Hot Couple: Cerita Cinta Inara Season 3

Hot Couple: Cerita Cinta Inara Season 3
Coba Dulu?


__ADS_3

"Alasan utama Bunda memberikan kesempatan kedua pada pernikahan kami yang sudah rapuh itu -- adalah demi kamu. Keadaan Bunda saat itu berbeda dengan kamu. Yang pertama dan utama bukan lagi cinta dan perasaan, tapi anak. Semuanya demi kamu. Bisa dibilang, waktu itu Bunda sudah tidak cinta. Sudah hancur lebur, kandas semua perasaan Bunda. Tapi sebagai istri yang masih mau mengikat hubungan, Bunda masih melayani hasrat ayahmu, sampai akhirnya Bunda mengandung Ihsan. Seperti yang Bunda bilang tadi, itu masa paling dilema dalam hidup Bunda -- menjalani rumah tangga dengan setengah hati. Di satu sisi Bunda mencoba memercayai ayahmu, di sisi lain Bunda menahan diri untuk tidak lagi memakai perasaan supaya tidak sakit hati lagi untuk kedua kali. Bunda -- menata sekaligus waspada. Kamu mengerti maksud Bunda?"


Aku mengernyit. "Kurang paham, maksudnya waspada -- kewaspadaan yang bagaimana?"


"Bunda selalu menaruh rasa curiga pada ayahmu. Jadi... setiap kali ayahmu pulang, Bunda selalu mengecek tas kerja dan dompetnya. Dan naasnya, Bunda menemukan bukti kalau ayahmu masih berhubungan dengan Yanti di belakang Bunda. Sandra Wijayanti itu pedagang pakaian. Dia memesan pakaian dari Jakarta, dikirim ke Palembang, dan dari Palembang baru dioper ke Sekayu. Ayahmu ceroboh, dia menyimpan bukti pengiriman itu di dalam tasnya. Dan akhirnya ketahuan oleh Bunda kalau mereka masih saling berhubungan."


Ini yang kutakutkan, saat berusaha memperbaiki, ternyata dibohongi -- lagi dan lagi.

__ADS_1


Sekali lagi, ia menghela napas dalam-dalam. "Kalau saja waktu itu Bunda tidak dalam keadaan hamil, Bunda sudah memilih bercerai saat itu juga. Saat itu... nenekmu marah besar. Dia marah dengan keputusan Bunda yang kembali berbaikan walau itu demi kamu, bahkan... dia menilai Bunda bodoh sampai Bunda hamil lagi. Sakit sekali, Nak. Dia seperti juga menyalahkan janin di dalam kandungan Bunda. Yeah, tapi Bunda mengerti kalau itu hanya kata-kata luapan emosi. Toh, nenekmu sayang pada Ihsan, meski...."


"Apa, Bund?"


Ada sesuatu lagi, pikirku.


"Awalnya dia seakan tidak mau menerima Ihsan. Melihat bayi laki-laki itu, mengingatkan nenekmu pada sosok ayahmu yang berengsek. Kamu tahulah, ibu mana yang menerima anaknya dikhianati? Sakitnya seorang istri tidak seberapa dibandingkan sakitnya perasaan seorang ibu ketika anaknya disakiti oleh orang lain. Tapi lama-kelamaan, nenekmu mau menerima kehadiran Ihsan. Dia sayang pada Ihsan, satu-satunya cucu laki-lakinya pada saat itu. Zaim, Zain, Rafasya dan Randika waktu itu belum ada."

__ADS_1


"Kembali lagi pada ayahmu. Setelah kedapatan bukti mereka masih saling berhubungan, ayahmu masih mengelak. Katanya itu dia hanya membantu temannya, itu temannya yang mestinya mengirim paketan itu ke Sekayu, sebab istri temannya itu reseller-nya Yanti. Tapi karena waktu itu ia sibuk, dia minta tolong pada ayahmu untuk mengirimkan paketan itu. Ribetlah pokoknya. Sampai temannya pun ikut membohongi Bunda dan mengklarifikasi dengan cerita yang sama. Oke, sekali lagi -- demi kamu dan demi janin di dalam kandungan Bunda, terlebih kami belum bisa bercerai karena Bunda sedang mengandung, Bunda coba lagi merajut kepercayaan."


Ada lagi. Pasti.


Berjeda sedikit, ibuku haus dan mereguk air mineral sejenak. Lalu...


"Beberapa bulan berikutnya, sewaktu kehamilan Bunda sudah sangat besar, ayahmu ketahuan lagi kalau dia masih menyimpan nomor ponsel Yanti dengan huruf Z. Kontak paling terakhir di ponselnya. Padahal Bunda hafal nomor ponsel Yanti. Saat itu, Bunda pura-pura tanya itu nomor siapa, kamu tahu dia bilang apa? Tidak usah tanya-tanya katanya. Setelah itu, Bunda tidak diperbolehkan lagi memegang ponselnya. Dan kali terakhir, ayahmu ketahuan menyimpan foto si perempuan itu. Tapi kali ini berbeda, sama sekali tidak sakit lagi. Mungkin itulah kenapa, sewaktu dia pergi dari rumah setelah Ihsan lahir, Bunda sudah tidak peduli lagi padanya. Ikhlas, Bunda memilih menjadi seorang janda dan membesarkan kalian berdua tanpa dia. Jadi, meskipun terkesan bodoh sampai berkali-kali mencoba bertahan demi anak, Bunda tetap melakukannya, meski akhirnya tetap berpisah. Tapi setidaknya Bunda pernah mencobanya -- demi anak. Terutama demi kamu, Bunda rela mengalami kepahitan itu berkali-kali. Bunda ingin kamu juga seperti itu, demi Angga dan Anggi. Coba dulu."

__ADS_1


Tapi itu sebuah perjuangan bodoh, Bund. Kalau akhirnya rumah tangga ini kandas juga, kan sia-sia....


"Tidak ada yang tahu apa yang terjadi di depan sana, Sayang. Hanya Tuhan-lah yang tahu. Tapi sebagai seorang ibu, cobalah untuk tidak egois."


__ADS_2