
Tok tok tok...
Arief beranjak dari tempat tidurnya lalu membuka pintu kamar yang sudah ia kunci tadi.
"Kejutan....." Seorang gadis melebarkan tangannya lalu tanpa permisi memeluk Arief.
"Lepaskan!" Arief mencoba melepaskan tangan gadis yang paling malas ia temui itu.
"Honey, aku rindu kamu, apa kamu tak merindukan aku?" Leony melepas pelukannya pada Arief, lalu memegang lengan Arief dengan sangat manja.
"Tidak" Jawab Arief singkat, sambil beranjak dari kamarnya, dia tau bisa bahaya jika berada di dalam kamar berdua dengan gadis agresif itu, bisa-bisa dia di terkam hidup-hidup oleh Leony.
"Ish, kau selalu saja berpura-pura Honey" Leony semakin mengeratkan tangannya pada lengan Arief, tapi terlepas saat Arief menuruni tangga dengan cepat.
"Tunggu aku Honey!"
"Berhentilah memanggilku dengan sebutan itu, namaku Arief bukan Honey" Ia bergegas menuruni tangga, menuju ruang keluarga, ada Mama Galuh yang duduk di sana.
Arief duduk di sebelah Mama Galuh dengan wajah yang di tekuk. tak ada ekspresi bahagia sedikitpun di wajah Arief melihat kedatangan Leony, yang ada dia kesal berdekatan dengan gadis agresif itu.
__ADS_1
"Rif, kenapa?" Mama Galuh melihat anak keduanya itu berwajah masam.
"Hmmz" Arief hanya berdehem dan tak menjawab apapun.
"Arief jahat Tante, masa tadi dia meninggalkan aku di atas" Leony duduk di sebelah Mama Galuh, dan bermanja pada wanita yang ia anggap akan jadi mertuanya itu.
"Bukan jahat sayang, mungkin kamu yang lambat jalannya, kamu tau kan siapa Arief?"
Leony tersenyum lalu berpindah duduk di sebelah Arief. Arief tentu saja risih berdekatan dengan gadis itu.
"Besok Leony akan bekerja di kantor kita Rif"
"Posisiku apa Tante? aku harap aku harap aku akan menjadi Sekretaris pribadi Arief"
"Itu terserah Arief, dia yang memutuskan" Mama Galuh melirik ke arah Anak nya.
"Aku tak mungkin mengganti sekretaris ku yang sekarang, dia sangat bisa aku andalkan, kamu boleh pilih posisi mana yang kamu inginkan, tentunya yang sesuai dengan kemampuanmu, jangan sampai kamu menyulitkan perusahaan hanya karena ambisi mu"
Arief tak mungkin membiarkan Leony menjadi sekretarisnya, bisa gila dia seharian berdekatan dengan Leony.
__ADS_1
"Baiklah aku akan masuk di bagian marketing, Karena itu keahlian ku, dan aku jamin aku akan bekerja profesional, dan membuat perusahaan kamu semakin berkembang" Leony tersenyum dengan begitu manisnya saat mengatakan itu tapi bagi Arief senyuman itu hanya senyuman yang membuatnya jengah.
Malam itu Leony menginap di rumah Arief, mungkin besok atau lusa barulah ia akan tinggal di apartemennya.
Arief mengunci rapat kamarnya, ia takut gadis yang kurang sopan santun itu nyelonong masuk ke kamarnya dan membuatnya tidak nyaman.
Tak seperti biasa Arief bangun lebih awal, setelah sholat subuh ia bergegas bersiap diri untuk berangkat lebih awal karena ia tak mau berangkat bersama Leony.
Pukul 05.30 ia sudah berangkat meninggalkan Leony yang masih berada di kamar mandi.
"Aku berangkat duluan Ma, aku ada urusan penting" Arief mencium tangan ibunya, juga tak lupa mencium pipi nya.
"Leony kok kamu tinggal?"
"Biar saja ma, aku malas harus berangkat bersama" Arief berlalu pergi tanpa mempedulikan ucapan Mamanya yang menyuruhnya untuk menunggu Leony.
Arief melajukan mobil nya dengan kecepatan sedang, biasanya Ammar menjemputnya tapi saat ini ia ingin mengendarai sendiri mobil miliknya.
Entah kebetulan atau bukan saat melewati kawasan rumah Cantik, Arief tak sengaja melihat wanita yang selalu membuatnya merasa sakit kepala itu hendak menyebrang. Tapi karena kepalanya sakit ia sampai tak fokus menyetir dan menabrak Cantik.
__ADS_1
"Aghrhh..." Cantik berteriak melihat sebuah mobil yang tepat berada di depannya.