Hot Couple: Cerita Cinta Inara Season 3

Hot Couple: Cerita Cinta Inara Season 3
Kepergian Dinda


__ADS_3

Bug!


Mayra tersungkur ke lantai setelah menerima dorongan keras dari seorang wanita parubaya, wajahnya basah oleh air mata. Reza dan aku saat itu baru selesai makan siang dan kembali ke UGD. Melihat itu, Reza langsung berlari menghampiri dan membantu Mayra berdiri. Tirta yang menangis pun langsung menghampiri dan memeluk Mayra.


"Sabar, Tant," kata Reza.


Wanita parubaya itu justru menatap Reza dengan amarah. "Kamu jangan ikut campur! Ini urusan keluarga kami."


"Sudah, Ma!" seorang lelaki parubaya menegur wanita itu. "Jangan ribut, ini rumah sakit," katanya.


Tanpa menanggapi kedua orang itu, Reza meminta Mayra untuk pergi sejenak dari sana, dan memintaku untuk menemani Mayra.


"Aku mau di sini, Za. Aku mau menunggui Mas Alfi."


Aku mendekat, kuraih Mayra ke dalam dekapanku dan mengajaknya pergi dari sana, tapi ia tetap enggan. "Kita pergi dulu, May...."

__ADS_1


"Tapi--"


Tap Tap Tap!


Langkah kaki bergemuruh. Situasi tegang terjadi. Dokter berlari masuk ke ruang di mana Dinda terbaring dengan berbagai selang di mulut. Sementara dua orang -- perempuan dan lelaki parubaya keluar dari ruangan itu sambil menangis. Kondisi Dinda kritis. Ada sebuah selang kateter mencuat dari *elangkangnya dan masker oksigen serabutan di hidung, kabel-kabel berwarna-warni: hitam, biru, hijau, kuning, dan putih berjuntai di dadanya. Di pojok kamar, sebuah layar monitor berlatar hitam dengan garis grafik warna hijau turun-naik, merayap, berkedip meninggalkan suara bip-bip memanjang.


Bip-bip-bip-biiip-biiiiip. Berhenti sejenak. Lalu, biiip-biiip. Berhenti lagi. Berhenti. Tidak bunyi lagi. Diam.


Seorang dokter menyampaikan sesuatu setelah mematikan layar monitor, paramedis yang lain melepas kabel-kabel dan selang dari tubuh Dinda.


Kedua wanita parubaya dan seorang lelaki parubaya itu menangis histeris di depan Dinda yang terbaring -- sudah tak bernyawa.


Tanpa perlu bertanya, aku tahu kedua orang yang tadi keluar dari ruangan itu adalah kedua orang tua Dinda, dan wanita yang tadi mendorong Mayra, kutebak -- dia pasti ibunya Alfi, dan lelaki di sampingnya itu pasti ayahnya Alfi. Semuanya menangis histeris. Setelah beberapa menit, mereka pun keluar.


"Puas kamu? Kamu senang, kan, menantuku meninggal?"

__ADS_1


Ya Tuhan... ingin sekali rasanya aku menampar mulut ibunya Alfi. Bisa-bisanya dia memarahi Mayra yang sama sekali tidak bersalah dalam hal ini. Tubuh Dinda bahkan baru di pindahkan ke ruang jenazah.


Kalau saja dia ibu mertuaku, uh... sudah kusumpal mulutnya dengan lap bekas. Heran... aku, kok Mayra diam saja? Mau-maunya dia ditindas mertua galak dan egois seperti itu.


Aku ingat, saat itu aku terpancing emosi dan mataku hampir melotot, aku ingin balas marah kepadanya karena memarahi Mayra, tapi Reza melihatku dan mengerjapkan pelan matanya ke arahku dengan sedikit anggukan. Aku tahu itu artinya dia memintaku supaya aku menjaga emosiku. Lagipula, itu bukan ranahku. Aku hanya orang luar. Tapi tetap saja, hatiku dongkol melihat ibu mertua yang seperti mak lampir itu.


"Sayang, ajak Mayra pergi dulu."


Aku mengangguk. "Ya, Mas," kataku.


Lalu Reza duduk, berjongkok lutut di depan anak kecil itu. "Tirta ikut Mama, ya. Jangan menangis, anak laki-laki harus kuat. Harus bisa jaga Mama. Oke, Jagoan?"


Sembari sesenggukan, Tirta mengusap air matanya. "Ya, Oom. Oom jagain Papa, ya?"


"Siap, laksanakan. Oom Reza akan jaga di sini. Sana, Tirta ikut Mama dan Tante Nara."

__ADS_1


__ADS_2