Jangan Panggil Aku Cantik...!

Jangan Panggil Aku Cantik...!
Bab 6 Super Hero


__ADS_3

Tanpa aku duga....


Kak Dewa yg sangat membenciku justru mengajakku mengobrol.


"Cantik, Kamu kelas 2 apa sekarang?"


"Belum tau kak," jawabku jujur


"Kelas 2 posisinya di acak, nanti kelas 3 akan sama seperti kelas 1 lagi" kak Rama menimpali.


"Oh gitu kak?"


"Ia, dulu juga kakak seperti itu." kak Dewa menegaskan lagi.


"Padahal kita udah klop, dengan teman di kelas 1, kelas 2 kita ganti teman baru, harus mulai menyesuaikan lagi" sahut kak Rama lagi.


Tak lama kami menaiki angkot yg sama , Karena lokasi SMA kakak berada sebelum sekolahku kak Rama dan kak Dewa turun lebih awal.


"Kita duluan.."


" Iya..." jawabku..


Baru kali ini aku di perlakukan seperti adik yg sesungguhnya oleh kedua kakak ku,, senang rasanya.


Tapi perkataan kak Rama tadi sungguh sangat mengganggu pikiran ku, kelas kami akan di acak hanya kecil kemungkinan nya untuk ku bisa sekelas dengan Arief, aku hanya bisa berdo'a saja.


Semoga Allah membuatku sekelas dengan nya,


...


Tiba di sekolah mataku tak berhenti memindai keberadaan Arief , seolah mataku ini mempunyai sensor yg bisa menemukan keberadaan Arief.


Sampai beberapa waktu aku tak menemukan nya, aku pun melanjutkan perjalananku menuju ruangan kelas 2.


Sama seperti memindai keberadaan Arief, aku juga memindai keberadaan nama ku di kertas yg tertempel di jendela ruangan kelas 2.


Namaku tak ada di kelas 2A, lalu aku beranjak ke kelas 2B, di sana juga tak ada namaku, aku melanjutkan perjalananku lagi ke ruang kelas 2 C, masih belum juga aku menemui namaku tercetak di sana, aku kembali mencari namaku di kelas 2D, Satu persatu nama aku baca dalam hati, dan di sana barulah muncul namaku, Cantik Jelita, nama yg memalukan itu.


Karena berdesakan, akhirnya aku terjatuh kerena terdorong oleh salah satu siswa di sana, entahlah terdorong atau pun di dorong yg pasti itu rasanya sangat sakit dan memalukan tentunya, anak itu bukan nya minta maaf terhadapku dia malah memarahiku.


"Heh kamu makanya jangan menghalangiku,, cepat minggir dari situ..!" ucap anak laki-laki itu, aku tak mengenal siapa mananya.


Aku hanya menunduk, tak berani melihatnya. sementara anak yg lain hanya diam saja.


Lagi-lagi si Super Hero ku datang menolongku.


Dia menarik lengan ku,,

__ADS_1


"Ayo bangun..!"


Aku menuruti perintahnya.


Lalu Arief berbicara kepadanya,


"Hey Kamu yg mendorongnya, kenapa kamu menyalahkannya."


"Apa kamu berani kamu padaku?" tantang anak itu, dia mendorong bahu Arief dengan kasar.


"Siapa takut pecundang." Arief semakin emosi.


"Hey, siapa yg pecundang?" anak itu semakin tersulut emosinya.


"Kamu, beraninya hanya dengan perempuan, kalau berani ayo dengan ku."


Gawat ini, bisa kacau kalau ketahuan guru, aku segera melerai mereka sebelum sesuatu yg buruk terjadi.


"Sudah Rif, biarkan saja ayo kita pergi dari sini." aku menuntun tangan Arief dan mengajaknya pergi.


Tapi ku lihat tangan anak itu mengepal, aku yakin dia akan memukul Arief, dan...


Bugh...


Akhirnya pukulan itu mengenai wajah ku, karena aku tadi menghalangi anak itu yg akan memukul Arief.


"Cantik, kamu berdarah." terlihat Arief sangat emosi melihat keadaan ku.


Tampak Anak laki-laki itu pun terkejut, karena pukulannya yg ia layangkan kepada Arief justru salah sasaran, dan malah mengenai ku.


Arief segera beranjak dan membalas pukulan anak itu,, baku hantam pun terjadi dan.


bugh bugh bugh mereka berdua saling menghajar satu sama lain.


"Sudah Arief, aku tidak apa-apa, sudah hentikan! cukup hentikan!, sudah jangan di teruskan!"


aku sudah kewalahan memisahkan mereka berdua, tapi kata-kataku tidak di dengar sama sekali oleh mereka.


Anak-anak lain bukannya membantu ku melerai perkelahian itu, justru mereka malah menyoraki layaknya suporter pertandingan tinju.


"Ayo Arief.. Ayo Rangga.."


Aku semakin kesal melihat kelakuan mereka, bukannya membantu malah mengompori.


Karena berusaha memisahkan mereka akhirnya aku terdorong lagi oleh anak itu, aku jatuh tersungkur kepalaku menyentuh dinding, dan


sakit sekali.

__ADS_1


"aww... " lagi lagi aku mengucapkan kata itu.. aku memegang kepala ku, setelah itu aku melihat ada banyak darah di tanganku..


Arief menghampiriku.


"Cantik, kepalamu terluka, bagai mana ini?"


Karena keributan itu beberapa orang guru menghampiri kami.


"Ada apa ini?" pak guru bertanya, lalu guru lainnya menimpali..


"Kalian anak kecil masih SMP sudah berkelahi, nanti sudah besar mau jadi apa kalian? mau jadi berandalan?"


"ini di sekolah bukan di jalanan, kalau mau berkelahi , sana di ring tinju."


"Pak bukan saatnya banyak bicara, ayo tolong dia, kepalanya berdarah, ayo tolong dia" Arief memangku kepalaku di pahanya.


Dia kelihatanya sangat menghawatirkan ku, dari matanya aku lihat kekhawatiran yg sangat mendalam. melihat Arief sangat perhatian kepadaku, entah setan dari mana yg membujukku melengkungkan senyum itu. aku tersenyum, entah lah ada yg melihatku atau tidak, aku tak tau pasti.


Padahal kepala dan bibirku sangat sakit, tapi aku justru merasa bahagia diperlakukan seperti itu oleh super Hero ku. sungguh si itik buruk rupa ini sangat bucin, tidak tahu diri.


Tadinya Arief yg akan menggendongku, tapi pak guru tak mengijinkan nya, melihat keadaan dia yg juga begitu, Arief dan anak itu sama sama berdarah di bagian hidung.


Mereka membawa kami ke ruangan UKS , perawat sekolah segera mengobati kami, dia memeriksa luka di kepala ku.


Arief menyuruh pak guru untuk membawaku ke rumah sakit.


"Pak, lebih baik bawa Cantik ke Rumah Sakit saja, kasihan kepalanya berdarah, takut kenapa kenapa, itu bahaya"


"Tidak usah pak, saya baik-baik saja" aku menolak keinginan Arief.


"Benar kata Arief, kita ke Rumah Sakit saja, bapak khawatir dengan keadaan mu."


Aku bersikeras menolak keinginan mereka semua , aku tak mau merepotkan, apa lagi nanti orang tuaku akan sangat mengkhawatirkan aku, aku takut mereka akan marah.


Aku tak bisa membayangkan perasaan mereka jika mengetahui anaknya masuk Rumah Sakit karena berkelahi, ya tetap saja walaupun aku yg melerai mereka, tapi akulah yg menyebabkan mereka berkelahi.


Akhirnya dengan terpaksa mereka menuruti keinginan ku.


"Cantik , kenapa kamu keras kepala?"


"Aku baik-baik saja Rif, bagai mana dengan kamu?"


"Aku gak apa-apa, aku laki-laki sudah biasa berkelahi"


Tiba-tiba pak Amir kepala sekolah kami datang.


"Oh pantas saja kalau kamu sudah biasa berkelahi Arief, apa kamu tidak malu dengan status kamu, sebagai juara umum di sekolah ini??" nampak wajah pak Amir merekah, itu tandanya ia sangat marah kepada kami.

__ADS_1


"Tolong jelaskan kepada bapak apa yg sebenarnya terjadi?"


__ADS_2