
Kabar tentang itu juga akhirnya sampai di telinga pihak kampus, mereka memanggil Cantik dan kedua orang tuanya untuk mengklarifikasi kabar tersebut.
Setelah melalui berbagai pertimbangan Akhirnya Kampus tidak jadi mencabut beasiswa untuknya, mereka hanya memberikan kesepakatan jika dalam 2 semester prestasinya turun, maka beasiswa itu akan di cabut sepenuhnya.
Alhamdulillah walaupun Cobaan selalu datang silih berganti tapi semua dapat ia hadapi dengan baik.
Dia menyayangi Kay sepenuh hati, walau tanpa ayah, Kay tumbuh dengan kasih sayang penuh dari Mami nya, Abah dan Enin nya, jga dari kedua Ua nya, Dewa ingin di panggil Abi oleh Kay, sedangkan Rama ingin di panggil Papa oleh Kay, alasannya tak lain dan tak bukan agar Kay tak merasa kehilangan kasih sayang seorang ayah.
"Mami, Doni bilang Abi sama papa bukan papi kandungnya Kay, Doni bilang Kay gak punya papi" Ucap anak laki-laki tampan berumur 3 tahun lebih itu.
"Kay, walaupun Kay tak punya Papi, tapi Abah, Abi Dewa, dan papa Rama, sayang sama kay sama seperti ayah Doni dan yang lainnya"
"Tapi Mami, dimana papi nya kay? kenapa papi tak ada di sini?"
"Papi Kay, sedang bekerja di surga, di tempat yang sangat jauh, nanti jika kay sudah besar papi kay akan pulang, dan membawa banyak mainan untuk kay" Cantik mencoba membohongi anaknya yang mulai banyak ingin tau tentang ayahnya.
"Benalkah Mami?" Ucap anak itu dengan memeluk ibunya.
Hati ibu mana yang tak akan menangis mendengar anaknya berkata seperti itu.
Rif sudah 4 tahun lebih kamu pergi, tak ingatkah kamu padaku dan anak kita?
Jika saja Cantik bisa mendengarkan author, pasti author akan bilang jangan inget kamu sama bayi kamu, sama diri sendiri aja kagak inget di cantik
Kay tumbuh menjadi anak yang tampan dan sangat pintar, di usianya yang belum genap 4 tahun, dia sudah pandai membaca menulis dan menggambar dengan baik.
Ya Kay sangat pandai menggambar, bakatnya itu jelas di turunkan dari Arief.
"Kenapa belum tidur cucu enin? Kay sedang apa?" Ucap ibu sambil mengelus pucuk kepala cucu kesayangannya itu.
Sementara Cantik masih sibuk mengotak-ngatik laptop miliknya.
Wanita itu saat ini sedang sibuk menyiapkan skripsi nya.
"Aku sedang menggambar enin" ucap anak itu seraya menunjukan hasil gambarnya kepada neneknya itu.
__ADS_1
"Ini Kay, ini mami, ini papi Kay yang sedang bekerja di surga Enin, kata mami di sana tak ada sinyal, jadi Kay tidak bisa menelepon papi enin" lanjut Kay.
Neneknya itu pergi berlalu, ia tak kuasa menahan buliran air mata yang jatuh tak tertahan, sesak rasanya di dada wanita paruh baya itu, mendengar ucapan polos dari cucunya.
Kay begitu merindukan sosok ayahnya, ya benar besok dia akan memaksa anaknya untuk berkata jujur siapa ayah dari Kay, sudah bertahun-tahun bungkam mungkin ini saat yang tepat untuk bertanya Agi padanya.
Jika saja cantik masih enggan untuk berkata yang sebenarnya, maka ibu dari 3 orang anak itu, akan membujuk anak perempuan satu-satunya itu untuk membuka hatinya lagi untuk seseorang yang bisa menjadi papi baru Kay.
Sebenarnya bukannya tak mau Cantik membuka hati untuk seorang pria, tapi tak bisa, sungguh tak bisa.
Saat ini dengan prestasi yang sangat baik di kampus, bukan 1 atau 2 orang yang berusaha mengambil hatinya. tapi dia selalu menolak.
Bayangan masa lalu yang sangat indah bersama papinya Kay begitu melekat di hati ibu satu anak itu.
Kesalahan fatal Arief telah meninggalkannya tanpa permisi itu, tak sanggup menghapuskan semua kebaikan nya di masa lalu yang begitu banyaknya.
Walaupun luka yang dibuat Arief begitu menganga, tapi dengan mengingat betapa manisnya kenangan saat bersama, luka itu perlahan kering dan berubah menjadi rindu yang begitu dalam.
***
Minggu ini giliran Cantik membawa anaknya untuk berkunjung ke sebuah Landasan udara di daerah sekitar bandung.
Hari ini bertepatan dengan ulang tahun TNI, di sana akan di adakan atraksi udara Aero modeling.
Berhubung kedua kakak nya sedang ada di Bandung, mereka ikut serta dalam Acara ibu dan anak itu, tak lupa sekalian Ibu juga di ajak nya, sayangnya ayah tak bisa ikut karena kesibukannya.
Acara dimulai dengan beberapa tahap mulai dari doa apel, atraksi baris berbaris, Aero modeling, dan juga pengenalan alutsista TNI yang sangat menakjubkan.
Kay sangat antusias menyaksikan semua pertunjukan yang para anggota TNI itu tampilkan.
Sebenarnya bukan Kay saja yang takjub, Cantik ibu dan kakaknya pun sama, mereka sangat menikmati semuanya.
"Mami nanti kalau Kay besar, Kay mau jadi tentala, bial Kay pakai baju seperti itu, Kay suka" ucap anak tampan itu seraya menarik-narik ujung pakaian maminya itu.
"Kay mau pakaian seperti itu?" Cantik menunjuk salah satu tentara yang ada di sana.
__ADS_1
Kay mengangguk dengan sangat antusias.
"Nanti selesai acara mami belikan ya, seusai acara ini, ok?"
"Asik" Anak itu berjingkrak-jingkrak kesenangan.
Tak berselang lama, raut wajah Kay yang tadinya sangat senang berubah sedikit murung.
"Papa Lama, Kay mau di gendong sepelti dia" Kay menunjuk seorang anak laki-laki yang tengah tertawa riang dengan ayah nya, dia di gendong di atas pundak ayahnya.
"Baiklah boy, tapi kamu kaya nya berat deh, liat ini pipi kamu semakin gembil" Ucap Rama sambil mencubit pipi gembul keponakan nya itu.
"Sakit papa"
Rama menggendong Kay di pundaknya, Kay bersorak kegirangan menyaksikan pesawat yang sedang beratraksi di udara.
Hati kecil Cantik menjerit melihat Kay, dia sangat merindukan sosok ayahnya, untung saja kedua kakaknya masih sudi untuk berperan sebagai ayah yang sangat menyayangi kay.
Anak kita sudah besar ay, dia sangat merindukan mu, apa kamu tak merindukan nya ay?
Setelah acara selesai mereka memutuskan untuk makan di sebuah restoran terdekat. Kay makan dengan sangat lahap, tiba-tiba Kay merengek dia ingat dengan janji ibunya tadi, bahwa dia akan dibelikan pakaian seperti yang paman tentara itu pakai.
"Bu, aku ke sana sebentar ya, mau beli baju tentara buat Kay"
"iya, Kay disini sama enin saja ya, biar mami yang ke sana" ucap ibu pada Kay.
"Kay mau ikut mi" Kay merengek pada ibunya itu.
Akhirnya dia mengikuti ibunya itu. Kay sangat senang memakai seragam itu, dia sangat bangga, dengan pakaian yang ia pakai.
Karena Kay terlalu antusias dengan itu, dia ingin segera memamerkan pakaian baru yang ia kenakan, pada Enin, Papa, dan Abi nya itu.
Tanpa sepengetahuan Cantik yang tengah membayar pakaian yang dibelinya itu, Kay malah berlari menyebrang sendiri. dan....
jegeerrrr....
__ADS_1