Hot Couple: Cerita Cinta Inara Season 3

Hot Couple: Cerita Cinta Inara Season 3
Kembali Mesra


__ADS_3

Lagi malas bercanda. Aku memilih untuk tidak menanggapinya. "Terserah kamu saja," kataku. "Paling-paling besok kamu sarapan sate."


"Apa pun itu asal sarapan bareng kamu."


"Ish! Gombal terus...."


"Demi membuat hatimu senang, apa pun akan kulakukan."


Hah! Kan... kan... dia mulai lagi....


Reza nyengir lebar. "Jadi, setelah ini kita mau ke mana?" tanyanya.


Aku berpikir sejenak, tapi pada dasarnya aku tidak kepingin ke mana-mana. "Langsung pulang saja," kataku. "Aku takut anak-anak kebangun."


"Ya ampun, Sayang. Mereka baru pulas. Paling tidak dua jam mereka baru lapar lagi. Bisalah kita mutar-mutar ke mana dulu gitu."


Kugelengkan lagi kepalaku sebagai penolakan yang hakiki. "Untuk apa kalau hati tidak nyaman? Aku tidak mau jauh-jauh dari anakku."


"Ya sudah, oke. Nanti kita langsung pulang."


"Terima kasih sudah pengertian. Jangan ngambek, ya."

__ADS_1


"Yeee... siapa yang ngambek?" sahutnya. "Eh, tapi ya, ding. Aku ngambek dan butuh bujukan. Bagaimana?"


Hah! Dasar suami mesu*!


Benar-benar, ya, dia. Kalau nggak gombal, ya mesu*. Suamiku... suamiku. Tapi aku cinta.


"Well, akan kutunjukkan cara terbaik. Sini, lebih dekat padaku."


Uuuh... kami berciuman dengan panas, bermain lidah, saling mengulu* dan saling meluma*. Kemudian...


"No, no, no. Jangan!" Reza langsung menarik diri begitu tanganku mengusap area pahanya.


Aku pun terbahak-bahak. "Katanya minta dibujuk? Hmm? Ayo, mau menghangatkan mesin, kan?"


"Aku tahu mesin yang kamu maksud," bisikku dengan nada super *ensual. "Dan aku... aku siap menghangatkannya. Please... I will give you more."


Tanpa penolakan, bibir kami kembali bertaut. Gairah Reza seketika membara dan tangannya turut menjelajahi lekuk tubuhku. "Ya Tuhan, Sayang...," napasnya terengah. "Sumpah demi apa pun, kamu membuatku bergairah."


"O ya? Mau yang lebih?"


Tapi Reza menggeleng. "Nanti saja, tunggu kita pulang," ujarnya.

__ADS_1


Well, kami lanjut bermesraan: hanya menghangatkan mesin, meraung tanpa menancap pedal gas.


Tok! Tok! Tok!


Ketukan di kaca menjedah hasrat yang menggelora. Aroma khas sate padang panas menguar begitu kaca jendela itu diturunkan.


"Tolong taruh di kursi belakang, ya, Pak," pintanya sementara ia membuka dompet dan mengeluarkan sejumlah uang. Dan tak lupa ucapan terima kasih ia haturkan setelah membayar sate yang segera kami bawa pulang.


Kemudian, sesampainya di rumah -- sewaktu Reza turun dari mobil untuk membuka pagar, aku pun mulai beraksi. Kuturunkan sandaran kursiku hingga maksimal, sambil bersandar, kuangkat kakiku ke atas dashboard hingga gaun tidurku meluncur dan mengekspose seluruh bagian pahaku.


"Uh...." Reza mengulum senyum mendapati aku berpose cantik dan seseksi itu.


Praktis, aku mengerling nakal. "Sinyal bersambut?"


Dia melirik, tapi tidak menyahut. Ada senyuman hangat yang tak bisa meredup. Ia pun cepat-cepat memarkirkan mobil ke dalam garasi dan segera mematikan mesin mobil. "Menggairahkan," gumamnya. Ia segera melepaskan pakaiannya, beringsut ke sisiku, melepaskan pakaianku, dan...


"Ah, sempit...! Kurasa kita perlu pindah ke belakang. Bagaimana?"


Dia mengangguk, dan langsung pindah ke kursi belakang -- disusul olehku.


"Hadiah ulang tahunmu yang terlewat."

__ADS_1


Reza langsung tersenyum lebar begitu aku turun, menggenggamnya dengan jemariku dan mulai melolipop dirinya dengan rakus.


"Sssssh...," dia mendesis-desis, lalu mengeran* tak tertahankkan. "Sudah, Sayang. Aku... ukh! Aku mau masuk, please... eummm...! Ya ampun, Sayaaaaang... ukh!"


__ADS_2