
Aku meletakkan kertas kado, selotip, cutter, gunting, dan pita di atas meja. Hadiah ulang tahun untuk ibuku harus segera dibungkus. Tahun lalu aku tidak memberikan apa-apa untuknya karena posisi kami berada di kampung dan dalam kondisi darurat covid.
Aku bergegas membungkus setelan hijab yang kupesankan pada Mayra beberapa minggu lalu untuknya. Dua bulan lalu, saat kami melihat model-model pakaian hijab menjelang lebaran, ia mengajukan model itu, tapi karena waktu itu produknya sudah sold out, apa boleh buat. Untung saja Mayra menyanggupi untuk membuatkan setelan model yang sama persis yang diinginkan ibuku. Jadinya aku bisa menyiapkan setelan itu sebagai kado ulang tahun untuknya.
Setelah membungkus kotak berisi setelan hijab itu dengan kertas kado bergambar hati, aku menempatkannya di kursi plastik sebelah meja, di dalam kamarnya. Ibuku saat itu tengah menggendong Anggi di halaman belakang. Setelah itu, aku pun cepat-cepat keluar dan menyusul ke halaman belakang.
"Anggi sudah tidur?" tanyaku. Tangan kananku memegang kenop pintu.
Ibuku menoleh ke arahku dan mengangguk.
Aku tersenyum lebar. Anak itu cukup rewel dan maunya digendong-gendong terus di saat siang begini.
"Kamu istirahat saja," kata ibuku. Dia sangat maklum padaku yang kurang tidur karena malam hari aku harus sering bangun ketika anakku menangis minta susu. Aku pun menurut. Tapi sebelumnya...
__ADS_1
Aku mencondongkan tubuh untuk memeluknya yang sedang duduk di kursi teras. Hatiku terasa hangat, betapa aku beruntung memiliki sosok ibu sepertinya, yang tidak pernah meninggalkan aku dan Ihsan. Aku pun mengecup pipinya. Setelah itu, aku menatap ibuku dan berkata, "Selamat ulang tahun. Nara sayang Bunda."
Ia menatapku sambil tersenyum lebar dan mengangguk. "Terima kasih, ya, Sayang. Kamu selalu ingat ulang tahun Bunda dan selalu ingin jadi yang pertama mengucapkan."
Hah! Saking pertamanya, ulang tahun ibuku itu besok, tapi aku selalu mengucapkannya H-1. Besok tinggal acara makan-makan bersama dan menunggu Ihsan datang ke Bogor.
"Sudah, sana. Istirahat. Nanti keburu anak-anakmu bangun dan minta mimi lagi."
Aku nyengir. Baiknya nenek mereka. Aku pun lekas-lekas beranjak dan kembali masuk ke dalam rumah untuk istirahat. Tetapi...
Tunggu. "Kenapa kamu cengar-cengir?"
Reza bangkit, dan berjalan mendekatiku, lalu memelukku. "I need you," bisiknya.
__ADS_1
Iyuuuh... aku terkikik. Duuuh... kasihan juga suamiku itu. Tiga minggu berlalu dan dia belum mendapatkan service kedua. Aku tersenyum lalu balas memeluknya. "Butuh apa?" godaku.
Dia melonggarkan pelukan dan menatapku dengan mata berkilat nakal. "Jangan pura-pura tidak mengerti...," rengeknya manja. Lucu sekali.
Aku tertawa lalu menggandeng tangannya masuk ke kamar mandi. "Nah, sekarang bilang dulu, kamu butuh apa?"
"Sayaaaaang...."
"Bilang saja. Apa?"
"Kehangatan dan keterampilanmu," sahutnya gemas.
Well, hayuklah. Kulakukan itu untuknya. Satu yang kupelajari dalam masa sekarang ini, berdasarkan pengalaman masa lalu kedua orang tuaku yang kelam, aku tak boleh menjadikan semua lelahku pasca lahiran dan masa nifasku sebagai alasan untuk membuat suamiku berpuasa lama. Karena sejatinya akulah yang berpuasa, bukan dia. Dan...
__ADS_1
Tidak ada alasan baginya untuk mencari kehangatan di tempat lain. Lelahku tak berarti apa-apa. Aku masih dan akan selalu sanggup menyenangkannya. Aku, sosok istri, anak, dan ibu yang tangguh.