Jangan Panggil Aku Cantik...!

Jangan Panggil Aku Cantik...!
Bab 49 Kapan kalian menikah?


__ADS_3

Ibu hanya tersenyum melihatnya.


Jika ibu tau, Kini Arga Dan anak perempuan satu-satunya itu telah memulai menjalin kasih pasti ibu akan merasa sangat bahagia.


Cantik menyuapi Kay, Kay nampak sangat lahap memakan makanan kesukaannya itu.


"Cantik kenapa beli nya banyak sekali?" tanya ibu sambil melihat beberapa porsi ayam yang tergelak di meja.


"Bukan aku yang beli Bu, Mas Arga yang beli"


"Haduh, Nak Arga merepotkan saja, terima kasih banyak ya!"


"ia sama-sama bu"


Setelah Kay menyelesaikan makannya, Arga segera pamit untuk kembali ke Asrama.


"Kay, om pulang dulu ya!, nanti kapan-kapan om main lagi kesini"


"Aku ikut om" Kay turun dari tempat duduknya, lalu beringsut masuk ke pangkuan orang yang sudah ia anggap ayahnya itu.


"Kay, jangan begitu, Om nya pulang dulu, besok om kesini lagi" Bujuk Cantik kepada anaknya itu.


"Om jangan pulang! hiks hiks" Bukannya mengikuti apa kata ibunya, Kay malah menangis.


"Iya, iya om pulangnya nanti saja, tapi Kay jangan menangis lagi ya!" bujuk Arga seraya mengusap pelan kepala anak itu.


Kay mengangguk, dia memeluk Arga erat, sepertinya dia tak ingin melepaskan Arga pergi darinya.


"Maaf ya mas!, Kay begitu manja kepadamu"


"Ga papa, aku senang dia begitu, bukankah nantinya aku akan jadi ayahnya" Ucap arga santai.


Uhuk...


Cantik dan ibu tersedak secara bersamaan, padahal mereka tidak sedang minum.


"Aamiin nak Arga, ibu berharap seperti itu, ibu harap suatu hari nanti kalian bersatu, Kamu begitu peduli dengan Kay, dan Kay begitu menyayangi mu"


Wajah Cantik memerah, seperti kepiting rebus, sungguh saat ini dia tak tau harus mengaminkan doa ibu, atau tidak.


Tapi bukan kah doa tulus seorang ibu untuk anaknya akan selalu dikabulkan oleh Tuhan, kita lihat saja nanti, apakah benar doa ibunya itu akan terlaksana.


Rak berselang lama,


terdengar suara deru mesin mobil yang berhenti di depan. Seperti biasa Kay akan berlari keluar melihat siapa yang datang.


"Hole Abah, Abi dan umi pulang" Kay berlari menghampiri ketiganya.

__ADS_1


Dewa memangku Kay.


"Kay, Ada siapa di dalam ?"


"Ada papi, eh om Alga Abi." Seperti biasa Kay selalu menutup mulutnya ketika dia salah memanggil Arga dengan Papi.


"Assalamualaikum" Ucap Dewa dan Diana yang memasuki ruang tamu rumah bergaya etnik Sunda itu.


"Waalaikum salam" Sahut mereka bertiga yang ada di ruangan itu bersamaan.


"Bagaimana Dewa apa sudah Deal pembeliannya?" tanya ibu.


"Alhamdulillah Bu, tinggal mengurus surat-suratnya saja" jawab dewa seraya duduk dan akan bersalaman dengan Arga.


"Kapan mau di bangun rumah nya kak? Aku dan kak Rama bisa bantu mendesain rumahnya" ujar Cantik.


"Boleh itu asal gratis, haha" Dewa tertawa.


Diana malah memukul pundak suaminya.


"Ihh Abi mah pengennya gratisan terus"


"Itulah gunanya punya 2 adik arsitek, iya kan Ga"


"Iya betul kak, harus dimanfaatkan itu, haha" mereka berdua tertawa, sedangkan Diana dan ibu menggeleng-gelengkan kepalanya.


Cantik melihat sekarang Kay sedang berada di pangkuan Dewa, itu artinya ada kesempatan untuk Kay bisa pulang.


"Mas, sepertinya kamu bisa pulang sekarang, mungpung Kay sedang tidak fokus ke kamu"


"Nunggu ayah masuk dulu, ada yang harus aku bicarakan padanya"


Cantik merasa bingung, sebenarnya apa yang akan Arga bicarakan pada Ayahnya.


Setelah Ayah masuk ke rumah, di susul dengan Rama yang baru saja tiba.


Alhasil semua keluarga Cantik berkumpul semua tanpa ada satupun yang absen.


Ruang tamu yang lumayan luas itu, agak terasa penuh karena di dalamnya ada 8 orang yang duduk di kursi.


"Ayah, ibu, dan semuanya, sebelumnya maaf saya lancang berbicara seperti ini, ada yang akan saya sampaikan kepada semuanya"


Mereka semua bingung sebenarnya ada apa dengan Arga, apa yang akan Arga bicarakan, tapi sepertinya cantik curiga jangan-jangan Arga akan...


"Silahkan nak Arga apa yang akan kamu bicarakan?" Ucap Ayah.


"Saya ingin meminta izin langsung kepada orang tua dan kakaknya Cantik, saya ingin menjalin hubungan dengan Cantik, Alangkah baiknya jika saya mendapatkan restu dari kalian semua"

__ADS_1


"Alhamdulillah nak Arga, ibu sangat merestuinya, bagaimana yah, bukankan itu baik ?"


"Kalau ayah, terserah Cantik saja, ayah akan mendukung apapun keputusannya" Ucap ayah, bukannya Ayah tak mau ambil keputusan tapi dia begitu tau perasaan anaknya, Luka di hati anak perempuannya itu masih belum kering, alangkah baiknya jika dia sendiri yang memutuskan.


"Ya, Kami juga sebagai kakak hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk kalian berdua, Kami juga merestui hubungan kalian, iya kan ram?"


Rama hanya mengangguk, lalu dia memanggil Kay.


"Kay sini! Kay mau tidak kalau om Alga jadi papinya kay?"


"Emm, Kay Mau papa Rama, tapi kan kalau aku panggil om Alga Papi mami suka malah"


"Tanyain lagi sama Mami sana Kay, Mami boleh tidak kalau Om Alga jadi papi Kay?" titah Rama pada Kay.


Kay yang polos menurut saja apa kata Rama.


"Mami, boleh Kay panggil om Alga papi?" Kay menatap mata ibunya dengan penuh harap.


Cantik melihat mata polos anak nya itu, kini telah tercemar dengan 1 nama Papi Alga. tentu saja dia tak mau menolak keinginan anaknya.


"Iya, mulai sekarang boleh sayang"


"Yes, yes, yes" Kay bersorak kegirangan dia meloncat-loncat, akhirnya maminya tak akan marah lagi saat dia memanggil Arga dengan sebutan papi.


Lalu Kay menghampiri Cantik memeluknya dan mencium pipinya.


"Makasih Mami"


"Iya sayang"


Kemudian Kay melepas pelukan dan menghampiri Arga.


"Om Alga, mulai sekalang, om itu Papi aku" Lalu dia melakukan hal yang sama kepada Arga, memeluk dan mencium pipinya.


Suasana bahagia nampak jelas diantara orang-orang yang ada di ruangan itu.


"Kamu harus janji Ga, kamu tak akan menyakiti adikku, dan tak akan meninggalkannya, seperti orang itu" Ucap Rama pada Arga.


"Aku berjanji kak"


Aku yakin kamu akan mencintaiku dengan tulus dan tak akan menyakitiku apa lagi meninggalkanku mas, tapi aku tak yakin jika aku bisa mencintaimu sepenuh hatiku, dan aku tak yakin aku tak akan menyakitimu suatu saat nanti.


Walau bibir wanita itu tersenyum dan wajahnya terlihat bahagia, tapi hatinya sungguh galau, dia takut suatu hari nanti akan menyakiti hati Arga yang begitu baik padanya, jika Arga tau bahwa sampai detik ini dia belum bisa melupakan Arief.


Tapi dalam hatinya juga berdoa, supaya Tuhan membukakan pintu hatinya untuk Arga, dan dia juga akan berusaha sekuat hati untuk melupakan semua perasaanya terhadap Arief.


Tiba-tiba ibu memecah lamunan Cantik.

__ADS_1


"Lalu kapan kalian akan Menikah?"


__ADS_2