
"Gadis kecil ibu yang bernama Cantik Jelita ini, sedang benar-benar jatuh cinta bu"
Tentu saja aku tidak mengatakannya langsung kepada ibu,
sungguh aku sangat malu mengakuinya walaupun hanya kepada diriku sendiri.. aku menggeleng-geleng kan kepalaku sendiri berusaha menepis semua yg barusan aku bayangkan..
Aku segera mengambil handuk dan menyiram tubuhku yg terasa sangat lengket ini dengan air dingin, airnya terasa sangat dingin menusuk pori-pori ku yg tertutup debu dan keringat. tak butuh waktu lama bagiku untuk mandi hanya sekitar 10 menit saja.
Aku segera mengganti pakaianku dengan baju tidur berwarna pink bergambar hello Kity, Aku melihat buku dan barang lainnya berserakan di kasur, termasuk Jaket yg tadi Arief berikan untukku,
Aku memeluknya lalu mencium aromanya, tidak wangi tapi masih bau pabrik, jaket nya berjenis sweater jaket dengan hoody sebagai pelengkap.
jaket itu berwarna hitam di bagian belakang terdapat tulisan Slam Dunk.. Sungguh anak itu penggemar sejati serial animasi Slam dunk..
Semalaman aku tidur sambil memeluk jaket itu...
Malam pun berganti pagi..
Karena supir angkot masih berdemo, alhasil semua anak-anak berjalan kaki lagi menuju sekolah..
tapi tidak denganku, my Super Hero mengajak ku untuk berangkat bersama.. ingin rasanya aku berkata seperti ini kepada teman- teman yg selalu mem bully ku itu..
"Hai teman-teman aku duluan ya, kalian jalan kaki saja sampai kaki kalian itu sakit".. Haha dasar cantik beraninya hanya dalam hati, pada kenyataan nya hanya menunduk menahan malu saja, dasar pecundang...
Setibanya di sekolah , kami berdua berpisah menuju kelas masing-masing, entah kenapa rasanya berat sekali melepas Arief pergi walau pun hanya ke kelas. Dasar Cantik bucin..
__ADS_1
Benar kata Arief kemarin, Rangga akan baik padaku hari ini, dan benar saja dia menyapaku, meminta maaf atas kejadian yg waktu itu dan berterima kasih atas bantuan ku kemarin, entah benar atau tidak yg di katakan Arief bahwa Rangga hanya akan memanfaatkan ku saja, kita lihat saja apa benar atau tidak..
.....
Hari-hari pun berganti minggu , Minggu berganti menjadi bulan.. Hubungan ku semakin dekat dengan Arief kami selalu bersama. sampai pada saatnya tiba aku mulai kesulitan untuk menemuinya. .
Semester ke 2 ini Arief terpilih sebagai ketua OSIS , dia terpilih dalam voting yg diadakan di setiap kelas,
Sebenarnya Arief tidak berminat untuk mendapatkan jabatan baru nya itu, dia hanya di paksa oleh guru karena memegang gelar sebagai pararel 1.
karena menurut sejarah sekolah kami, biasanya pararel 1 lah yg memegang jabatan sebagai ketua OSIS , jika benar seperti itu kenapa tidak tunjuk langsung saja pararel 1 untuk menjadi ketua OSIS , kenapa harus repot-repot melakukan voting,,,
Saking malasnya menjadi ketua OSIS Arief Bahkan menyuruh ku, dan teman lainnya agar tak memilihnya dalam voting, sebagai sahabat yg baik, aku menuruti keinginannya itu, bahkan aku abstain dalam pemilihan ini.
tapi hasilnya tetap dia lah pemenang nya..
" Cantik, kamu duluan saja pulangnya, sekarang aku ada rapat OSIS "
"Iya, aku duluan ya Rif ..!"
selalu seperti itu, dan seperti itu, Rapat OSIS , tugas OSIS, kegiatan OSIS , ngurus ini dan ngurus itu dan sebagainya dan sebagainya, selalu saja ada alasan..
Rasanya Hari-hariku tak seindah dulu saat kami selalu bersama, Saat kami menghabiskan waktu istirahat bersama, di kantin, di taman, di perpus, atau dimana pun itu, kini aku hanya duduk berdiam diri, belajar dan belajar..
Sebenarnya aku tak benar-benar sendiri, di saat Arief sedang sibuk-sibuknya, aku menemukan teman baru yg setidaknya mau berbicara padaku, iya dia teman sebangku ku, Rangga, berbeda dengan prediksi Arief yg mengatakan bahwa Rangga hanya akan memanfaatkan ku untuk mengerjakan tugas-tugasnya, pada kenyataannya ternyata Rangga tak seperti itu, dia tak seburuk yg Arief kira,
__ADS_1
Walau Rangga tidak pintar, tapi sebisa mungkin dia tidak nyontek padaku, paling dia hanya menanyakan cara nya saja, walaupun kadang aku suka tak tega, melihatnya kesusahan mengerjakan soal matematika atau fisika, tapi dia hanya meminta bantuan ku untuk menerangkan kembali penjelasan guru agar dia lebih memahaminya..
Sekarang ini aku lebih sering berinteraksi dengan Rangga, orang yg paling aku hindari sebelumnya dari pada dengan Arief orang yg selama ini paling dekat denganku.. walau tak sebaik Arief tapi setidaknya kini dia menganggap ku teman, bukan lagi musuhnya...
Tapi tetap saja aku sangat kehilangan super Hero ku itu, aku sangat merindukan mu Rif...
karenanya emosi ku menjadi labil.. seperti saat itu di kelasku ada beberapa anak yg sengaja mengolok-ngolok ku dengan kejamnya...
"heh.. Jelek kamu pikir kamu cantik apa? ngaca dong..! gak punya kaca apa di rumah...Orang tua kamu itu berharap terlalu banyak, dengan nama yg mereka berikan, Cantik Jalita, kenyataan nya itik buruk rupa, kalau jelek ya jelek aja, jangan sok kecakepan mau deketin Si Arief, dia itu bagaikan prince dan kamu pembantunya..." hahaha.... mereka tertawa sambil mendorong tubuhku, urung saja aku tidak jatuh.
Jujur saat itu untuk yg pertama kalinya seumur hidup ku aku berani melawan mereka.
"Kalian harus tahu ini, jangan karena aku jelek, lalu kalian bisa seenaknya padaku hah? kenapa aku selalu salah di mata kalian? hanya karena aku jelek. apapun yg aku lakukan walaupun itu benar di mata kalian tetap aku yg salah karena aku jelek. Lalu karena aku jelek aku tak boleh mempunyai teman sebaik Arief. dan satu lagi jangan bawa-bawa orang tua ku dalam urusan ini, ingat itu baik-baik...!"
Setelah mengatakan semua itu aku membalas mendorong tubuh anak yg mengatakan hal buruk itu padaku, sungguh berani sekali aku ini.
Samar-samar aku lihat sosok yg selama ini ku rindukan, dia mengintip di balik pintu kelas ku, menyaksikan kejadian ini, lalu dia pergi begitu saja..
Arief kenapa kamu hanya diam saja? biasanya kamu akan datang menolongku, membela ku, kenapa sekarang kamu acuh ?, apa kamu Sudah tak peduli lagi padaku..? secepat itukah kamu melupakan aku?
Aku kembali duduk di bangkuku, kebiasaan lama yg belakangan aku tinggalkan kini aku lakukan lagi,, iya, menangis dalam diam, aku membenamkan wajahku di atas tanah yg aku lipat di meja,,
Kehilangan Arief membuat hari hariku berubah menjadi seperti dulu lagi, hari yg menyedihkan, sendiri, dan rasanya jauh lebih sakit dari pada dulu saat sebelum aku mengenalnya, semuanya kembali ke keposisi semula, posisi dimana seharusnya aku berada, tidak seharusnya seorang yg redup sepertiku merindukan seorang yg terang benderang seperti Arief..
Tapi terap saja sakit,
__ADS_1
Rasanya seperti di campakkan pas lagi sayang- sayangnya..