
POV Cantik:
Namaku Cantik Jelita, tapi wajahku tak secantik namaku, kehidupanku pun tak seindah namaku.
Aku terlahir sebagai anak bungsu dari 3 bersaudara, semua kakak ku laki-laki, aku bagai anak emas Dimata ayahku, mereka selalu memanjakan ku, apapun yg aku mau selalu aku dapatkan, walaupun harus mengorbankan keinginan ke 2 kakak ku..
Karena itu, kakakku menganggap ayah pilih kasih kepadaku, Ayah selalu beralasan karena aku anak perempuan, jadi selalu aku yg di utamakan oleh ayah.
Sejak kecil aku selalu di olok-olok oleh saudaraku ataupun teman temanku, Namaku Cantik Jelita tapi Wajah dan penampilanku bagaikan itik buruk rupa.
Jika bisa aku ingin mengganti namaku dengan nama lain yg lebih wajar, aku benci kenapa ayah memberiku nama itu, Cantik Jelita nama yg sungguh menyakiti perasaan ku. nama yg sungguh membuatku di asingkan oleh semua orang, dihujat, dipermalukan, termasuk oleh kakak ku sendiri..
Seharusnya jika seorang adik di rundung oleh orang lain , ada kakaknya yg akan membela mati-matian , walaupun adiknya salah, tapi tidak dengan ku, walaupun aku benar aku selalu salah di mata kakakku, sepertinya kakakku membenci ku, terutama kakak pertama ku. usianya hanya berjarak 4 tahun dariku, namanya kak Dewa Yudistira,, sedangkan kakak keduaku Rama Mahendra, dia 2 tahun lebih tua dariku, hanya kak Rama yg aku rasa masih peduli padaku walau itu hanya sedikit.
Saat masih kecil aku tak punya banyak teman, aku selalu dikucilkan, Tak ada seorangpun yg mengajakku bermain, ketika aku ingin berbaur dengan mereka,
mereka malah mengejek namaku,,
"Si Cantik item, si Cantik Jelek, si Cantik Pesek"
Aku tak mau mendengar mereka berkata seperti itu terus, aku sakit saat mereka mengejekku seperti itu, Hatiku hancur walau itu hanya ejekan anak kecil saja, tapi aku juga anak kecil sama seperti mereka, sejak saat itu lebih baik aku menghindari mereka, dari pada harus bertemu dengan mereka dan mendengar mereka mengejek ku.
Anak-anak itu bermain di depan rumahku, mereka bergerombol, tapi tak ada satupun yg mengajakku bermain, ingin rasanya aku keluar dan mengajak mereka berbaur dengan mereka tapi aku takut, aku takut menerima penolakan, aku hanya bisa mengintip dibalik jendela, melihat mereka tertawa riang, aku juga ikut tertawa sendirian di sana, tersenyum lalu berbicara sendiri, seolah aku sedang bersama temanku.
Lalu kemudian aku menangis, menangis dalam diam, menangis tanpa bersuara, hanya air mata yg mengalir di pipi chaby ku,,,
" Sayang kenapa tidak ikut bermain dengan mereka di luar,?" tanya ibuku.
" Aku mau di dalam saja Bu" itu jawaban yg aku rasa paling tepat .
" Kenapa menangis?"
"Sepertinya mataku kemasukan debu , Bu"
Iya , itu alasan yg selalu aku ungkapkan saat aku menangis.
Aku tak pernah mengungkapkan perasaanku, bahkan pada orang tuaku sendiri, aku selalu memendam semua perasaan itu sendiri.
Sejak aku duduk di bangku SD , aku selalu mengambil bangku paling pojok, bangku paling tak terlihat, alasannya apa? alasannya supaya tak ada satu orangpun yg melihatku dari belakang, iya aku malu, aku tak punya percaya diri, bahkan saat aku berkaca aku malu melihat diriku sendiri.
Hingga menginjak bangku SMP , aku masih menjadi orang yg sama, Sicantik buruk rupa, Namaku Cantik tapi wajahku jelek,, Sebenarnya jika saja mereka tak menghinaku, aku sama sekali tak berkeberatan mempunyai wajah jelek seperti ini.
__ADS_1
Saat masa orientasi tiba, Semua anak di gugus ku satu persatu dari mereka mengenalkan diri di depan kelas...
hingga tiba giliran ku.
" Hallo, namaku Cantik Jelita, aku dari SDN 1..."
Huuuu huuuu,, mereka semua malah mengolok-ngolokku.
" Namanya Cantik, wajahnya jelek"
Saat itu juga aku berlari ke bangku ku, mereka menyoraki ku, mentertawakan ku, Sungguh sakit, sakit sesakit sakitnya.
" Sudah anak-anak kalian tidak boleh bersikap seperti itu.." ibu guru menenangkan mereka semua, Namun sia-sia, mereka tetap mentertawakan aku.
Mereka akhirnya terdiam setelah ibu guru menggebrak meja.
Walau aku mendapat pembelaan dari guru, tetap saja aku sakit, Aku menangis dalam diam, saat itu baru hari pertama aku menginjakkan kakiku di bangku SMP tapi mereka sudah membuat mental ku jatuh sejatuh-jatuhnya.
Rasanya saat itu juga aku ingin pulang , dan menangis di pelukan ayah dan ibu ku, aku ingin berkata
"Bu aku tak mau sekolah lagi, aku ingin berhenti sekolah, aku malu aku malu Bu, mereka selalu mengejekku, aku malu."
Saat itu aku menundukkan kepalaku, membenamkan wajahku di meja yg beralaskan kedua tanganku.
Lalu tiba tiba seorang anak laki-laki yang duduk di depanku mengulurkan tangannya.
"Hallo , namaku Arief Putra Wijaya, aku dari SDN 2..."
Dia tersenyum ramah kepadaku.
Wajahnya tampan, kulitnya putih, hidungnya mancung, senyumnya manis, Sepertinya dia berasal dari kota.
Aku melihatnya dalam-dalam, ini mustahil bagiku ada seorang yg mau berkenalan dengan ku.
"Kenapa diam?" Tanyanya,
Aku membalas uluran tangannya.
"Namaku Cantik Jelita"
Melihat tangan kami yg bersalaman, sangat kontras terlihat, seperti coklat susu, aku segera menarik tanganku, aku malu.
__ADS_1
"Salam kenal ya, mungkin kita bisa jadi teman." Ucap nya lalu
dia membalikan wajahnya kembali ke arah depan.
"Teman?" jawabku.
Astaga baru kali ini ada anak yg mau berteman denganku, ini sungguh terasa seperti mimpi.
Saat jam istirahat tiba , ia melakukan hal yg sama kepada semua anak di kelas ku, ternyata bukan hanya padaku dia baik, tetapi pada semua orang.
Selama 3 hari sekolahku mengadakan MOPD (Masa Orientasi Peserta Didik), banyak kegiatan yg mengharuskan aku untuk berkelompok , tapi tak ada satupun dari mereka yg mau sekelompok denganku.
Tapi lagi lagi Arief yg mengulurkan tangannya padaku.
" Cantik, satu kelompok denganku saja, aku juga belum dapat kelompok, kita berdua saja"
" Benarkah itu ?" tanyaku ragu pada Arief.
Arief hanya mengangguk pelan.
Aku tak percaya ada anak sebaik itu, bahkan aku lihat tadi dia sudah mendapatkan kelompok, tapi dia rela meninggalkan kelompoknya dan malah mengajakku satu kelompok dengannya.
Sungguh tak masuk akal, masih ada anak baik di dunia ini, Sebaik Arief.
Saat itu tugasnya adalah prakarya yg menunjukan pesan dan kesan selama mengikuti masa orientasi.
Arief pindah ke sebelahku, sungguh dia tak merasa jijik dekat-dekat dengan ku seperti anak yg lainnya.
Kami membuat lukisan, sungguh ia sangat pandai melukis, aku hanya membantu sedikit, selebihnya dia yg mengerjakan sendiri, aku merasa hanya menjadi asistennya saja, yg mengambilkan ini dan itu saja.
Akhirnya masa orientasi siswa berakhir hari ini, hari ini juga artinya sebagai hari terakhir aku berada di gugus ini, kakak kelas mengarahkan kami untuk melihat pengumuman yg ada di Mading sekolah, di kelas mana kami akan akan ditempatkan.
Aku melihat, tak ada namaku di kelas A, B, C, D, E, F, G, juga tak ada, aku melihat dengan teliti di kelas H, apakah ada namaku, dan benar saja aku masuk kelas H.
Saat itu hati kecilku memohon kepada Tuhan, semoga Arief juga satu kelas denganku, belum juga aku melihat namanya, seseorang menepuk bahuku.
" Hai cantik, kita sekelas lagi."
ternyata benar Arief sekelas denganku.
"Benarkah itu?"
__ADS_1