Jangan Panggil Aku Cantik...!

Jangan Panggil Aku Cantik...!
Bab 35 Takdir.


__ADS_3

Begitu banyak prasangka yang timbul di hati dan pikiran gadis bernama Cantik itu. Dari mulai dari a b c d e f g dan yang lainnya, tapi setelah berbulan-bulan menunggu ia hanya bisa pasrah, menerima takdir yang Tuhan berikan pada dirinya dan pada bayi yang saat ini ada di kandungan nya.


Kepergian kekasihnya itu sangat menyakitkan bahkan jauh lebih sakit dari pada Bulian dari teman-teman nya.


Rasa sakit itu rasanya mampu untuk membenci orang yang telah meninggalkan nya itu, tapi tak bisa, sekuat hati ia coba membenci Arief tapi tetap tak bisa.


Dia coba segala cara agar dirinya membenci lelaki pengecut yang sudah meninggalkan dirinya itu, tapi bukan rasa benci yang timbul, tapi rasa rindu yang menggebu, rasa rindu ingin segera bertemu kembali dengan lelaki sempurna itu.


'Rif, sampai kapanpun aku akan selalu menunggu mu, aku tak akan pernah lelah menunggu mu, aku rindu padamu ay, aku rindu.'


*****


Di sudut dan waktu yang berbeda.


Motor sport yang di kendarai Arief melaju kencang menembus jalanan Bandung - Jakarta. Hari sudah mulai gelap, hujan dengan kapasitas ringan pun mengguyur aspal yang di lalui calon ayah itu.


Arief memacu motornya dengan kecepatan normal, tapi perasaan nya sungguh tidak normal, dia merangkai sejuta kalimat untuk ia katakan pada orang tuanya, tapi gagal dan gagal kalimat itu mendadak buyar dan memecah menjadi jutaan kata-kata yang tercerai berai.


Dia bingung apa yang harus di ucapkan pada orang tuanya itu, bagaimana mungkin seorang perwira TNI sehebat ayahnya mempunyai anak sebodoh dirinya yang telah menghamili anak orang.


Pikirannya yang kalut, membuatnya tak berkonsentrasi dalam mengendarai motor kesayangan nya itu, padahal jarak rumahnya hanya tinggal beberapa ratus meter saja.


Dan kejadian buruk yang merubah takdir nya pun terjadi.


Seorang anak kecil tiba-tiba berlari menyebrang jalan.


"Awas....." Arief berteriak sekuat tenaga kepada anak itu, tapi dia tak mendengar sama sekali.


Arief membanting setir, menghindari anak itu, dan kecelakaan pun terjadi.


Braakkkk...


Dia menabrak pohon Mahoni yang menancap kuat di sisi jalanan depan komplek rumah ibunya itu.


"aghrh...." Arief berteriak.


Mendengar suara orang berteriak dan suara dari motor yang menabrak. Orang-orang berhamburan keluar, dan mendatangi lokasi kecelakaan.

__ADS_1


Darah mengucur deras dari kepala remaja itu, seketika kesadarannya menghilang.


Orang-orang sibuk memberi bantuan kepada Arief, tak sedikit juga yang hanya jadi penonton dan menangis, padahal sama sekali mereka tak mengenal Arief.


Kabar itu pun sampai ke rumah yang jaraknya hanya beberapa ratus meter dari lokasi kejadian.


"Pa, kata tetangga, di depan sana ada kecelakaan, motor nabrak pohon mahoni yang besar itu, korbannya remaja laki-laki katanya" ucap mama Galuh kepada suaminya.


"Apa kecelakaan? papa akan lihat ke sana."


"Mama ikut" Ucap wanita 47 tahun yang wajahnya terlihat 10 tahun lebih muda dari umur nya.


Naluri seorang ibu memang kuat, hatinya risau selama di perjalanan.


"Cepetan pa, mama khawatir, mama gak enak hati" ucap wanita itu kepada Adrian suaminya.


Hanya butuh waktu 10 menit mobil berplat merah itu berhenti di lokasi kejadian.


Orang-orang yang tadi berkerumun, kini hanya menyisakan beberapa orang saja beserta orang-orang yang berseragam cokelat.


"Mana korbannya?" pak Adrian bertanya kepada salah satu polisi yang ada di sana.


Sementara sudut mata Mama Galuh melihat motor yang masih tergeletak di bawah pohon mahoni yang usianya sudah puluhan bahkan mungkin menembus 100 tahun lebih itu.


Dilihatnya lekat, ia teliti...


Deg...


Matanya terbelalak, dia tahu betul pemilik motor itu.


"Arief pa...." Ia berteriak.


Suaminya menoleh kepadanya. Dilihatnya motor itu, dan benar saja yang baru saja kecelakaan di tempat itu adalah anaknya.


mereka segera melajukan mobilnya menuju Rumah Sakit.


Selama perjalanan tak hentinya ibu dari 3 orang anak itu menangis.

__ADS_1


"Bagaimana ini pa? Arief kita bagaimana?" wanita itu terus menangis, pikirannya kalut, pikiran-pikiran buruk pun berseliweran di kepala nya.


Suaminya itu hanya bisa menenangkan walaupun sebenarnya ia juga merasakan hal yang sama.


Di rumah sakit Arief segera di tangani, tubuhnya hanya luka ringan, tapi kepalanya terbentur cukup keras.


Karena cedera otak yang sangat parah akhirnya dokter segera melakukan operasi.


Di luar ruangan operasi, Ibunya tak henti menangis, tubuh nya tak kuasa menerima kenyataan bahwa kini anak keduanya itu sedang dalam kondisi antara hidup dan mati.


Nadine kakak Arief berusaha menenangkan ibunya yang entah sudah berapa kali hilang kesadaran.


Papa nya pun yang notabene seorang perwira pun tak kuasa menahan air matanya.


"Sembuhlah Rif!, papa janji papa tak akan memaksakan kehendak lagi pada mu"


Beberapa jam kemudian, operasi akhirnya selesai, dokter menjelaskan bahwa Arief mengalami cedera otak yang begitu parah, cedera itu terjadi pada bagian saraf yang mengatur kesadaran nya.


Artinya Arief mengalami koma, kondisi dimana seseorang hanya bisa terbaring tidak bisa merasakan sakit, tidak bisa berbicara mendengar dan bergerak sama sekali.


Mendengar kondisi Arief seperti itu, hati orang tua mana yang tidak menjerit, mama lagi-lagi pingsan, saat ini kondisi mama sangat lemah, dia sampai harus di infus.


1 Minggu berlalu kondisi Arief masih tetap sama tak menunjukan perubahan sedikitpun, akhirnya keluarga memutuskan untuk membawa Arief ke Singapura. semoga dengan perawatan di Singapura kondisi Arief segera membaik.


***


Setelah 2 bulan di rawat di rumah sakit tebaik di negeri singa itu, akhirnya Arief terbangun.


Kondisinya masih lemah, bahkan cedera yang menyerang bagian lumbik dari otak nya itu, membuat dia kehilangan ingatannya, atau amnesia, bukan hanya ingatan di masa lalunya yang hilang bahkan dirinya siapa pun dia sama sekali tak mengingatnya.


Dokter memvonis bahwa Arief mengalami amnesia permanen, artinya selamanya dia akan kehilangan ingatannya itu.


Karena perawatan masih akan berlangsung lama di Singapura, Mama dan Arga menetap di sana. Sementara papa dan Nadine, tinggal di Indonesia.


Kondisi fisik Arief mulai pulih ia mulai bisa berjalan walaupun masih tertatih, Mama tak henti menemani anaknya itu, dia menjelaskan siapa dirinya, usianya, semuanya mama jelaskan tentang identitas Arief.


Arief menjalani hidup sebagai orang baru, Seorang yang dingin, tak banyak bicara, bahkan tersenyum pun sulit rasanya.

__ADS_1


Pribadinya yang sekarang bertolak belakang dengan Arief yang dulu, yang hangat selalu tersenyum ramah kepada siapa pun.


Dan satu lagi dia melupakan seseorang yang saat ini menangis menunggunya.


__ADS_2