
"Kekhawatiran Bunda lebih besar dari itu," katanya. "Ada banyak faktor perceraian dan perselingkuhan yang tidak semua orang bisa melawannya. Maaf, maaf sekali kalau Bunda terkesan ikut campur terlalu dalam. Bunda khawatir dengan keras kepalamu, Nak. Lelaki ada batas sabarnya. Lelaki ada batas di mana dia tidak mampu menahan...."
Aku menggeleng. "Nara paham," kataku. "Bunda sudah pernah menasihati Nara tentang ini."
"Lalu? Kenapa masih begitu?"
Sulit. Aku paham tentang obrolan ini, tapi tidak dengan Reza. Ibuku seperti hendak menasihati kami berdua soal urusan ranjang. Tapi takut tidak etis membicarakan itu dengan menantu lelakinya. Kecuali jika mertua lelaki yang membahas soal ini dengan menantu lelakinya, itu masih wajar. Tapi ayahku tak bisa berperan sebagai ayah mertua yang bisa diandalkan. Dia bahkan hanya bisa merecoki keluarga kami. Dia tidak bisa memahami kalau dia semestinya cukup berperan sebagai ayah untukku. Itu saja, tanpa harus banyak cingcong terhadap orang-orang dalamku yang lainnya.
"Ehm, Nara... tidak perlu dibahas, ya. Pokoknya Nara akan barusaha untuk menjadi istri yang... selalu melayani suami. Semuanya. Dalam hal apa pun."
Yeah, akhirnya Reza mengerti. Dia mengangguk dengan sedikit senyum tersungging di sudut bibirnya. "Reza tidak apa-apa, kok, Bund. Dan Reza janji, Reza akan selalu membentengi diri dari godaan di luar sana. Ee...."
"Pokoknya yang Bunda khawatirkan itu akan Nara atasi dengan baik. Sebaik-baiknya," potongku.
Ibuku mengangguk. "Obrolan kita ini nyambung, kan?"
"Iya, Bunda... pokoknya jangan khawatir. Nara akan buat Mas Reza nyaman dan tidak kesepian lagi. Nah, sudah terang-terangan, kan?"
__ADS_1
Ah, kan aku jadi malu. Ditambah Reza mengusap-usap kepalaku sambil cengengesan.
Tetapi...
Kukira semuanya sudah usai. Kukira bisa selempeng itu. Tapi ternyata aku salah.
"Kamu kenapa?" tanyaku pada Reza yang malam itu mendadak diam saat kami hanya berduaan.
Dia menggeleng. "Aku mau minta maaf," katanya.
Praktis, dahiku seketika mengernyit. "Mau minta maaf apa lagi?" tanyaku.
Aku paham. Aku mengerti dengan apa yang ia rasakan. "Mas...."
"Tidak apa-apa. Kamu boleh tetap dengan keputusanmu kemarin. Setelah tiga bulan--"
Aku menggeleng cepat. "Aku tidak akan melayangkan gugatan cerai. Dan soal pernikahan ulang, aku menghargai keputusanmu. Terus... soal nafkah lahir batin, aku... aku mengizinkan... kalau kamu...."
__ADS_1
"Aku tahu hatimu belum siap. Sungguh, aku tidak akan mempermasalahkan soal itu." Dia mengangguk-angguk pelan. "Jangan khawatir. Aku tidak akan mencari kenyamanan di tempat lain, apalagi mencari pelampiasan. Aku hanya akan menunggumu. Istri yang halal bagiku, yang halal untuk kusentuh."
Ya Tuhan... kasihan sekali dia. Mestinya, dia berpuasa dari hasrat hanya selama empat puluh hari. Tapi karena keraguanku, sudah dua setengah bulan dia tak mendapatkan haknya. Egois sekali aku.
"Terima kasih atas pengertianmu. Omong-omong, emm... apa kamu...?"
Dia berdiri. "Sayang, aku... aku keluar sebentar, ya."
"Mau ke mana?"
"Mengambil ponsel. Ketinggalan di...."
"Oke. Jangan lama-lama, ya."
"Emm?"
"Oh, ee... kamu tidur di sini, kan?"
__ADS_1
Dia mengangguk -- seakan ragu. "Ya," katanya. Dan ia pun langsung keluar. Lalu...