
Sementara menunggui Reza selesai mandi, lekas-lekas aku menyiapkan pakaian ganti untuknya. Dalam kondisi ini aku mengerti sepenuhnya, Alfi bagaikan satu-satunya sosok saudara kandung yang Reza miliki di dunia ini. Pikirannya kacau, dia sedang dalam masa kekalutan yang maksimal, sebab itu kuingatkan selalu diriku untuk menjalankan peranku dengan baik.
"Terima kasih, Sayang," katanya begitu ia keluar dari kamar mandi dan mengambil pakaiannya yang kuletakkan di tempat tidur. Sajadah untuk ia salat pun sudah kubentangkan. Dia langsung berpakaian.
Aku pun mengangguk. "Kamu salat duluan. Aku mandi dulu."
Reza mengangguk, dengan segera aku langsung masuk ke kamar mandi. Dan semua seakan mulai berjalan dengan normal. Tetapi tidak, itu hanya sekadar harapan. Harapan kosong belaka. Karena pada akhirnya -- sesuatu yang di luar dugaan terjadi. Seseorang menelepon Reza pada jam tiga kurang sepuluh menit. Aku tahu persis jam berapa saat itu, sebab tepat sebelum telepon berdering, aku tengah mengambil mukenaku, mengejar waktu zuhur di ujung waktu. Aku melihat ke jam dinding untuk mengecek apa aku masih sempat salat zuhur.
Reza mengangkat telepon, tetapi membawanya ke luar kamar untuk berbicara di luar sana. Aku tidak mendengar dia bicara pada orang yang menelepon itu.
__ADS_1
Kala itu hujan turun dengan derasnya. Angin berembus kencang, mengempas-empas tembok dan jendela rumah. Petir menyalak di langit yang kelam, menggelegar.
Pesawat telepon itu masih dalam genggamannya waktu dia kembali ke kamar, persis sewaktu aku merapikan kembali mukenaku dan melipat sajadah. Suasana di antara kami berdua sunyi senyap sementara aku menunggu Reza membuka suara. Tetapi kata-kata tidak diperlukan. Aku tahu ada berita buruk yang akan dia katakan, cukup dengan melihat ekspresi wajahnya, aku mengerti.
Dalam suara sangat pelan, paling pelan yang pernah kudengar dari mulut Reza, dia berkata, "Alfi... emm... Erik bilang, kalau dokter...."
Reza berjalan dan memandang ke luar jendela, memunggungiku. Sekitar setengah menit kemudian, masih sambil memunggungiku, dia berkata, "Alfi harus diamputasi. Kaki... kaki kirinya...."
Seandainya aku sejak tadi berdiri, maka kata amputasi itu seketika membuatku jatuh terjerembab seolah aku yang telah kehilangan satu kakiku.
__ADS_1
Reza membalik badan, wajahnya hampa, kelabu seperti semen, dan waktu dia membuka mulutnya untuk berbicara, tidak ada suara yang keluar. Dia berdiri saja di sana dengan mulut ternganga, seperti sedang menunggu dokter gigi membersihkan plak di gigi-giginya. Kemudian dia menaruh ponselnya -- melemparnya dengan pelan ke atas tempat tidur, lalu masuk ke kamar mandi dan menutup pintu.
Dia menangis lagi.
Kurasa kini mulutku terbuka, turut menganga. Ingin kukatakan, "Kalau memang itu satu-satunya cara untuk menyelamatkan Alfi. Mau bagaimana lagi?"
Tetapi lidahku kelu. Aku tidak bisa berkata apa-apa. Ingin rasanya aku berdiri, menghampirinya dan memintanya membuka pintu itu. Tapi aku hanya bisa membeku, terlongo-longo sendirian dengan mulut terkunci. Napasku terasa sesak menyumbat batang tenggorokanku. Untuk sesaat rasanya detak jantungku berhenti.
Warna langit yang kelabu pun perlahan melindap menjadi suram. Aku tahu, senja tak akan merekah. Hujan menutupi warna jingga senja dengan warna kelam. Kini langit berwarna jelaga, hitam, disertai hujan yang tak terjeda, dan suara petir yang sesekali memekik, menambah kepiluan.
__ADS_1