
"Apaan sih" Arga mengerenyit kan dahinya.
"Cantik, kenalkan ini suami kakak, dan sayang ini Cantik, orang yang sering aku ceritakan padamu"
Mereka berkenalan, beerapa waktu kemudian Cantik pamit karena merasa akan mengganggu pasangan yang sudah lama tak bersua itu.
"Aku pamit pulang kak." Ucap Cantik pada Nadine dan suaminya.
Tentu saja Arga juga akan pergi dari ruangan yang terasa sangat mempengaruhi mood nya itu, melihat sepasang suami istri yang bermesraan di hadapannya membuat Arga mencebikkan bibirnya beberapa kali.
"Ayo, aku antar..!"
"Kami bisa pesan taksi mas Arga" Ucap cantik merasa tidak enak merepotkan.
"Ayo mi, pulang naik motor papi, eh om" ucap Kay seraya menarik-narik ujung baju maminya itu.
"Iya Kay" akhirnya mereka pulang bersama, tapi bukannya membawa Cantik dan Kay pulang Arga sengaja mengajak jalan-jalan ibu dan anak itu ke sebuah Mall ternama di kota kembang itu.
Arga mengajak Kay bermain di arena permainan yang ada di sana, dengan antusias Kay bermain di temani Arga, papi palsu nya Kay.
Cantik hanya duduk di pinggir sembari melihat kedekatan antara Kay dan Arga.
Hati wanita itu nampak campur aduk, antara bahagia melihat Kay yang tertawa lepas dengan Arga, dan sekaligus sedih melihat anaknya menganggap orang lain sebagai ayah nya.
Saat bersama Kay, sosok Arga yang dingin dan kaku, layaknya anggota TNI pada umumnya menjelma menjadi sosok yang sangat hangat dan ngemong, ia begitu menikmati perannya sebagai papi palsu Kay.
Ya walau maminya Kay tidak suka jika Kay memanggil Arga dengan sebutan papi, karena papi Arga hanya satu yaitu Arief, walaupun dia tau mungkin Arief tak akan mau di panggil papi oleh anaknya itu.
"Mami ayo! aku lapal" Kay menuntun ibunya untuk mengikuti kemana Arga pergi.
Kay juga memegang tangan Arga, Alhasil ketiganya mendapat sorotan dari orang-orang di sekitar.
"Keluarga yang serasi ya, anak dan ayahnya ganteng, ibunya cantik" Ucap beberapa ibu-ibu yang menyaksikan kedekatan mereka bertiga.
Ya benar, Cantik yang sekarang bukan cantik yang dulu, dia begitu cantik, dia merawat dirinya dengan baik dia berpenampilan sangat anggun, dengan tutur kata yang sopan dan smart.
__ADS_1
Setelah menginjak bangku kuliah, bukan satu 2 orang yang mendekatinya dan meminta dirinya untuk menjadi kekasih. tapi selalu ia tolak karena di hatinya hanya ada 1 nama saja yaitu Arief ayah kandung Kay.
Sekarang saja saat anaknya tak bisa lepas dari Arga, Cantik sama sekali tak mempunyai perasaan apapun kepada Arga. Walaupun gerak gerik Arga menunjukan bahwa dia tertarik padanya.
Mereka bertiga duduk di kalah satu meja di restoran cepat saji yang ada di dalam mall itu.
"Kay mau makan apa sayang?" Tanya Cantik pada anak kesayangannya itu.
"Aku mau ayam goeng mami" jawab Kay dengan antusias.
"Mas Arga mau makan apa?"
"Sama saja dengan Kay"
Akhirnya menu ayam goreng krispi dan kentang goreng menjadi menu mereka bertiga untuk makan siang hari itu, tak lupa juga mereka memesan 3 gelas es teh manis.
Kay masih bergelayut manja di pangkuan Arga, Cantik sangat merasa tidak enak melihat nya.
"Kay sini sama mami, kasian om Arga nya mau makan" Cantik membujuk Kay yang terus menempel kepada papi palsu nya itu.
"Ga mau mi, mau sama om papi." Kay menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Biarkan saja Cantik, namanya juga anak kecil."
Akhirnya mereka bertiga makan dengan posisi Arga masih memangku Kay, dan cantik menyuapi anak nya itu.
"Maafkan anak aku, ya mas Arga, dia jadi manja begini kepada kamu" Sejak hubungan mereka dekat, Arga meminta Cantik untuk tidak memanggil nya dengan bapak lagi, apalagi sekarang Cantik tahu jika umur Arga lebih muda darinya.
"Iya, aku senang, aku merasa seperti punya mainan baru, yang lucu dan chaby kaya kamu Kay." Ucap Arga yang mencubit pipi gembul anaknya itu.
"Sepertinya dia rindu sosok seorang ayah Cantik, maaf kalau boleh tau Ayahnya kah kemana?" Arga sepertinya salah bicara, tampak dari raut wajah cantik yang berubah masam.
Huffth... Cantik menarik nafasnya panjang.
"Aku tak tau dia dimana sekarang, setelah tau aku mengandung anaknya, dia pergi begitu saja, tanpa kabar sama sekali, terakhir aku tahu dia pindah keluar negeri" Ucapnya dengan kata yang terdengar sedikit bergetar.
__ADS_1
"Apa kamu tidak mencari nya lewat sosial media?" tanya Arga lagi.
"Sudah, tapi jejaknya seperti hilang di telan bumi, tak ada informasi apapun tentangnya"
"Jika boleh aku tahu, siapa namanya? Aku akan suruh orang untuk menyelidikinya" Ucap Arga menawarkan bantuan.
"Tak usah mas Arga, biar aku saja yang tau, biar aku saja yang menyimpan semua ini sendiri, lagi pula aku sudah mengikhlaskan kepergiannya, dengan atau tanpa dirinya, yang terpenting bagiku adalah melihat Kay tumbuh dan berkembang dengan baik dan sehat."
Jika kamu mau menerimaku Cantik, aku akan jadi ayah terbaik untuk Kay, dan juga akan selalu ada untukmu, saat susah dan senang. batin pria tampan itu.
Tapi sepertinya bukan saat yang tepat untuk mengutarakan perasaannya, bahkan kini dia masih belum cukup siap untuk menjalin sebuah rumah tangga.
Tak seperti kakaknya Arief yang sejak SMP sudah berpenghasilan, Arga hanya fokus sekolah sekolah saja.
Walaupun harta ayah dan ibunya tak akan habis 7 turunan, tapi dia akan senang jika kelak istrinya makan dari hasil keringat nya sendiri.
Mereka mengakhiri kebersamaan itu, Arga mengantar cantik pulang ke rumah nya.
Kedatangan mereka di sambut oleh ayah dan ibu.
"Kasep, abis dari mana sama om ganteng?" tanya Ayah pada cucunya yang masih berada di pangkuan Arga.
"Aku habis main sama om papi, Abah" Jawab Kay.
"Masuk dulu nak Arga, kita ngopi dulu!"
"Gak usah repot-repot pak, saya harus segera kembali ke asrama"
"Kay, turun yuk! om Arga mau pulang" Cantik segera mengambil alih gendongan Kay dari Arga.
Arga segera pamit dan kembali ke tempat tinggalnya, di sebuah asrama khusus untuk tentara yang letaknya tak terlalu jauh dari tempat tinggal ibu satu anak itu.
"Arga baik ya cantik, dia juga nampak sayang dengan Kay." Ucap ayah, yang hanya di jawab dengan anggukan saja.
"Apa kau tak mau membuka hati untuk Arga, dari perhatiannya kepada mu dan Kay, ayah yakin dia mempunyai perasaan lebih untukmu."
__ADS_1
"Biarkan waktu yang menjawabnya Ayah, rasanya luka di hatiku ini belum siap untuk menerima orang baru yah."
"Justru kamu harus biarkan orang baru itu masuk dan mengobati lukamu sayang, biarkan rasa sakit itu sembuh dengan cinta yang baru" ibu menimpali pembicaraan ayah dan anak itu.