Hot Couple: Cerita Cinta Inara Season 3

Hot Couple: Cerita Cinta Inara Season 3
Korban Masa Lalu


__ADS_3

"Aruna?"


Ya Tuhan, fakta macam apa lagi ini?


"Em," gumam Ihsan.


"Almarhumah Aruna Dinata?"


"Dinata?" ibuku ikut tercengang.


"Ya. Mereka saudari seibu. Sejak bayi, Aruna ditinggalkan ibu kandungnya pada ayahnya. Sedangkan Aarin, dia anak mendiang Bu Maharani dengan suami keduanya."


Kugelengkan kepala dengan lemah. Rasanya aku tidak percaya dengan kabar yang mengejutkan ini. "Dari mana kamu tahu? Maksudku... apa informasi ini benar?"

__ADS_1


Ihsan mengangguk. "Aku dan Joe sudah mengecek data di kantor TPU-nya. Makam itu atas nama Maharani Ali Khan, sedangkan data pihak keluarga yang tercantum itu atas nama Aarin. Waktu kutanya ke Mas Reza -- apa dia mengenal nama di makam itu, Mas Reza bilang kalau itu nama ibu dari mendiang Aruna. Sesuai dengan nama yang dulu tertera di kartu keluarga mereka."


"Oke," kataku tak sabar. "Terus, apa lagi yang kamu tahu?"


Ihsan mereguk susu cokelatnya banyak-banyak. "Rileks," katanya, "jangan tegang begitu."


"Somplak! Kamu sendiri yang bikin suasana tegang, Bambang...."


"Menyedihkan," gumamku. "Apa itu yang membuat Aarin menaruh dendam?"


Ihsan mengangguk, lalu menggeleng. "Entahlah, bisa jadi iya," kata Ihsan. "Kalau berdasarkan kronologisnya, Aarin waktu itu masih bayi. Tapi ibunya baru meninggal dua tahun yang lalu, sih."


Ya Tuhan... hatiku meringis. "Lalu Aarin, bagaimana nasibnya sewaktu ibunya lumpuh? Siapa yang membesarkannya?"

__ADS_1


"Ibunya sendiri. Kedua tangannya masih berfungsi dengan baik. Sedangkan ayahnya... Aarin pernah bilang, dia ditinggalkan ayahnya sewaktu dia masih bayi. Mungkin karena ibunya lumpuh. Bisa jadi, kan? Dan setahu Mas Reza, semasa ayahnya masih hidup dulu, dia yang membantu keuangan mereka. Mas Reza dan ibunya juga baru tahu hal itu setelah mengurus soal rekening setelah ayahnya meninggal. Mereka tidak tahu perihal ibunya Aruna setelah kecelakaan itu. Apalagi soal Aarin."


Aku paham. Sebagai anak perempuan yang tahu betapa sulitnya kehidupan tanpa sosok ayah, aku tahu kemarahan yang Aarin rasakan. Aku mengerti sakit hati yang ia pendam sendiri.


"Tapi Reza tidak bersalah dalam hal ini. Saat itu dia masih kecil, baru sepuluh tahun. Dia pasti belum mengerti apa yang terjadi waktu itu. Iya, kan?"


Aku dan Ihsan mengangguk, kami sependapat dengan ibuku. "Tapi Mas Reza satu-satunya keluarga Dinata yang tersisa, dan sekarang ada aku dan anak-anakku. Mungkin itu sebabnya Aarin juga membenciku."


Dan itu membuat Ihsan merasa bersalah. "Maaf," ucapnya. "Ini salahku. Aku yang membawa Aarin masuk ke lingkungan keluarga kita."


"Sudahlah, sudah takdirnya. Yang penting, itu... hati di dalam situ tu... kuat, kan? Haha!"


Ihsan berlagak sakit. Dia memegangi dada dan pura-pura sesak. "Sakit, Bund," candanya. "Tolong carikan Ihsan jodoh yang persis seperti Bunda."

__ADS_1


__ADS_2