
Ada kesedihan tersendiri Bagi cantik melihat Kaos yang Arga pegang.
Harusnya yang jadi Papi itu Arief, bukan Arga, tapi bagaimana lagi bahkan kini Arief seolah tak mengenalnya sama sekali.
Penantiannya selama bertahun-tahun sirna saat Arief tak sedikitpun mengingatnya, bukannya tak mau menjelaskan pada Arief siapa dirinya tapi dia takut menerima penolakan.
Saat ini biarkan saja waktu berjalan, nanti juga akan ada saatnya dia berani mengatakannya.
Di perjalanan pulang Kay tertidur pulas, setelah puas bermain, hari sudah larut saking asiknya bermain mereka sampai lupa waktu.
Bagi wanita itu, biarlah hatinya terombang-ambing tak menentu asalkan anaknya bahagia, dan kebahagiaan Kay itu bersumber dari Arga.
Dia tak bisa bayangkan jika suatu saat nanti kenyataan akan terbuka, dia tak tahu apa yang kan terjadi, apabila Arga tau kalau ayahnya Kay itu Arief kakak kandungnya sendiri.
Sepanjang hari dia habiskan waktu bersama keluarganya, berkumpul, dan makan bersama, hingga sore tiba Arga menjemputnya untuk kembali ke Jakarta.
"Kay, Mami pergi bekerja dulu ya!" Cantik berjongkok menyetarakan tubuhnya dengan Kay.
"Aku ikut Mami" Kay terus saja menempel padanya, dan tak melepaskan tangan maminya dari genggamannya.
"Jangan ikut sayang, jauh, di sana tak boleh bawa anak kecil, dan di sana tak boleh bawa mainan tentara, apa Kay mau meninggalkan mainan baru nya, nanti kalau di tinggalkan akan ada yang mengambilnya." Cantik berusaha membujuk anaknya itu.
Kay menggeleng. Akhirnya dia mau melepas Maminya pergi.
"Mami pulangnya kapan? jangan lama-lama!"
"Kay hitung dari nanti malam, 6 kali Kay bobo malam, besoknya Mami akan pulang"
"Segini Mami?" Kay mengangkat 6 jarinya.
"Iya, anak pintar, Kamu jangan nakal ya! Mami menyayangimu"
Kay mengangguk lalu berhambur memeluk dan mencium pipi Maminya itu.
***
"Kita mampir dulu ke rumah Mama ku atau pulang dulu ke kontrakan kamu?"
"Pulang dulu sebentar, aku mau mandi dulu, gerah" Ucapnya sambil mengipas-ngipaskan tangan ke wajahnya.
"Oke" Arga melajukan motornya lebih cepat dari biasanya.
"Pelan-pelan mas!"
"Pegangan Saja, biar cepat sampai" Ucap Arga sembari menarik tangan Cantik pada pinggangnya.
Bukankah dulu Arief juga selalu berkata seperti itu, dan melakukan hal yang sama. Sungguh hatinya bingung harus bagaimana, Arga begitu baik padanya dan anaknya tapi kehadiran Arief membuat keyakinannya untuk menerima Arga sedikit goyah, padahal sikap Arief begitu, lalu bagaimana jika Arief mengingatnya lagi, apa yang kan terjadi pada hubungannya dengan Arga.
Arga menunggu wanita itu di depan teras, dia merasa tak enak hati jika harus menunggu di dalam.
Tentu saja sebelumnya kopi hitam terenak di seluruh dunia buatan kekasihnya itu tersaji untuk menemani nya.
Setelah menunggu hampir 30 menit wanita itu keluar.
__ADS_1
Arga terpana melihat penampilan wanita pilihannya itu. walaupun dengan pakaian sederhananya.
"Kamu Cantik" Ucapnya.
"Ya memang benar kan namaku memang Cantik"
"Iya kamu Cantik yang paling Cantik" Arga tersenyum menatap rona merah di pipi wanita itu.
Mendengar Arga memujinya ia merasa malu, belakangan ini banyak yang memujinya, dengan mengatakan bahwa dia Cantik, dan banyak juga yang berusaha mendekatinya.
Berbeda dengan dulu, semua orang menghinanya, mengolok-ngoloknya karena wajah buruk rupanya.
'Namanya Cantik tapi wajahnya jelek'
'Namanya tak sesuai dengan wajahnya'
'Lihat apa dia tak malu punya nama Cantik, tapi orangnya jelek'
'Dasar, itik buruk rupa'
Semua hinaan itu terngiang kembali di telinganya, semua orang membencinya, menyebut dirinya jelek, dan hanya satu orang yang mengatakan bahwa dirinya cantik, dan itu Arief.
'Bukan hanya namamu yang Cantik tapi wajahmu juga Cantik'
Disaat semua orang mengatakan bahwa dia jelek, Arief mengatakan bahwa dia Cantik.
Tapi sekarang sebaliknya, semua orang berkata bahwa dia Cantik tapi Arief berkata 'Percaya diri sekali orang tuamu menamai mu Cantik Jelita, padahal wajahmu begitu'
.....
"Assalamualaikum Ma"
"Waalaikumsalam"
Mama Galuh nampak senang melihat kedatangan Anaknya, apa lagi dengan membawa seseorang.
"Mana anak itu, mama kangen" Mama memindai sekeliling berharap Arga membawa serta Kay.
"Dia tak ikut ma, dia di bandung"
Seketika raut wajah Mama berubah kecewa.
"Padahal Mama ingin bertemu dengannya, ya sudah ayo masuk sayang!"
Deg....
Saat ia masuk ia di suguhkan pemandangan yang luar biasa.
Sebuah poto keluarga terpajang dengan kokoh di ruangan itu.
Poto Papa, Mama, Nadine, Arga, dan Arief terpangpang jelas di sana.
Wajah Arief muda begitu menghipnotisnya, wajah yang begitu ia rindukan, membuatnya betah berlama-lama memandanginya.
__ADS_1
Tapi, wajah Papa nya Arief seolah tak asing baginya, tapi dimana ia pernah bertemu, entahlah sepertinya dia lupa.
Oh iya aku ingat.
Dia baru ingat, dia bertemu saat dulu, orang tua mereka di panggil ke sekolah karena insiden dengan Rangga.
Senyum tersungging di bibirnya mengingat peristiwa itu, betapa Arief mati-matian membelanya.
"Kenapa tersenyum seperti itu" Arga menyenggol bahu Cantik.
"Ah tidak"
Cantik duduk dan berbincang ringan dengan Mamanya Arga. entah itu tentang pekerjaan dan tentang yang lainnya.
Mama sangat menyambut baik kedatangannya.
"Next time kalau kesini lagi, kamu wajib bawa anak manis itu, Mama ingin sekali mencubit pipi gembil nya itu"
"Minggu depan Arga bawa dia kesini ma, jika tak ada halangan"
Mama sangat senang mendengar ucapannya barusan.
Cantik mengedarkan pandanganya memindai keberadaan Arief, tapi rumah nampak sepi tak ada orang lain sepertinya, hanya terlihat beberapa asisten rumah tangga saja.
"Si Kulkas 2 pintu itu dimana Bun?"
"Ga, jangan seperti itu, dia kakakmu, Arief tak ada di rumah, katanya dia sedang menemui klien"
"Hari Minggu masih bekerja, dasar workaholic."
Akhirnya dia mengetahui keberadaan Arief, untunglah Arief tak ada, ia hanya tidak siap jika harus bertemu dengan Arief dan Arga secara bersamaan.
Pasti Arga akan curiga terhadap ekspresinya nanti, saat ini dia hanya akan menyimpan rapat-rapat siapa Arief yang sebenarnya, sampai Arief sendiri yang mengakui siapa dirinya.
Malam telah larut, suasana rumah mewah dengan 3 lantai bergaya klasik Eropa itu nampak semakin lengang. tak seperti di rumahnya walau sederhana tetapi suasana hangat karena semua anggota keluarga berkumpul.
"Ma sudah malam, aku pamit pulang ke Bandung, sekalian mengantarnya kembali ke kontrakan"
"Lain kali bawa mobil Ga, jangan bawa motor, mama khawatir"
"Jangan khawatir ma, Arga sudah ahli mengendarainya"
"Mama percaya kamu, tapi tetap hati-hati ya!"
Masih terekam jelas di memori wanita paruh baya dengan 3 anak itu. saat dimana Arief mengalami kecelakaan motor yang membuatnya koma selama 2 bulan dan membuatnya hilang ingatan sampai saat ini.
Ada trauma tersendiri melihat anak-anaknya mengendarai motor. bahkan dia melarang keras Arief untuk mengendarai motor, mobil saja harus menggunakan sopir.
Motor Arga melaju keluar dari gerbang setinggi hampir 3 meter itu.
Tak berselang lama Mobil mewah berwarna hitam masuk.
"Motor siapa yang barusan keluar dari sini Ma?"
__ADS_1