Hot Couple: Cerita Cinta Inara Season 3

Hot Couple: Cerita Cinta Inara Season 3
Dia, Nicholas.


__ADS_3

Apakah ini lagi-lagi hanya sebuah kebetulan?


Ketika aku menanyakan pada ayahku apa dia tahu di mana alamat Nicholas, ayahku mengiyakan. Beberapa hari lalu, tepatnya setelah ia menemuiku di rumah sakit, Rizki mengajak ayahku bertandang ke rumah Nicholas. Mereka sengaja ke sana untuk mengunjungi Nicholas yang mengalami kecelakaan lalu lintas beberapa minggu lalu. Ia mengalami cidera cukup parah karena kecelakaan itu.


Sewaktu aku dan ayahku datang, lelaki yang berprofesi sebagai pengacara dan tinggal seorang diri itu kebetulan sedang duduk santai di teras rumahnya. Aku ingat betul kesan pertama sewaktu kami bertatap muka, dia menatapku dari atas ke bawah sebagaimana aku menatapnya dari atas ke bawah. Bedanya, aku menatapnya karena kondisinya yang memprihatinkan. Sebelah kakinya dipasang gips dan ia berjalan dengan bantuan tongkat. Dan aku bisa menebak, apa yang ia lihat dari diriku: wanita muda dalam keadaan hamil besar bersama seorang lelaki yang usianya hampir enam puluh tahun dan dikenal sebagai tukang kawin. Berani taruhan, dia pasti mengira bahwa aku merupakan istri ke empat si pria yang sedang berkunjung ke rumahnya itu.


"Anak saya, Inara Satria," kata ayahku memperkenalkan aku pada lelaki bernama Nicholas itu.


Praktis, mulut lelaki itu membulat O sempurna. "Nicholas," katanya seraya menjulurkan tangan kanannya tanpa banyak bergerak, sebab ia menjepit pangkal tongkatnya di bawah ketiak.

__ADS_1


"Saya istrinya Reza Dinata," kataku. Dan itu kontan membuat mata Nicholas ikut membulat -- seolah dunia berhenti sejenak baginya yang terlongo. Aku pun berdeham. "Boleh kami duduk?" tanyaku. Kakiku bisa keram kalau aku terlalu lama berdiri dengan perut besarku.


Dia mengangguk spontan. "Silakan katanya." Sementara ia sendiri masih berdiri dan berkata, "Sebentar, saya ambilkan minum dulu."


"Tidak usah," sergahku -- datar. "Maaf, kami tidak ingin merepotkan."


Menurutku, jika di rumah itu ada asisten rumah tangga, sudah tentu Nicholas tinggal memanggilnya dari luar, ia tidak perlu repot-repot masuk ke rumahnya, sebab itu aku mencegahnya, tidak enak merepotkannya harus mengambilkan minum dan membawa-bawa nampan sementara ia sendiri sudah kerepotan dengan kakinya yang masih terpasang gips dan berjalan dengan bantuan tongkat.


"Saya sempat bertemu Kayla sebelum saya datang ke sini," kataku, memulai obrolan. "Tadi... Kayla menceritakan tentang Anda kepada saya. Apa benar... Anda... yang menghamili Salsya?" Mataku spontan terpejam sejenak. "Maaf, maksud saya... apa benar Anda adalah ayah kandung Aulian?"

__ADS_1


Huft....


Sungguh, aku salah bicara. Aku tidak melakukan itu dengan sengaja sehingga membuat suasana menjadi lebih tegang karena obrolan sensitif itu. Tapi... toh Nicholas mengangguk, dia mengakui kalau Aulian -- kemungkinan -- adalah anak kandungnya.


Kau tahu, di dalam hatiku aku sangat marah. Sebab, ini seperti kisah berulang meski dengan cerita yang tak sama. Tapi kelakuan Nicholas itu yang membantu Salsya dan mengambil keuntungan darinya -- mau tak mau mengingatkan aku pada masa lalu ayahku, saat di mana ayahku menjadikan Rhea sebagai wanita simpanannya dan ia berselingkuh di belakang ibuku -- selepas ia membantu wanita jalan* itu bercerai dari suaminya dulu. Yeah, ini kisah dalam situasi yang sama, meski dalam kemasan cerita yang berbeda, dan di era yang berbeda.


Ingin sekali aku berteriak, "Woi, para pengaca hidung belang! Klien kalian yang baru bercerai itu, mereka bukanlah mangsa! Jangan mengambil kesempatan dalam kesempitan, Berengsek!"


Tapi nyatanya hal itu sudah menjadi rahasia umum, bukan?

__ADS_1


Bahkan ini merupakan salah satu contoh dari kisah nyata. Ayahku sendiri yang melakukan hal itu, dia yang hidung belang, Rhea yang jalan*, aku dan ibuku yang menjadi korban, pun Ihsan, bayi malang usia empat bulan juga tega ia tinggalkan: TANPA NAFKAH.


Kejam, bukan?


__ADS_2