Hot Couple: Cerita Cinta Inara Season 3

Hot Couple: Cerita Cinta Inara Season 3
Melepasmu Lagi


__ADS_3

Efek getaran dari ponselku membangunkan aku pada keesokan paginya. Itu telepon dari Reza.


Klik!


"Ada apa, Mas?" tanyaku dengan suara khas orang mengantuk.


"Salat subuh berjamaah, yuk? Mumpung masih ada waktu."


"Hmm... Mas...," responsku hendak menolak. "Kenapa, sih, kamu--"


"Aku mohon, ya. Kutunggu di ruang salat. Love you, Sayang."


Sambungan telepon langsung terputus. Aku pun beringsut turun dari ranjang, berwudu dan memakai mukena, lalu keluar dari kamar dan melangkahkan kaki ke ruang salat. Dengan perasaan berdebar aneh aku membuka pintu dan mendapati suamiku sudah siap dengan baju koko, sarung, peci, dan sajadahnya. Dia juga sudah menyiapkan sajadah untukku di belakangnya. Kemudian ia tersenyum padaku hingga membuat perasaanku semakin galau. Aku tahu, hatinya gusar dan rasa pesimis tengah merundungnya dengan hebat.


Setelah salat, ia langsung memanjatkan doa dalam hati. Meski aku tidak bisa mendengarnya, tapi aku tahu dan aku yakin kami memanjatkan doa yang sama. Kemudian setelah itu, aku hendak beringsut lebih dekat untuk mencium tangannya, tapi ia menolak. "Tetap jaga jarak," katanya, "aku kan masih wajib isolasi."


Aku pun mengangguk. "Kamu kenapa?" tanyaku.


"Tidak tahu," katanya. "Tapi aku pesimis. Rasanya kecil kemungkinan aku akan mendapatkan sesuatu di Bogor. Tapi aku akan tetap pergi. Berdiam diri malah lebih tidak ada gunanya, kan?"


Aku tahu, kemungkinan kamu tidak akan mendapatkan apa-pun di Bogor. Tapi aku ingin kamu memperjuangkan aku sekali lagi. Memperjuangkan kepercayaanku.


"Sayang, terima kasih sudah bersedia berjamaah denganku. Terima kasih juga karena semalam kamu mau menemaniku menonton tv. Dan... terima kasih sudah menyelimutiku semalam."


Kutelan ludah getir dan mencoba tersenyum. "Kamu menontonku, bukan menonton tayangan di tv."


"Ya, terima kasih sudah mengizinkan." Dia balas tersenyum.

__ADS_1


"Lain kali tidur di kamar, jangan di sofa. Banyak nyamuk."


"Aku memakai losion anti nyamuk, kok. Lagipula aku tidak mau tidur di kamar lain, selain...."


"Em, terserah kamu saja. Aku... aku juga berterima kasih kamu sudah mengajakku salat bareng."


Dia mengangguk, lalu hening sesaat. "Aku mau berangkat sekarang. Aku sudah--"


"Sudah sarapan?"


"Belum." Ia menggeleng. "Nanti mampir--"


"Aku buatkan nasi goreng, ya?"


"Kamu...."


Ya ampun, sulit sekali untuk menahan genangan air mata. Mata Reza juga sama berkacanya denganku. "Terima kasih," katanya.


Aku berdiri, melepaskan mukenaku dan menggantungkannya ke dinding. Cepat-cepat aku ke dapur dan membuatkan nasi goreng untuknya. Sementara Reza berganti pakaian. Dia sudah mengepak beberapa setel pakaian untuk ia bawa.


"Tunggu, ya. Sebentar lagi," kataku sewaktu ia menghampiriku di dapur. "Duduk saja dulu."


Kali ini ia tersenyum manis, lalu dengan santai ia duduk di meja bar kami. "Ini kopi untukku?"


"Ya, supaya kamu tidak mengantuk. Dan...."


"Apa?"

__ADS_1


"Supaya kamu semangat. Aku akan menilai usaha dan perjuanganmu. Perjuangkan aku seperti dulu, juga untuk anak-anak. Jangan buat mereka mengalami nasib yang sama sepertiku."


"Aku tahu, hatimu masih percaya padaku," katanya. "Tapi... kenapa kamu tidak meyakinkan dirimu sendiri kalau hatimu berkata benar? Buat segalanya menjadi mudah, Sayang. Kita bisa terus bersama dan anak-anak tidak akan menjadi korban."


Tek! Seporsi nasi goreng terhidang di hadapannya.


"Selamat makan."


"Sayang...."


"Rasa percaya itu memang ada, tapi keraguanku jauh lebih besar. Memang, benar hatiku percaya. Tapi ia juga menuntut pembuktian. Jadi, please... jangan berusaha menegoku."


Reza pun mengangguk dengan terpaksa. "Oke," katanya.


"Silakan makan. Biar kutemani."


Dan...


Menit-menit pun berlalu, saatnya bagi Reza untuk berangkat.


"Titip pelukan sayang untuk anak-anak. Aku ingin menemui mereka, tapi mereka masih tidur. Sedangkan... kamu tidak mengizinkan aku masuk ke kamar."


Maaf kalau aku egois. "Kebersihan dan kesehatan mereka lebih penting, kan? Kalau kamu cepat membuktikan kebenaran itu, kamu akan cepat bisa memeluk mereka lagi. Dan... memelukku juga."


Ya Tuhan... ia hanya menganggukkan kepala sambil menahan air mata. "Aku pergi dulu, ya."


Sesak. Lagi-lagi aku harus melepasnya pergi. Tapi aku tidak tahan hanya dengan melihatnya, bahkan mencium tangannya saja tidak bisa. Akhirnya aku nekat, aku menghampirinya ke mobil -- berdiri di sampingnya yang terhalang kaca. Tanpa sadar, aku mengangkat tanganku, menempelkannya di kaca -- seolah aku bisa menembusnya dan menyentuh wajah suamiku. Tapi itu mustahil. Pun Reza, ia hanya bisa balas menempelkan tangannya. Tangan kami menempel, tapi tak menyatu. Tak bisa saling menyentuh.

__ADS_1


"Cium aku," gumamku dalam bisikan, lalu perlahan bibir kami saling mendekat, bertemu dan menempel -- pada kaca mobil. Miris. Sakit sekali, Tuhan.


__ADS_2