Jangan Panggil Aku Cantik...!

Jangan Panggil Aku Cantik...!
Bab 36 Suami siaga.


__ADS_3

Dan satu lagi dia melupakan seseorang yang saat ini menangis menunggunya.


***


Hari Adalah hari kelulusan Gadis yang sedang hamil tua itu, usia kandungannya menginjak 8 bulan.


Selama 8 bulan Cantik pandai menyembunyikan keadaanya, bahkan perutnya pun tidak terlalu membuncit, hanya terlihat seperti berisi saja.


Orang tuanya sangat bangga dengan Cantik, dia lulus dengan nilai terbaik di sekolah itu, walaupun pikirannya kacau, tapi keinginan nya untuk membanggakan orang tuanya sangat tinggi.


Acara perpisahan di langsungkan seminggu setelahnya, ibu, ayah, dan kedua kakaknya hadir dalam acara istimewa itu.


Ada raut kesedihan yang terpancar dari gadis itu, ya sebenarnya dia bukan gadis lagi, sekarang dia adalah calon ibu.


"Kamu kenapa neng? kenapa menangis seperti itu? harusnya kamu bahagia, lulus dengan nilai terbaik."


"Ini bukan air mata kesedihan Bu, ini air mata kebahagian" ucap nya.


Ya benar saat ini dia sangat bahagia menjadi no 1 di sekolahnya, tapi ketidak adaan Arief di sisinya saat ini membuatnya merasa seperti orang paling tidak bahagia di dunia ini.


Jika saja Arief ada mungkin saat ini Arief yang akan lulus dengan nilai terbaik dan ia hanya akan mengekor di belakangnya seperti biasa.


Tetapi Arief pergi meninggalkannya, memberikan nya kesempatan untuk menjadi no 1 di sekolah itu.


Berbagai tawaran beasiswa masuk universitas ternama untuk nya, dia menimbang-nimbang akan masuk universitas mana.


Akhirnya dia memutuskan untuk masuk ke universitas yang sama dengan kakaknya Rama. Dengan jurusan yang sama pula.


Bukan tanpa alasan ia memilih universitas itu, jujur saja saat ini dia butuh orang yang akan melindunginya, dan dia yakin bahwa Rama akan melindungi adiknya dengan sepenuh hati.


Dari mulai pendaftaran, sampai seleksi masuk universitas itu telah ia jalani, sampai pada saat ospek tiba ia lewati dengan sangat baik.


Tapi di hari ospek terakhir sesuatu terjadi padanya, perutnya terasa sangat sakit.


Cantik curiga bahwa dia mengalami kontraksi akan melahirkan. Dengan sigap Rama menolongnya.


"Kamu kenapa Cantik?" Tanya lelaki tampan itu.


"Perutku sakit kak, tolong bawa aku ke rumah sakit sekarang!"


Ucapnya sambil memegangi perutnya itu.


"Apa separah itu sampai harus ke rumah sakit?" tanya Rama dengan khawatir.


Cantik meminta Rama untuk membawanya ke sebuah klinik tempat Cantik biasa memeriksa kandungannya.

__ADS_1


Sebelumnya ia akan pergi ke rumah sakit tetapi urung karena saat ini Dokter Nadine sedang praktek di klinik miliknya.


"Apa tidak salah kamu mau periksa di sini?" ucap Rama pada adiknya itu.


Rama begitu heran kenapa sang adik menyuruhnya berhenti di klinik ibu dan anak.


Tapi rasa herannya terabaikan melihat adiknya yang meringis kesakitan.


Cantik segera di bawa ke ruangan bersalin.


Rama mengekor perawat yang mendorong kursi roda yang cantik duduki.


Dokter Nadine melirik ke arah Laki-laki yang usianya terlihat lebih muda darinya.


"Cantik.. apa dia..?" Dokter Nadine tak meneruskan ucapannya, karena cantik sudah terlebih dahulu memotong ucapannya itu.


"Bukan dok, dia kakak saya." ucapnya terbata.


Rama begitu heran dengan semua ini, seribu tanya sesak di dada, sebenarnya apa yang terjadi dengan adiknya itu, dia sangat khawatir.


Prasangka demi prasangka pun akhirnya berseliweran di pikiran jajaka tampan itu.


'Apa mungkin Cantik hamil, tapi bagaimana mungkin dia anak baik dan berprestasi, bagaimana mungkin dia sampai..' batinnya.


Rama masih tak mengerti dengan semua ini, bagaimana adiknya itu bisa sampai begini, dia sangat ingin menghubungi orang tuanya, tapi urung di lakukan, dia takut orang tuanya akan syok mendengar berita ini, biarlah hanya dia saja yang tahu, setidaknya sampai semua jelas.


"Apa yang sebenarnya terjadi dengan adik saya Cantik dok" tanya Rama dengan raut wajah penasaran.


"Silakan duduk...! Sebelumnya Perkenalkan nama saya Dokter Nadine" Nadine mengulurkan tangannya.


"Saya Rama, kakaknya Cantik" Rama membalas uluran dokter itu.


"Saat ini adik anda sedang mengalami kontraksi karena akan melahirkan" ucap dokter muda itu.


Deg...


Jantung pria itu serasa akan berhenti, mendengar adik polosnya itu akan melahirkan, bahkan dia belum menikah.


"Ini tidak mungkin dok, bagaimana bisa dia.." Rama masih tak percaya dengan apa yang dikatakan dokter Nadine.


"Saat ini Cantik berada di pembukaan 5, mungkin persalinan akan terjadi beberapa saat lagi, Cantik meminta saya untuk menjelaskan kepada anda"


Dokter Nadine menceritakan semua yang ia ketahui tentang kondisi Cantik pada Rama, dengan sangat lengkap dari sudut pandang dirinya tentunya.


Rama tak kuasa menahan air matanya, air mata itu meleleh begitu saja, tanpa ia sadari.

__ADS_1


Sungguh berat takdir yang menimpa adiknya itu, Rama sangat merasa iba pada Cantik, dia sama sekali tidak marah atas kelakuan adiknya itu, justru dia sangat merasa kasihan padanya.


"Boleh saya menemuinya sebentar dok..!"


"Mari ikut saya..!"


Rama membuka pintu ruangan itu dengan hati yang hancur. Dilihatnya adiknya itu sedang meringis kesakitan, posisi tubuhnya miring ke sebelah kiri.


Di usapnya kepala adiknya itu, Lalu dia Cium keningnya dengan penuh kasih sayang.


"Kak, maafkan aku kak..!" ucapnya sambil meneteskan air mata.


"Yang kuat ya Cantik, jangan khawatir Kakak akan menemani kamu disini" ucap pria itu.


"Makasih kak"


Sebelumya Cantik berfikir Rama akan marah padanya, tapi ternyata dia masih peduli padanya, bahkan dia mau menemaninya di sini.


"Bolehkah saya menemaninya di sini dok?" ucap pria itu bersungguh sungguh.


"Apa anda yakin?" jawab dokter Nadine ragu.


"iya"


"Tidak usah kak, aku bisa sendiri."


"Biarlah cantik, setidaknya hanya ini yang bisa aku lakukan"


"Makasih kak" Air mata itu tak henti mengalir di pipi wanita yang bentar lagi menjadi ibu itu.


Seperti suami siaga, Rama menggenggam tangan adiknya yang kesakitan, dia juga memijit pinggang adiknya, lalu memberi adiknya minum.


Entah lelaki mana yang tega membuat adiknya sampai seperti ini, dokter Nadine tidak memberi tahunya tentang siapa ayah dari bayi yang sebentar lagi akan lahir ini.


Setelah semuanya beres dia akan menanyakan kepada adiknya tentang semua ini. Jika sampai dia tau dan menemukan orang nya, dia akan menghajar habis-habisan laki-laki brengsek itu.


Melihat Rama yang begitu peduli padanya, dia sedih harusnya Arief yang ada di sampingnya dan mendampinginya melahirkan bukan kakak nya.


Tapi takdir berkata lain, Nasi sudah menjadi bubur, apa lagi yang bisa ia perbuat selain menghadapi semua nya dengan kuat.


Jam dinding masih terus berdetak detik demi detik terasa sangat lama bagi wanita yang sedang kesakitan itu.


"Dok apa masih lama? aku sudah tak kuat, aku mengantuk dok."


"Sebentar lagi Sayang, jangan tidur, kamu jangan sampai tidur, kamu harus kuat ya..!" ucap dokter itu.

__ADS_1


Di ruangan berpendingin udara itu, suasana tegang nampak di rasakan oleh ke empat orang itu, terlebih Rama, dia sangat mengkhawatirkan kondisi adiknya.


"Cantik apa kakak harus menghubungi ayah dan ibu?"


__ADS_2