Jangan Panggil Aku Cantik...!

Jangan Panggil Aku Cantik...!
Bab 19 Aku kangen


__ADS_3

Sampai sesuatu terjadi di antara kami....


drtt drtt hp ku bergetar...


"Hallo.. yang, pagi ini aku tak bisa menjemput kamu..!


"iya, kenapa?"


"hari ini aku tak enak badan, aku tak masuk sekolah dulu, nanti tolong sampaikan ini pada guru"


"iya a, nanti aku sampaikan, apa kamu sudah minum obat?"


"Sudah, tadi bibi membelikan obat untukku"


"Ya sudah kamu istirahat saja.."


"iya yang, hati-hati di jalan"


***


Mungkin hanya bisa di hitung dengan jari berapa kali, aku berangkat sendiri tanpa di jemput oleh Arief, kami berdua tak terpisahkan satu sama lain, kali ini saja rasanya malas sekali untuk pergi sendiri tanpa dia.


ingin rasanya aku pergi ke rumah Arief dan melihat keadaan nya, aku sangat khawatir dengan nya, ya mungkin nanti pulang sekolah aku akan menjenguknya..



Aku melihat ke sekeliling ruang kelas, suasana kelas sangat ramai, anak-anak saling berinteraksi satu dengan yg lainnya, ada juga yg sibuk bergulat dengan pensil dan kertas, mengerjakan tugas yg tadi ibu guru berikan, sebagian hanya bercanda dengan teman-teman yg lain..


Aku melihat bangku kosong di sampingku, baru sehari saja Arief tak masuk, rasanya rindu sudah begitu menggunung di hati ku, 'Dasar cantik bucin'.


Selama jam pelajaran, fokus ku bukan pada guru yg sedang menerangkan , tapi pada jam dinding yg terletak pas di atas papan tulis.


Tik tik tik suara jam terdengar jelas di telingaku, menguasai pikiran ku. kenapa lama sekali menunggu jam pelajaran berakhir, lama sekali , rasanya seperti menunggu setahun penuh, sungguh aku ini berlebihan sekali jika menyangkut masalah Arief...


Akhirnya bel istirahat berbunyi, tak ada Arief yg mengajakku makan ke kantin atau sekedar duduk-duduk berdua di taman sekolah, aku hanya seorang diri, duduk termenung di bangku paling belakang.


pikiranku melayang entah kemana, sampai getar ponselku pun aku abaikan, saat secara tak sengaja aku melihat ponsel, puluhan telpon tak terjawab di layar ponselku, dan juga banyak pesan dari kontak yg ku beri nama


My Super Hero..


'Yang kenapa gak di angkat?'

__ADS_1


'apa masih belajar?'


'yang'


'yang'


'yang bales dulu..!'


Ya Ampun Arief, sepertinya bukan aku saja yg merindukan dia, sepertinya dia juga merasakan hal yg sama...


'maaf yang, aku silent hp nya..!'


Tanpa menjawab dia menelpon ku..


'Yang, kemana saja sih, dari tadi aku nelpon gak di angkat..?'


'Maaf Rif, aku tak tahu kamu nelpon.'


'aku kangen,'


'ihh kamu mah, padahal baru juga sehari..'


'memangnya kamu gak kangen aku apa?'


padahal aku juga kangen sama kamu Rif, tapi malu atuh harus jujur, gengsi tau...


'ya udah kalau gak kangen, aku tutup telpon nya, maaf udah ganggu..'


'ihh kok marah sih? aku bercanda kok, aku juga kangen, nanti pulang sekolah aku ke rumah kamu...'


'beneran yang??'


'iya, nanti kamu mau aku bawain apa?'


'bawain aku bakso banyakin sambelnya, aku lagi pusing pengen yg seger-seger, sama jus jeruk, nanti aku ganti uang nya..'


'jangan, aku juga punya uang kok'


'Ya sudah makasih sayang'


Semenjak pacaran dengan Arief, dia selalu memberiku uang jajan, sebenarnya aku tak mau, tapi setiap kali aku menolak dia selalu marah, jadi dengan terpaksa aku menerimanya, uang Arief sangat banyak, entah berapa jatah uang jajannya itu.

__ADS_1


Saat kita bersama, tak pernah aku mengeluarkan sedikitpun uang dari sakuku, dia selalu menjamin apapun itu...


Sebenarnya bukan karena uang aku menyayangi Arief, sama sekali bukan, aku tulus menyayanginya sepenuh hatiku, bahkan aku tak pernah menggunakan uang pemberian Arief sama sekali.


Aku menyimpannya, di rekening khusus yg aku buat untuk aku isi dengan uang darinya, jumlahnya sudah lumayan banyak, dari semenjak masuk SMA sampai sekarang sudah kelas 3, dia selalu memberikan untukku.


Dia bilang, 'ini nafkah dari calon suami kamu, ini untuk mengikat kamu, supaya kamu tak di ambil orang...'


haha, calon isteri, sungguh sangat terharu aku mendengar itu, cinta monyet kami yg di rajut semenjak bangku SMP, semoga saja sampai ke tahap berikutnya...


Aku juga berharap hal yg sama, dulu mimpi ku bisa menjadi kekasih Arief, kini impian itu sudah tercapai, mimpiku bertambah lagi, aku ingin menjadi pendamping hidupnya, menjadi ibu dari anak-anaknya, terus bersama dalam suka dan duka, menua bersama, sampai maut memisahkan kita..


Padahal kita masih SMA, tapi perasaan ini jauh lebih dari sekedar cinta anak remaja pada umumnya, hati kami bertaut begitu erat, tak bisa dipisahkan satu sama lain...


Dia tak pernah menduakan aku sedikitpun, walau banyak sekali gadis yg ingin menjadi kekasihnya, tapi dia tetap setia kepadaku, tetap memilih aku sebagai pasangannya.


Begitupun aku, aku sama sekali tak pernah melirik laki-laki lain, ya karena tak ada juga sih, yg mau kepada ku, hehe..


Dulu aku sempat dekat dengan Rangga, dan membuat Arief cemburu. tapi setelah masuk SMA sekolah kami berbeda, aku sama sekali kehilangan kontak dengan dia..


*****


Hari ini aku seperti mendapatkan durian runtuh, saat aku gelisah menunggu jam pelajaran berakhir, tiba-tiba semua murid dipersilahkan untuk pulang, karena guru-guru akan mengadakan rapat untuk persiapan ujian akhir nasional...


Perasaan yg yg tadinya galau, kini hilang seketika, digantikan senyum yg melengkung lebar di wajah yg jelek ini, Walaupun kulitku tetap berwarna sawo matang, tapi sekarang sudah sedikit mendingan sih, karena sudah tak ada lagi jerawat yg mampir di wajahku ini.


Lain halnya dengan Arief aku rasa semakin hari kulitnya semakin putih, jika dibandingkan denganku. mungkin dia merawat kulit nya, atau memang orang tuanya juga berkulit putih seperti dia. aku tak tahu, karena semenjak berhubungan dengan nya, aku tak pernah bertemu sekalipun dengan mereka, ya karena mereka berada jauh di luar pulau, bahkan Arief saja bertemu hanya ketika hari raya...


……


Aku memutuskan untuk tidak memberi tahu padanya tentang kedatangan ku yg lebih cepat dari rencana.


Sebelumnya aku mampir dulu di kios bakso kesukaan Arief, aku membeli 3 bungkus bakso, untuk aku dan Arief serta untuk bibi nya Arief. Bibi Arief sangat baik bahkan dia sangat sopan sekali pada ku, aku heran kenapa, padahal aku hanya teman keponakannya...


Tok tok tok..


Aku mengetuk pintu rumah Arief perlahan, tidak ada suara di sana, mungkin dia tidur..


Sepertinya pintu nya tidak di kunci, aku membuka pintu perlahan, sepertinya tak ada orang sama sekali.


Aku memberanikan diri membuka kamar Arief, dan benar saja dia sedang tertidur pulas, sepertinya, dia benar- benar sakit, wajahnya terlihat pucat,

__ADS_1


''Yang bangun..! ini aku bawakan bakso,makan dulu nanti keburu dingin''


Arief membuka matanya perlahan..


__ADS_2