
"Boleh Nara tahu kelanjutan cerita tadi, Bund?" tanyaku pada ibuku setelah masakannya nangkring di atas kompor.
Ibuku tertegun. Tapi aku berhasil membujuknya agar ia mau menceritakan kisah yang belum kuketahui itu. Dia mengangguk, lalu katanya, "Bunda geram. Bunda bilang pada Yanti, kalau dia tidak memberikan bukti valid, Bunda akan datangi dia, Bunda akan telanjangi dia dan akan mengaraknya keliling kota Sekayu. Tidak susah bagi Bunda untuk menemukan dia di sana, sebab kita punya banyak keluarga yang tinggal di sana. Dia takut sampai akhirnya dia menghubungi ayahmu. Waktu itu ayahmu sudah pergi dari rumah. Kata ayahmu, Bunda jangan ke mana-mana, dia akan pulang dan menyelesaikan semuanya. Setelah dia pulang... dia malah mengikuti kemauan Bunda, bersumpah di bawah Al-Qur'an atas nama semua perempuan yang sedarah dengannya -- mereka juga akan mengalami nasib buruk dan rasa sakit yang sama seandainya dia berdusta dan membohongi Bunda. Bunda bilang kecuali kamu, tapi ayahmu...."
"Dia menyertakan nama Nara dalam sumpahnya?"
Ibuku mengangguk, dengan deraian air mata yang sudah menetes sedari tadi. "Maafkan Bunda, Nak. Bunda tidak bermaksud ingin mencelakai atau menyumpahi siapa pun. Tidak sama sekali. Bunda hanya ingin menilai kejujuran ayahmu. Dan berharap, dia tidak akan berani bersumpah atau bahkan jujur kalau dia memang bersalah. Tapi...."
__ADS_1
Sesak rasanya. Berarti dia memang tidak sayang padaku. Hanya demi menutupi kebohongannya, agar perselingkuhannya dengan Sandra Wijayanti tidak terbongkar, dia berani bersumpah dengan dusta. Menyertakan namaku, pula. "Bagaimana dengan yang lain, Bund?"
Ibuku menggeleng seraya mengusap air matanya. "Beberapa bulan setelah sumpah itu, di tahun yang sama. Kakak perempuannya dinikahi siri oleh seorang lelaki tanpa sepengetahuan dia dan ayahnya. Maksud Bunda, tanpa sepengetahuan ayahmu dan kakekmu. Dia bilang dia bekerja di Tangerang, tapi ternyata dia dijadikan babu oleh keluarga lelaki itu, mereka ada di Palembang. Lalu... suaminya kembali rujuk dengan mantan istrinya. Ayahmu pusing. Tidak lama berselang, adik perempuannya dikabarkan hamil, sudah masuk enam bulan baru ada itikad baik dari pacarnya. Itu berarti dia digauli pacarnya tidak lama dari waktu ayahmu bersumpah. Mendengar kekacauan dua putrinya, ibu ayahmu jatuh sakit. Sudah harus menahan malu, dia juga dipusingkan dengan urusan keluarganya. Mungkin bagi orang lain, itu cuma kebetulan, tapi tidak bagi Bunda. Itu merupakan bukti nyata karena ayahmu berani bermain-main dengan sumpah palsu. Dia tidak takut pada Tuhan dan parahnya itu berarti dia melecehkan Al-Qur'an. Awalnya Bunda pikir karena dia berani bersumpah, bahkan menyertakan nama anak kandungnya, itu berarti ayahmu jujur. Tapi ternyata... lelaki sialan itu bahkan rela menumbalkan anak kandungnya demi menutupi kebejatannya. Dia...."
Isakan tangis mengganjal di tenggorokan. Sakitku sama besarnya seperti yang dirasakan oleh ibuku.
Sekali lagi ia menggeleng. "Tidak ada. Setelah Bunda dan ayahmu berpisah, semuanya malah semakin terbongkar. Bunda merasa memang tidak pantas lega di atas penderitaan orang lain. Tapi... rasa-rasanya... itu balasan yang setimpal untuk ayahmu. Dua tahun setelah bepisah, Bunda mendengar cerita yang lebih lengkap kalau kakak perempuannya sudah memilih bercerai karena tidak tahan diduakan, plus diperlakukan seperti babu. Nah, dari situ cerita berulang. Ayah dari ayahmu, laki-laki yang seharusnya kamu panggil kakek itu, untuk kedua kalinya menolak cucu yang terlahir dari putri pertamanya. Lagi-lagi dia bilang tidak usah pulang kalau anak itu tidak dibuang. Tapi kali ini ayahmu tidak menurut, sebab itu... dia menikahi Rhea, dan menitipkan kakak perempuannya dan keponakannya di rumah Rhea. Dia menduakan Yanti. Sementara itu... adik perempuannya, yang dinikahi lelaki tak bertanggung jawab itu, dengan alasan merantau, adik perempuan ayahmu dan anaknya, Aska, ditinggal di kampung. Sementara lelaki itu merantau ke Bangka, dan... di sana dia menjalin cinta dengan perempuan lain."
__ADS_1
"Dan sekarang giliran Nara yang menerima tulah dari sumpah palsu itu?"
Helaan napas ibuku sangat dalam. Aku tahu -- hati di dalam sana pasti sakit karena dicubit-cubit oleh masa lalu. "Bunda berharap itu tidak berlaku untukmu, Nak. Bunda berharap suamimu jujur sejujur-jujurnya. Bunda merasa bersalah kalau kamu harus jadi korban juga dari masa lalu Bunda dan ayahmu."
Entah sejak kapan, Reza berdiri di tangga. Dengan mata berkaca ia turun dan bersimpuh di kaki ibuku. "Demi Tuhan, Bund. Reza tidak pernah dan tidak akan pernah melakukan itu. Sampai detik ini, Reza setia pada Nara. Pernikahan itu tidak pernah terjadi. Reza tidak pernah menikahi Salsya ataupun perempuan lain. Demi Tuhan. Reza hormat pada Bunda seperti Reza hormat pada ibu kandung Reza. Reza minta maaf karena Reza seringkali tidak tega pada Salsya dan menyakiti hati Nara. Tapi sumpah, Reza tidak pernah menikahi Salsya. Tolong percaya pada Reza, Bund. Please...?"
Tuhan... apa dia benar-benar jujur? Bagaimana cara membuktikannya, Tuhan? Apa yang harus kulakukan untuk menghapus keraguanku? Aku harus bagaimana?
__ADS_1