Jangan Panggil Aku Cantik...!

Jangan Panggil Aku Cantik...!
Bab 24 Lari dari tanggung jawab


__ADS_3

Entah jam berapa aku bisa tidur. Saat adzan subuh berkumandang, rasanya mataku masih sangat berat untuk terbuka.


Aku bangun, mandi dan segera menunaikan kewajibanku, tak lupa aku bermunajat agar Allah memudahkan jalan ku selanjutnya.


Segera setelah itu aku mengunjungi warung dekat rumah, warung itu selain menjual makanan juga menjual pulsa, aku mengisi pulsa hanya 10 ribu saja, biasanya Arif yg mengisi nya, tapi mungkin dia juga lupa sama seperti ku.


Aku mengirimkan pesan singkat padanya..


'Pagi Rif'


Pesan itu belum diterima, mungkin dia belum mengaktifkan ponselnya.


Hari itu juga kak Rama mau mengantar kan aku ke sekolah jadi Arief tak perlu mengantarku.


Aku mencoba menghubungi dia tapi nomor nya masih belum aktif.


Aku mulai cemas memikirkan nya, tapi ya sudah lah nanti di sekolah juga bertemu.


Kak Rama mengantarku ke depan gerbang sekolah, aku melihat sekeliling, aku tak melihat keberadaan Arief di sana, sepertinya dia belum datang.


Padahal biasanya jika kami tidak berangkat bersama dia akan menungguku di sana, atau aku yang menunggunya, jika aku sampai lebih dulu.


Aku menunggu sampai bel masuk berbunyi, dia belum juga datang, atau mungkin dia sudah ada di kelas.


Aku berlari menaiki tangga menuju kelas, berharap Arief sudah ada di sana, tapi dia tak ada, kemana dia? kenapa tidak masuk? atau jangan-jangan terlambat karena dia juga tidak bisa tidur seperti ku.


Aku tetap menunggu kedatangan nya, hampir setiap 5 menit sekali aku melihat kearah pintu, berharap kedatangan nya, tapi sampai jam istirahat berbunyi, dia tak kunjung datang.


Aku merogoh ponsel di saku rok ku, mencari kontak Arief, dan menekan tombol hijau di keypad.


'Tut Tut Tut .. nomor yang anda hubungi sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan, silahkan hubungi beberapa saat lagi..!"


'Kenapa tak aktif Rif, aku khawatir padamu'.

__ADS_1


lalu aku mencoba mengirimkan pesan siapa tau saat handphone nya aktif dia akan segera menelpon balik.


'Yang kenapa tak masuk sekolah? kenapa hp nya tak aktif?'


'Rif, setelah kamu baca pesan ku kamu segera hubungi aku ya...!"


Sampai jam pulang sekolah Nomor Arief masih tak aktif, aku memutuskan untuk mendatangi rumahnya.


Rumahnya tampak sepi, pintu gerbangnya pun di gembok. aku berteriak-teriak mengucapkan salam dan memanggil Arief atau pun bibinya, tapi tak ada sahutan.


Sudah jelas gerbang nya saja di gembok dari luar, pasti tak ada orang di rumah itu, aku saja yg bodoh tetap berteriak memanggil nya.


Aku bertanya kepada tetangga sekitar, tapi mereka tidak mengetahui keberadaan Arief dan bibinya sama sekali.


'Kamu di mana Rif? kenapa tak mengabari ku, aku khawatir padamu, atau jangan-jangan kamu benar-benar tega meninggalkan ku sendiri di sini. Jika itu benar kamu jahat Rif, kamu jahat.'


*****


Satu bulan berlalu, aku masih belum menemukannya, setiap hari aku mengirimkan pesan kepada nya, walaupun nomor itu sudah tak aktif. mungkin sudah ratusan pesan yg aku kirimkan padanya.


Aku juga mencari informasi lewat sekolah tapi sekolah tidak tahu keberadaan Arief, mereka hanya memberi tahu ku bahwa kemarin ada seseorang yg mengurus kepindahan Arief dari sekolah, menurut orang itu Arief akan pindah ke luar negeri.


Deg...


Jantungku rasanya ingin berhenti berdetak.


Saat mendengar hal itu seketika tubuhku lunglai, kaki ku lemas, hati ku hancur se-hancur hancurnya.


Padahal selama satu bulan ini aku masih berharap aku masih bisa menemuinya.


'Kamu jahat Rif, kamu sudah berjanji tak akan meninggalkan aku, lalu kenapa kamu pergi begitu saja tanpa mengabari ku, kenapa Rif kenapa? bagaimana dengan bayi ini? dia sudah semakin besar, apa bisa aku terus menyembunyikan keberadaan nya terus menerus dari semua orang'


Aku belum memberi tahu keadaanku pada semua orang, aku masih menyimpannya rapat-rapat, aku masih belum siap, jika bisa aku akan tetap menyembunyikan nya sampai aku dinyatakan lulus.

__ADS_1


*****


Bulan demi bulan berlalu, Setiap hari aku larut dalam kesedihan, menyesali apa yg telah terjadi padaku.


Aku berusaha bersikap biasa saja di depan semua orang, aku tersenyum dan seolah-olah tidak terjadi apapun pada diriku. Sungguh aku ini pandai sekali dalam berakting, mengelabui semua orang tentang keadaan ku.


Jika biasa nya, ibu hamil akan muntah-muntah dan mengalami pusing ngidam atau sejenis nya, tapi tidak denganku.


Aku seperti orang biasa saja, tanpa merasakan apa pun, Aku sangat bugar. bayi ini sungguh sangat baik, dia tak pernah rewel pada ibunya. dia juga tak pernah minta ini itu, dia tau bahwa tak ada ayahnya yg akan menuruti keinginan nya.


Mungkin itu semua karena di awal kepergian Arief sempat terpikir di benakku untuk menggugurkan bayi ini, tapi aku mengurungkan nya karena teringat perkataan Arief.


'Pertahankan bayi ini, demi aku, dia tidak bersalah'


Arief benar bayi ini tidak bersalah, bahkan aku sangat menyayanginya, sama seperti aku menyayangi ayah dari bayi ini.


Entah kenapa si itik buruk rupa ini, selalu saja bucin pada Arief, bahkan di saat Arief meninggalkan aku, aku masih sangat menyayanginya.


Aku tak bisa membencinya sedikitpun, aku masih sangat sangat mencintainya, walau dia jahat kepadaku, walau dia meninggalkan ku tanpa pamit dan tanpa kabar.


Setiap bulannya aku memeriksakan kandunganku, pada seorang dokter di kota.


Aku memilih dokter kandungan di kota, pemikiran orang kota lebih fleksibel, mereka lebih menerima keadaanku yg hamil tanpa suami. bahkan aku masih pelajar.


Namanya Dokter Nadine, dia seorang Dokter spesialis kandungan di RS swasta di kota Bandung. Aku lebih memilih klinik tempat dokter Nadine praktek dari pada harus ke rumah sakit yg lebih banyak syaratnya.


Dari awal aku sudah menceritakan kejadian yg sebenarnya kepada dokter Nadine, dari mulai hubungan ku dengan Ayah dari anak ini, sampai dia meninggalkan ku dan juga tak ada satu orang pun yg tahu tentang kehamilan ku, aku juga menceritakan kenapa aku merahasiakan semua ini kepada semua orang.


Dokter sangat terbuka menerimaku, bahkan dia terasa seperti seorang kakak yg mensuport adik nya yg telah salah jalan, dia mengerti keadaanku, dia sangat baik.


Aku membayar semua kebutuhanku untuk bayi ini dari uang yg Arief berikan kepadaku, bahkan uang darinya akan cukup untuk nanti aku melahirkan bahkan mungkin akan cukup sampai anakku berusia satu tahun bahkan lebih.


Setidaknya aku masih sedikit bersyukur karena Arief membekali ku dengan uang ini.

__ADS_1


Atau mungkin ini rencana nya, memberiku banyak uang agar dia lepas dari tanggung jawab.


__ADS_2