Hot Couple: Cerita Cinta Inara Season 3

Hot Couple: Cerita Cinta Inara Season 3
Begitu Berat


__ADS_3

"Mas, ganti pakaianmu. Setelah itu kita harus makan siang. Paling tidak kamu harus mengisi perut, ya?"


Dia mengangguk, lalu menoleh ke belakang. "Maaf, ya."


Aku pun balas mengangguk. "Yang penting kamu jangan lalai dengan dirimu sendiri. Peranmu sangat dibutuhkan. Tidak hanya di sini, tapi juga aku, di sisiku dan anak-anak kita."


Sekali lagi, Reza mengangguk dan sedikit lebih tenang. "Ya, Sayang," katanya. Desaha* berat lagi-lagi lolos dari bibirnya. Kemudian ia mengelus perutku. "Kalian baik-baik saja? Perutmu bagaimana? Masih sakit, tidak?"


Aku menggeleng kendati sebenarnya tubuhku sangat lelah. "Ayo, ganti pakaian dulu. Nanti kamu masuk angin."

__ADS_1


Tanpa suara, Reza pun turut pindah ke belakang dan melepaskan pakaiannya yang basah, dan mengenakan pakaian gantinya.


Kami sempat berpelukan cukup lama sebelum keluar dari mobil. Bahkan Reza sempat mendaratkan satu ciuman hangat di keningku.


"Kamu kuat," kataku. "Kamu bisa diandalkan oleh semua orang."


Dia merema* tanganku cukup kuat. "Aku takut," katanya. "Aku mengkhawatirkan Alfi. Keadaannya sangat parah. Tadi kakinya terjepit. Aku...."


Lagi-lagi desaha* berat lolos dari bibirnya. "Ya, Sayang. Aku bisa. Terima kasih atas dukunganmu, terima kasih sudah menguatkan aku."

__ADS_1


"Em, kita keluar, ya. Kita ke kantin. Kasihan, anak-anak kita kelaparan."


Dia mengelus perutku. "Maafkan Papa, ya, Nak. Kalian lapar, ya? Ayo, kita makan dulu."


Kami keluar, pertama-pertama ke bagian administrasi rumah sakit dulu sebentar, di saat bersamaan, Reza menghubungi para bodyguard sewaannya untuk menunggui Alfi, Dinda, dan anak-anaknya. Setelah itu kami langsung menuju kantin rumah sakit. Selera tidak selera, harus makan. Karena kami sehat dan hidup -- bukan hanya untuk diri sendiri. Tapi untuk semua orang, dan untuk menghadapi semua keadaan.


Reza tetap menunduk dalam diam. Dia mengunyah dengan ogah-ogahan. Perutnya yang sedari tadi kosong seolah mendadak terasa penuh, aku pun merasakan hal yang sama. Sup ayam yang terhidang sedikit pun tak terasa lezat. Padahal kami berdua sangat suka sup. Tapi apa pun itu, aku mesti makan, aku mesti menghabiskan makananku, demi anak-anak di dalam kandunganku. Sementara Reza, dia hanya menghabiskan setengah porsi sup ayam miliknya. Tak apa, yang penting ia makan, setidaknya ada sedikit makanan yang masuk ke perutnya.


Dalam diam dan kebisuan, Reza menyeruput cappucino yang kini sudah tak benar-benar panas dalam genggaman tangannya hingga tuntas di antara hingar bingar suara guyuran hujan yang jatuh di atas kanopi kantin rumah sakit. Suara hujan yang jatuh berdentang-dentang membentuk simfoni genderang yang bertalu-talu.

__ADS_1


Huh... semua ini benar-benar melelahkan fisik, hati, juga pikiran. Aku biasanya suka hujan, bahkan aku memiliki kenangan manis tentang hujan. Reza dan aku, kami pernah menari bersama di bawah rintik airnya, yang harusnya dingin tapi kala itu justru menghangatkan. Tapi sekarang... rintik hujan bagaikan jarum-jarum tipis yang menembus ke hati semua orang. Ini sangat menyakitkan.


Kau menguji kami begitu berat, Tuhan.


__ADS_2