
''Cie cie kalian pacaran ya..?''
mendengar mereka berkata seperti itu, hati ku bahagia, haha seandainya saja benar, pasti aku akan membahagiakan nya..
Seperti nya benar aku menganggapnya bukan hanya sebagai adik tapi lebih dari itu..
Sepertinya dia benar-benar sakit, aku tak tega, aku mengantarnya pulang, dengan menaiki angkot.
Ya selama di sini aku berbaur dengan anak-anak lain, pulang pergi aku naek angkot, padahal saat di Jakarta aku di antar oleh supir pribadi kemana-mana. Tak pernah aku berpikir akan betah menjadi rakyat biasa seperti mereka.
memangnya aku rakyat seperti apa? aku juga rakyat biasa cuma mungkin uangku sedikit lebih banyak dari mereka.
Yang aku tahu rata-rata dari mereka itu mempunyai uang bekal sekolah 3ribu-10ribu saja perhari, sedangkan uang sakuku tak pernah aku hitung berapa.
Aku punya penghasilan sendiri, dan kalau urusan sekolah orangtuaku masih menanggung semuanya, bahkan mama masih memberikan aku saku 100rb sehari kadang-kadang Dee lebih banyak.
Rumah cantik nampak sepi, sepertinya orang tuanya belum pulang bekerja, rumahnya sederhana dengan halaman yg cukup luas dan Sangat asri di penuhi dengan tanaman hias dan juga sayuran dalam polibag. Udaranya sangat sejuk, aku sangat nyaman berada di sini berlama-lama...
Bukan hanya rumahnya yg membuat ku nyaman, pemiliknya juga, dia sangat mampu membuatku betah berlama-lama di dekatnya...
Setelah ibunya datang aku segera pulang ke rumah, bukan untuk tiduran atau bermalas-malasan, aku pulang untuk bekerja.
Hebat kan aku masih SMP sudah bisa menghasilkan uang sendiri, Sebagian waktuku aku habiskan dengan komputer, membantu mama mendesain rumah yg akan di bangun, atau sekedar mendesain ruangan saja...
Bakat ku resmi di turunkan dari mama, mama adalah desainer hebat dia adalah idolaku, Dia wanita yg Paling penting dalam hidupku...
Sedangkan Papa dia adalah Laki-laki yg sangat aku segani dan aku hormati, ya walaupun papa itu suka sekali meledekku karena aku lemah katanya.
"Kamu itu Anak Laki-laki pertama Papa, Harusnya kamu yg mengikuti jejak papa masuk ke dalam dunia militer, kenapa kamu malah mengikuti mama kamu.."
"Tapi pa, Aku lebih nyaman menjadi seperti mama, daripada menjadi Seperti papa."
"Terserah kamu saja, anak Mama, biarkan Arga saja yg menuruti keinginan papa, dia lebih berani dari kamu, yg hanya pandai memainkan keyboard komputer saja.."
Memang sepertinya Arga anak kebanggan papa, dia punya nilai plus karena dia berminat dengan dunia militer.
__ADS_1
Sedangkan aku tak mau, aku tak mau jika nanti anak dan isteri ku akan merasa khawatir jika aku harus ditugaskan ke area konflik dan harus berperang.
atau harus meninggalkan mereka dengan waktu yg cukup lama, seperti apa yg kami dan mama rasakan saat papa ditugaskan ke Medan perang, atau ke luar pulau...
Sungguh aku tak mau, aku hanya ingin menjadi pria biasa saja yg pergi pagi dan pulang sore, untuk bekerja.
*****
Hampir setiap hari aku bersama Cantik, aku mengajaknya untuk belajar bersama di kelas, di perpus atau di mana pun itu, sebenarnya dia anak yg cerdas, sekali saja aku ajarkan dia langsung mengerti, dan hasilnya dia mendapatkan ranking ke dua di kelas, sedangkan aku dapat ranking 1 dan juga sebagai juara pararel.
Sebenarnya aku tak mau terlalu mencolok di hadapan semua orang, tapi bagai mana lagi, saat aku mengerjakan tugas, semua soal itu terasa sangat gampang, bukannya sombong tapi memang benar karena IQ ku memang di atas rata-rata.
Saat memasuki tahun ajaran baru sebagai kelas 2, Aku mencari namaku pada selembar kertas yg tertempel di dinding di setiap kelasnya, belum juga aku melihat namaku, justru aku mendapatkan pemandangan yg sungguh membuatku emosi tingkat tinggi.
Aku paling tidak suka melihat seorang perempuan di perlakukan kasar oleh laki-laki.
Apa lagi perempuan itu Cantik, orang yang sangat penting bagiku.
dia di dorong oleh anak laki-laki sampai terjatuh.
"kamu yg mendorongnya, kenapa kamu menyalahkan dia?" ucapku pada anak itu, bukannya minta maaf, dia malah menantang ku, tapi cantik mengajakku untuk pergi.... tapi...
Anak itu malah memukul cantik sampai bibirnya berdarah.
Aku tak bisa menahan emosiku melihat cantik di perlakukan seperti itu, sebenarnya kalau hanya verbal aku masih bisa memakluminya, tapi ini kekerasan fisik, aku tak bisa menerimanya.
Aku marah - semarah marahnya pada anak itu, Akhirnya aku berkelahi dengan anak laki-laki itu, namanya Rangga.
Cantik berusaha melerai perkelahian kami, sampai akhirnya dia terdorong oleh Rangga,
Kepalanya sampai berdarah terbentur dinding.
Aku sangat panik melihat darah mengucur di kepala gadis yg sangat aku sayangi itu.
Bukan nya cepat menolong guru-guru malah menceramahi kami dulu.
__ADS_1
''pak, bukan saatnya berkata seperti itu, cepat tolong dia kepalanya berdarah.."
Akhirnya kami membawa Cantik ke ruangan UKS, sebenarnya kami mau membawa cantik ke rumah sakit, tapi dia menolak.Dia berkata bahwa dia baik-baik saja, walaupun aku tak yakin.
Melihatnya di sakiti secara lisan saja, aku sangat kasihan kepadanya, apa lagi melihatnya terluka seperti ini, aku sangat menghawatirkan keadaanya.
Apa lagi nanti Cantik dan Rangga akan sekelas, bagai mana lalu anak itu menyakiti cantik lagi.
Kepsek dan beberapa guru menyidang kami, bukannya mengaku salah Rangga malah mengelak dari kesalahannya, untung saja banyak anak yg melihat kejadian itu, jadi tentu saja si Rangga otak udang itu tak bisa lagi mengelak.
Aku mengantarnya pulang, kali ini rumah nya tidak di kunci, dia mempersilahkan aku masuk, dan membuatkan ku minum.
Sesungguhnya aku menolak tapi, dia berkata.
"Yang sakit kepalaku, bukan tanganku"
Akhirnya Aku di suguhi teh tawar oleh Cantik, karena dia kehabisan gula, sebenarnya dia ingin membeli tapi aku melarangnya..
"Tuh kan cantik, tanpa gula pun teh ini terasa manis" aku mengucapkan kalimat seperti itu sambil melayangkan senyuman maut ku padanya..
"hah manis?, apa kamu mati rasa rif? manis dari mananya? teh pahit begini di bilang manis. kamu aneh"
sepertinya Cantik kebingungan dengan ucapan ku.
Jangan bingung Cantik sini biar aku jelaskan...
"Iya, apapun yang aku minum, kalau minumnya sambil melihat kamu, pasti semuanya akan terasa manis"
Haha, wajahnya memerah, kena kamu cantik sama gombalan, si anak mama ini.
Aku tak percaya anak seperti ku bisa mengatakan hal seperti itu kepada seorang anak perempuan, sungguh ini di luar dugaan..
***
Karena insiden yang terjadi kemarin. orang tua kami bertiga di panggil ke sekolah,
__ADS_1
Bukan nya marah mendengar aku berkelahi dan mendapatkan hukuman, papa malah bangga kepadaku, dasar papa yg aneh..