
Gubrak...
Tubuh Arief limbung lalu jatuh tak sadarkan diri.
"Arief..." Cantik secara reflek berteriak lalu dengan segera bangun dari ranjang tempat ia berbaring tadi.
"Arief kamu kenapa?" Ia segera memangku pria yang dulu sangat ia cintai ke dalam pangkuannya. memegang pipi nya, menepuk-nepuk pipinya mencoba membangunkannya. Sama persis dengan apa yang Arief lakukan tadi pada Cantik.
Tak bisa di ingkari lagi, perasaannya masih sama seperti dulu, dia sangat khawatir dengan pria itu, hingga tetesan air mata tak sengaja jatuh di pipi wanita itu.
Beberapa perawat yang mendengar teriakan Cantik segera menghampiri. Mereka mengangkat tubuh Arief ke ranjang sebelah tempat Cantik tadi di rawat.
Cantik begitu panik, dia bahkan lupa bahwa tangannya terluka, ia terus saja mondar-mandir saat Arief di periksa, bingung apa yang harus ia lakukan.
"Ibu sebaiknya duduk saja, ibu juga baru mengalami kecelakaan tadi" Ucap seorang perawat pada Cantik.
"Saya baik-baik saja Sus, bagaimana keadaan Arief?"
"Kita tunggu hasil pemeriksaan dokter, sebaiknya ibu hubungi keluarganya!"
"Ahh iya" Karena panik tak sedikitpun ia berfikir ke arah sana.
Cantik baru ingat ia tak membawa hp, lalu ia terpikir untuk menelpon menggunakan hp Arief.
Ia segera mencari hp Bosnya itu dibantu oleh seorang suster. Untunglah hp pria tersebut tidak menggunakan kode, jadi ia leluasa untuk membuka nya.
Cantik bingung harus menghubungi siapa?. Tiba-tiba ponsel Arief berdering...
"Mas Arga" tanpa ragu ia mengangkat nya.
"Assalamualaikum mas"
"Cantik..." Arga langsung mengenali suara siapa yang telah mengangkat telpon kakaknya.
"Arief mas, dia pingsan" Ucap Cantik dengan suara bergetar menahan tangis.
__ADS_1
"Apa? sekarang dia dimana?"
"Kami di rumah sakit sekarang, tolong beri tahu Ibu Galuh!".
Arga segera memberi tahu ibunya. Ibunya sangat panik dan segera bergegas pergi menuju Rumah Sakit.
Dalam hati Arga ia berkata ,Kenapa Cantik memanggil Arief dengan nama saja?, lalu kenapa mereka bisa bersama? dan kenapa juga Cantik menangis begitu melihat Arief pingsan.
Pertanyaan demi pertanyaan pun terlontar di hatinya, tapi logikanya mencoba menenangkan.
'Mungkin mereka bersama karena ada urusan pekerjaan, mungkin juga karena panik, Cantik menyebut nama saja, dan karena itu juga ia menangis. Ya pasti semua karena panik'
Arga menepis semua kecurigaan di hatinya. ingin rasanya bertanya langsung tapi tak apalah, itu takkan ia permasalahkan.
Arga ingin sekali datang ke Jakarta, tapi pekerjaannya tak memungkinkan untuk ia datang, dia hanya berkabar dengan Ibunya, menanyakan keadaan Arief saat ini.
Arga tau kakaknya masih sakit, walau kelihatannya dia baik-baik saja, tapi kakaknya itu Amnesia, bukan hal yang tak mungkin sesuatu yang buruk terjadi pada orang yang kehilangan ingatan.
Arga hanya berdoa semoga tak terjadi apa-apa pada Arief.
Setelah mendapat telpon dari Arga, Mama Galuh segera berangkat menuju Rumah Sakit yang di beri tahu Arga.
"Ada apa Tan? kenapa terlihat panik?" Leony yang baru saja akan berangkat ke kantor Arief dan melihat ada sesuatu yang tak beres dengan Ibunya Arief.
"Arief, dia pingsan, dia sekarang ada di Rumah Sakit"
"Kenapa? apa yang terjadi?"
"Entahlah, Tante belum tau, kamu mau ikut ke sana? atau?"
"Tentu aku ikut, mungkin itu karma Tante, gara-gara dia meninggalkan aku Tan, makanya jadi seperti ini" Ucap Leony dengan ringannya.
"Hus, jangan ngomong sembarangan kamu, biar terlihat sesehat apapun Arief, dia tetap sakit, dia hilang ingatan Leony, jangan bicara sembarangan"
"Ups, Sorry tan" Leony menutup mulutnya, ia menyesal telah berkata seperti itu.
__ADS_1
Dokter masih berusaha membangunkan Arief, tapi belum juga ia terbangun. Denyut nadi dan degup jantung masih normal hanya saja tekanan darah pria yang kehilangan ingatannya itu rendah.
Dokter belum memindahkan Arief ke ruang perawatan, mereka masih menunggu pihak keluarga.
Cantik duduk di kursi sebelah ranjang tempat Arief berbaring.
Ia tatap wajah pucat pria itu, dengan sejuta tanya di dada, sesak rasanya ingin ia tampar wajah pria yang telah tidak bertanggung jawab meninggalkannya dan anaknya. Tapi melihat wajah lemah tak berdaya nya, ia luluh, amarah itu seketika berubah menjadi cemas, khawatir atau sayang seperti dulu.
Ia mencoba meredam rasa yang menyeruak di dadanya, berusaha menahan tangis yang sedari tadi mengalir di pipinya. Ia tahan dengan sekuat hati.
'Saat ini, dia bukan Arief kamu yang dulu Cantik, dia hanya seorang bos untuk mu saat ini, tak lebih dari itu' gumamnya dalam hati.
Tapi perasaan itu tak mampu di redam, ia sungguh rindu dengan Arief yang dulu, dengan Arief yang membelanya mati-matian, yang rela melakukan apapun demi dirinya, yang memberikan semua perasaan untuk dirinya dulu.
Dia genggam tangan pria itu.
"Bangun lah Rif!, aku mohon! aku tak peduli kau ingat aku atau tidak, tapi aku mohon bangunlah jangan .membuat aku takut" Cantik berbicara pada Arief berharap ia akan mendengarnya.
Tak lama berselang 2 orang wanita menghampiri mereka.
"Cantik"
"Bu Galuh" Cantik kaget mendengar Mama nya Arga melihatnya sedang menggenggam tangan Arief. Ia segera melepasnya dengan cepat.
"Siapa kamu, berani menggenggam tangan kekasihku!" Ucap Leony dengan nada tinggi.
Deg jantung wanita satu anak itu seolah berhenti mendengar seseorang menyebut ayah dari anaknya dengan sebutan kekasih.
Sakit rasanya, padahal sejak dulu kekasih nya Arief hanya diri nya tak ada yang lain.
"Ma ma maaf, saya hanya berusaha membangunkan pak Arief" Ucap cantik dengan terbata.
"Siapa dia Tante?" Ucap Leony sembari melirik wajah cantik dengan tatapan tidak suka.
"Dia calon menantu tante, Leony"
__ADS_1