
"Benarkah itu?"
"Iya" jawabnya
Seolah tak percaya, aku kembali mengamati pengumuman itu, dan ternyata benar Arief memang satu kelas denganku.
Aku sangat senang, minimal nantinya ada seseorang yg mau berteman dengan ku.
Dia kemudian menghampiri anak lain yg juga akan satu kelas dengan nya, dia juga melakukan hal yg sama kepada mereka seperti padaku. Ahh benar dia memang anak yg baik pada semua orang bukan hanya padaku.
Aku tak berani menyapa anak-anak lain yg satu kelas denganku, aku takut mereka tak menggubris sapaan ku, aku takut mereka malah mengolok-olok aku lagi.
Kemudian aku memutuskan untuk pulang, Jarak antara sekolah dan rumahku agak jauh, jadi pulang pergi aku harus naik angkot.
Saat itu tahun 2005, bekal sekolahku Rp.3000 ongkos naik angkot PP Rp,1000, sedangkan untuk jajan dan keperluan lainnya Rp.2000. dengan uang 2ribu aku bisa jajan beberapa jenis jajan, karena saat itu harga masih murah, berbagai jenis gorengan hanya, Rp 250, sedangkan batagor Rp 500 . semangkok bakso hanya Rp 1500 saja. saat itu aku rasa bekalku cukup besar, bahkan setiap harinya selalu ada sisa.
Tapi itu untuk ukuran anak kampung yg sederhana sepertiku, entahlah kalau untuk anak orang kaya aku tak tahu.
Keluargaku bukan dari kalangan berada, tapi menurutku ayah dan ibuku selalu giat bekerja, sehingga kami bertiga tak pernah merasa kekurangan, walaupun kami hidup sederhana, rasanya itu cukup bagi kami.
Ayahku mempunyai ladang yg cukup luas, walaupun itu bukan milik pribadi, ayah hanya menyewanya dari orang kaya. pembayarannya cukup ringan, hanya dengan membayarkan pajak nya saja.
Ayah menanam berbagai jenis sayuran dan palawija, maka dari itu aku merasa tak pernah kekurangan makanan, walau kami tak punya uang, masih banyak sayuran yg bisa kami petik untuk lauk sehari-hari, ayah juga memelihara Ayam dan domba, dan mempunyai kolam ikan yg cukup besar di ladang, kolam itu juga berfungsi sebagai penampung air untuk menyiram tanaman milik ayah...
Aku dan kakak ku kadang membantu mereka, tapi ayah selalu melarang ku membantu alasannya panas, capek, 'kamu duduk saja di saung...!' tapi ayah tak pernah melarang kakak ku untuk membantu mereka, malah ayah sengaja menyuruh mereka.
Hal itu membuat mereka iri pada ku. sekali lagi julukan Anak emas kembali aku dapatkan.
Mereka juga memanggilku tuan putri, bukan karena memuji ku tapi menyindirku.
Sakit rasanya.
" Ayah aku mohon jangan istimewa kan aku seperti ini, perlakukan aku sama seperti kakak...!"
Ingin aku ungkapkan perasaan ku kepada ayah, tapi sungguh lidahku kelu untuk mengungkapkan nya.
Di luaran aku selalu mendapatkan perundungan, sedangkan oleh ayahku aku selalu di nomor satukan. Aku bahagia mempunyai orang tua seperti mereka, tapi aku sakit ketika kakak ku membenciku.
Beberapa hari kemudian...
Hari itu hari Senin, hari pertama Masuk sekolah, Aku datang lebih pagi dari teman sekelas ku, alasannya apa? tentu agar bisa memilih bangku yg yg aku inginkan, bangku di pojok kiri dekat pintu.
Entah kenapa semenjak kelas 2 SD aku sangat menyukai bangku di posisi itu, bangku yg tak terlihat, bangku paling terisolasi dari dunia luar.
__ADS_1
Dalam hati kecilku aku berharap semoga saja ada anak yg tidak kebagian bangku, sehingga dia mau duduk sebangku denganku.
Mungkin Tuhan mendengar doaku.. ada seorang anak perempuan yg kebingungan mencari tempat duduk, aku tak berani mengajaknya duduk denganku, aku takut dia tak mau, aku hanya menggeser tubuhku ke sebelah kiri agar dia melihat ada bangku kosong di sana.
Lama-kelamaan dia menghampiriku.
Wajahnya cantik, kulitnya sawo matang, rambutnya panjang tergerai sempurna.
"Boleh aku duduk disini..?"
tanyanya menunjuk bangku di sebelahku.
"Iya" jawabku singkat, aku tak mau berinteraksi lebih banyak dengannya, aku takut dia akan mengabaikan ku.
" Nama kamu siapa? namaku Hera hermawati , panggil aja Hera dari SDN ...."
Ternyata dia mau menyapaku.
"Namaku Cantik Jelita, kamu boleh panggil aku itik! aku dari SDN.1...."
Dia nampak kaget mendengar namaku, sama seperti teman teman sebelumnya.
"Hah itik?, kenapa engga cantik aja dipanggilnya?" Lalu dia tertawa geli.
"Baiklah itik, mulai sekarang kita berteman" dia kembali menyodorkan tangannya.
"Hah berteman??"
Dia mengangguk, lalu kami berjabat tangan dengan erat.
Ya Tuhan aku senang mendengarnya, ini terasa seperti mendapat asupan nutrisi yg baru.
Setelah Arief aku mendapat lagi seseorang yg mau berteman denganku.
Ngomong ngomong soal Arief aku belum melihatnya
"dimana dia???" aku mengedarkan pandangan ku ke seluruh ruangan kelas itu, sepertinya ia terlambat.
Aku sama sekali tidak menyadari anak laki-laki yg aku cari ternyata duduk di depanku.
"Heiii, mencari siapa? mencari aku?" Arief menepuk tanganku pelan.
" Ti tidak, kata siapa? aku hanya..." Aku tak melanjutkan kata-kata ku karena aku bingung harus mengatakan apa.
__ADS_1
"Hanya apa? hanya mencari ku maksudnya. haha" Arief tertawa pelan lalu, Arief melihat ke arah Hera dan mengulurkan tangannya.
"Aku Arief, nama kamu siapa?"
Selain kepada Hera hampir semua anak yg tidak dikenalnya, Arief ajak kenalan, mungkin karena Arief adalah anak yg hamble.
Aku tahu saat pertama masuk sekolah, anak-anak harus memperkenalkan dirinya di depan kelas, sama seperti saat di gugus waktu itu. Momen seperti ini adalah hal yg paling menakutkan bagiku.
Satu persatu anak-anak memperkenalkan dirinya hingga kini giliran ku.
"Nama saya Cantik Jelita, saya dari SDN 1....."
Sebelum mereka mentertawakan namaku yg tidak sesuai dengan
dengan wajahku, aku melanjutkan pengenalan diriku lagi
" Kalian bisa panggil aku ITIK.."
Hahahahahhahahaa... Lagi lagi mereka tertawa dengan polosnya.
"Namanya Cantik , panggilannya itik, pas dengan wajahnya itik buruk rupa"
Sahut anak laki-laki yg paling tampan aku rasa di kelas itu..
Lagi lagi mereka mentertawakan ku.
Sungguh sangat hinanya aku Dimata mereka.
" Jangan sedih Cantik, mereka hanya bercanda.." Arief menghiburku
" Iya.. itik santai saja.." ucap Hera. Kamu bisa berkata seperti itu Hera, karena kamu memang cantik tidak sepertiku.
Hari itu tak ada pelajaran sama sekali, hanya pengenalan guru dan murid serta pemberian jadwal pelajaran dan jadwal piket kelas saja.
Setelah itu kami membersihkan kelas bersama.
Ada anak yg menyapu, mengepel, membersihkan kaca, dan lainya. Mereka tak ada yg mengajakku bekerja sama, aku berinisiatif sendiri saja mengerjakan apa yg aku bisa kerjakan.
Aku tak peduli walaupun mereka mengucilkanku, tapi aku harus kuat, aku akan membuktikan jika aku bisa bertahan sama seperti sebelumnya.
Walau kadang air mata ini tak bisa berkompromi dengan tekadku yg kuat itu.
Kadang kadang emosiku sangat labil, aku bisa seharian mengurung diri dikamar sambil menangis, saat ibu dan ayah di ladang. tapi tentunya saat mereka kembali aku akan berakting bahwa aku baik-baik saja.
__ADS_1