
''tolong jelaskan kepada bapak apa yg sebenarnya terjadi??"
Pak Amir , meletakan 2 kursi di samping ranjang yg aku tiduri, Arief dan Rangga duduk di sana, sepertinya kami bertiga akan di sidang.
Aku segera bangun dari posisiku , dan duduk, kepalaku menunduk jantungku berdebar keringat dingin pun bercucuran di dahi ku , Sementara Arief dan Rangga terlihat seperti menahan kesal, mata mereka saling melirik menebarkan aura permusuhan..
Pak kepsek juga memanggil beberapa anak yg menyaksikan kejadian itu untuk menjadi saksi...
" Silahkan siapa yg bisa menjelaskan apa yg terjadi. ?"
Aku dan Arief hanya menunduk sementara dengan lantangnya dia berkata..
" Dia yang mulai duluan pak." Rangga menunjuk Arief.
" Apa yg maksud kamu jelas-jelas kamu yg mulai" Arief tak mau kalah dengan Rangga.
" kamu"
"kamu kamu yg duluan mendorongnya tadi"
" tapi aku sudah minta maaf" elak Rangga
"bohong, kau tidak minta maaf, kau malah memarahinya" Arief semakin emosi
" apa ? kau berani menuduhku??
mereka berdua saling menuduh, Bahkan saling mendorong..
braaakkkk...
Pak Amir menggebrak meja..
"hentikan..! mau saya skors kalian berdua??"
"Diantara kalian semua ada yang tau kejadian sebenarnya seperti apa?
Pak Amir menunjuk anak anak yg tadi di panggil untuk menjadi saksi..
Sebenarnya aku ingin menjelaskan semuanya , tapi aku takut, aku tak punya keberanian untuk itu, aku hanya bisa menundukkan kepalaku, dan menangis...
Ya aku memang anak yg cengeng, sangat cengeng, aku benci diriku sendiri, bahkan untuk membela diri sendiri saja aku tak sanggup, jangankan menjelaskan dengan lantang, mulut dan tubuhku saja sudah bergetar hebat karena takut...
"Saya pak.." Seorang anak perempuan mengangkat tangannya...
" tadi kami semua berdesakan melihat daftar nama di kelas 2 D, lalu Rangga mendorong Dia sampai terjatuh terus..."
" aku tidak mendorongnya.. aku tidak sengaja" Rangga mengelak lagi..
" kalau tidak sengaja kenapa tidak minta maaf.." sahut Arief dengan emosi..
__ADS_1
" Diam kalian berdua..!".. Pak kepsek semakin marah..
"kamu lanjutkan lagi..!" titah nya kepada anak perempuan itu...
anak perempuan itu melanjutkan ceritanya menurut sudut pandangnya sendiri..
"setelah itu Mereka berdua pergi, tapi Rangga ingin memukul Arief dan malah mengenai dia( menunjuk padaku) lalu mereka berkelahi lagi, dan dia ( menunjuk lagi padaku) berusaha melerai tapi malah terdorong dan membentur tembok.
"benar apa yg di katakannya itu?
kami bertiga hanya menunduk,tak ada yg berani menjawab...
"bapak bertanya , kenapa hanya diam saja, ayo jawab ? "
" Benar pak, jawab aku dan Arief , sementara Rangga hanya diam saja..
"jadi kalian berdua berkelahi gara-gara kamu Cantik?
" Ma maaf kan saya pak?" aku sungguh merasa bersalah disini.
" tapi yg lebih salah itu kamu Rangga, intinya kalian berdua salah" pak Amir menunjuk Arief dan Rangga...
''seharusnya kalian berdua itu menyelesaikan masalah dengan kepala dingin, kalian masih SMP, tidak seharusnya kalian berkelahi, apa lagi di area sekolah, bayangkan jika orang tua kalian tahu kelakuan anak mereka seperti apa? mereka akan malu, apa kalian tidak memikirkan perasaan mereka hah???''
''Lihat Arief orang yg kamu bela pun ikut menjadi korban nya, dan kamu Rangga lihat akibat kelakuan kamu, dia terluka seperti itu.. apa kalian tidak malu hah , menjadi tontonan gratis satu sekolahan??''
Pak kepsek terus berbicara panjang lebar, kami hanya menunduk terdiam membisu,, tak ada satupun dari kami yg berani menjawab, termasuk Rangga yg dari tadi menggebu-gebu kini ia hanya tertunduk lesu .
Guru menyuruh kami untuk pulang saja.. toh hari ini tak ada pelajaran, hanya melihat pengumuman pembagian kelas dan membersihkan kelas saja..
"Ayo, aku antarkan pulang,..!"
ajak Arief sambil mengambil tas sekolahku..
" Tunggu, apa kamu sudah tahu , kamu masuk kelas mana Rif?"
"Entah lah, tadi aku baru datang, aku belum sempat melihatnya?? kamu sendiri apa sudah melihatnya??"
''iya, aku kelas 2D'',
" Apa namaku ada di kelas 2 D?"
''Sepertinya tak ada, di kelas AB dan C pun tak ada''
"Berarti kita takkan sekelas lagi ya??"
Aku melihat raut kekecewaan di wajahnya, mungkinkah dia juga berharap yg sama sepertiku, menginginkan kita untuk satu kelas lagi, ahh tapi rasanya tak mungkin...
"iya,,, sebaiknya kamu ke sana lagi, pastikan dulu kamu masuk kelas apa?"
__ADS_1
" Aku malas ke sana lagi, nanti anak-anak pasti akan mengerumuni ku, dan bertanya ini itu, aku malas. Nanti aku minta tolong Dodo saja untuk melihatnya.."
Dan seperti ya Dodo panjang umur, baru saja Arief membicarakan namanya,, dia sudah muncul di hadapan kami..
"Rif, kamu ga apa-apa?" Tanyanya sambil ngos-ngosan, sepertinya dia berlari menuju ke sini..
" Iya , aku baik-baik saja"
Dodo melihat kearah ku, tapi dia tak menanyakan keadaan ku sedikit pun, tapi ya sudah lah, memang tak ada yg peduli dengan ku selain Arief di sekolah ini...
" Do aku minta tolong, nanti tolong bantu cari namaku ada di kelas mana??"
"iya, Nanti sore aku akan menelpon mu"
'Arief hanya mengangguk.
…………
Arief mengantarkan ku lagi, seperti waktu itu, saat aku pingsan di lapangan upacara, kali ini dia mengantarkan aku pulang dalam keadaan yg lebih parah bagiku, sebenarnya bukan lukanya yg parah, tapi alasan aku terluka, sungguh aku tak tau bagai mana akan menjelaskannya kepada ayah dan ibu, aku takut sungguh aku takut, membayangkan ekspresi mereka saja nyaliku sudah ciut apa lagi, nanti jika benar-benar mengalaminya,,
Ayah ibu, maafkan aku...!
Seperti biasa di rumah ku tak ada orang satupun, ayah dan ibu di ladang,sedangkan kedua kakakku masih sekolah..
Aku mencari pintu rumah di bawah kesed, dan Alhamdulillah kuncinya ada, aku membuka nya, lalu mempersilahkan Arief masuk.
Arief memutar bola matanya kesemua penjuru ruang tamu rumahku, nampak ia memperhatikan keadaan rumahku. lalu ia duduk di kursi rumahku yg nampak sudah usang..
"Silahkan duduk Rif..! aku buatkan dulu minum.,''
''tak udah repot-repot Cantik, kamu kan sedang sakit..." tolaknya secara halus.
" yang sakit ini, kepalaku bukan tangan ku, tunggu sebentar ya..!, maaf ya keadaan rumah ku seperti ini, kursinya juga keras.."
" Tak apa, sama rumahku juga sama'' jelasnya,,
Tapi sungguh dalam hati aku tak mempercayainya, uang jajannya saja banyak, pasti dia anak orang kaya, rumahnya juga pasti bagus...
Lalu aku pergi ke dapur untuk membuatkan teh manis, tapi sayang gulanya habis, Aku akan ke warung untuk membeli gula dulu...
" Rif,aku keluar sebentar,aku mau beli gula, gulanya habis,,"
''Tak usah, teh tawar saja, aku lebih suka teh tawar'' ucapnya
Aku pun kembali membuatkan teh tawar untuk nya dan juga untukku..
Aku duduk di depan Arief, aku mempersilahkannya minum, kami minum teh tawar bersama,,.
Tegukan pertama ia berhenti minum..
__ADS_1
''tuh kan Cantik, aku bilang juga apa, tanpa gula pun teh ini terasa manis''.....