Hot Couple: Cerita Cinta Inara Season 3

Hot Couple: Cerita Cinta Inara Season 3
Sisa-Sisa Emosi


__ADS_3

Suara musik menghentak keras di area kolam renang. Reza dan Ihsan sedang berolahraga di seberang sana, di depan deretan kursi malas yang saat itu mereka dempetkan ke dinding tembok pagar. Senang sekali rasanya melihat dua saudara ipar itu sekarang sangat akur. Aku yakin, sikap Ihsan itu dikarenakan ia patuh pada nasihat ibuku dan tentu karena rasa sayangnya padaku dan kedua anakku. Tapi sayang, di saat bersamaan suara tangisan Anggi memaksaku untuk beranjak dari pemandangan yang indah dan menentramkan itu. Padahal aku baru saja keluar dari kamar anak-anakku. Aku baru saja menyusui Angga, dan Anggi masih tertidur pulas saat aku keluar dari kamar. Yap, namanya juga anak, merekalah juaranya. Dan aku mesti hengkang dari tempatku berdiri walau tubuh sixpack suamiku memanjakan mata saat aku diam-diam memandanginya. Dia sangat seksi.


"Well, Anggi. Mama datang, Sayang...."


Silent time selama hampir setengah jam, karena si bayi -- setelah bibir mungilnya menempel padaku, ia kembali diam dan matanya kembali terpejam kendati mulutnya terus menyusu, dan tahu-tahu aku ikut mengantuk dibuatnya.


Setengah jam pun berlalu, suara hentakan musik tak terdengar lagi. Tidak lama kemudian, pintu kamar itu terbuka dan tubuh sixpack suamiku terpajang di ambang pintu, sangat memesona, ditambah lagi senyuman hangatnya seketika mengembang bersamaan. "Ada apa?" tanyaku. "Kenapa senyum-senyum begitu?"


"Nothing, hanya ingin memenuhi panggilan seseorang yang diam-diam memandangi tubuhku."


Hah! Dia berpose sok maco dan memamerkan otot-ototnya yang menyembul, dan... jujur saja menggairahkan.


Sudahlah, hari masih pagi dan belum bisa dikategorikan menjelang siang. Aku tidak ingin menanggapi Reza, aku lebih memilih menaruh kembali Anggi ke boksnya. Tetapi...


Deg!


Tahu-tahu Reza masuk dan menutup pintu. "Mau apa?" tanyaku -- padahal aku mengerti betul apa tujuannya.


"You know what," ujarnya sambil memamerkan barisan giginya yang putih, lalu ia langsung menyergap tubuhku, merapatkan dan menghimpitku ke dinding, kemudian ia mendekapku erat-erat, "aku punya suplemen baru."

__ADS_1


Ya ampun, dia sudah bergairah. Dan dalam kelebat bersamaan, aku teringat romantisme kami yang dulu-dulu, betapa sering dia bersikap semanis itu padaku. Tetapi...


"Uwek!"


"Kenapa?"


"Kamu bau, Mas. Asem...."


"Seperti tidak terbiasa saja kamu."


"Tidak tahu, tapi lepas dulu. Sumpah, bau sekali...."


"Kamu sakit?"


Aku menggeleng.


"Terus, ini?"


"Aku tidak tahu, Mas...."

__ADS_1


"Kamu tidak apa-apa, kan?"


"Dibilang tidak tahu... yang jelas aku mual. Kamu bau. Jauhan dong...."


Reza menatapku dengan curiga. "Kamu... apa ini cuma alasan? Kamu mau menghindari aku lagi?"


"Ya ampun, apa-apaan sih, Mas? Bukan begitu...."


Tapi dia tidak percaya. Dia langsung memutar keran dan menarikku ke bawah siraman air. "Sekarang tidak ada alasan. Tidak bau lagi, kan? Tolong, jangan begini lagi," katanya.


"Kamu mengira aku pura-pura? Iya?"


"Kamu memang selalu begitu!" tukasnya agak keras.


"Ok, fine! Tapi aku sedang tidak pura-pura! Jangan menuduh--"


"Buktikan! Buktikan kalau kamu tidak menghindari aku! Sini!"


Reza mendekapku. Meluma* bibirku dengan keras lalu mengisa* leherku dengan kuat sementara tangannya menarik paksa pakaianku hingga robek.

__ADS_1


Sumpah! Aku tidak suka!


__ADS_2