleng-gelengkan kepala sambil tertawa riang. Dia bukan menolak, justru sebaliknya -- dia kesenangan. "Siapa takut. Let's do it, Baby."

__ADS_1


Aku menciumnya, dan dia membalas ciumanku sepanas ciumanku terhadapnya. Dengan perlahan, kaki kami melangkah ke bathtub, dan dengan bibir yang terus bertaut, Reza mengulurkan tangan menggapai keran dan memutarnya, dan byuuur... air mulai mengisi bathtub. Kemudian, kami pun melangkah masuk dan mulai berendam.


"Mau memimpin?"


Aku menggeleng. "Itu bukan keahlianku."


"Oke, sini," katanya menyuruhku duduk di atas pahanya. "Mau di awali dengan?"


Jawabannya muncul dalam bentuk sabun. "Manjakan aku dulu, sepertinya itu lebih asyik."


"Siap, Nyonya."


"Enak, Mas...," *esahku. Aku tersengal dan mengeran* hebat dibuatnya. Dia mengisa* kuat leherku sambil memijat bagian dadaku. Sungguh, itu bagaikan terapi yang luar biasa membangkitkan gairah.


Lalu, dia bergeser sedikit ke samping, dan tanpa kusangka-sangka, jarinya menyelip masuk. "Boleh?"


Aku langsung menggeleng tak berkenan. "Maaf, aku... aku tidak suka."


Dia mengangguk. "Oke, maaf, ya?"

__ADS_1


"Aku yang minta maaf, Mas. Tapi aku... aku merasa dilecehkan kalau kamu seperti itu. Tapi kamu jangan tersinggung, ya? Aku tidak bermaksud--"


Dia menggeleng. "Tidak, kok," potongnya. "Justru aku senang kalau kamu bisa terbuka. Bilang kalau tidak suka. Bilang kalau tidak nyaman. Dengan begitu aku tahu dan bisa semakin memahamimu."


Jleb! Serasa disindir terhadap hal lain. "Ya, Mas," sahutku.


"Sekarang, kamu nyamannya bagaimana?"


Well, aku beringsut, memunggunginya sambil bertopang dengan lutut dan kedua telapak tangan, lalu menoleh. "Dari belakang saja, ya. Yuk, sekarang?"


"Oke." Dia pun masuk.


"Uuuh...."


"Enak?"


"Enaklah. Kan sama suami tersayang."


Hah! Aku terbahak-bahak. Kami sudah lama tidak seperti ini, seperti sedang bermain-main. Bercanda halal ala suami istri. Dan, sungguh, rasanya aku bahagia dan semakin cinta kepadanya.

__ADS_1


__ADS_2