Jangan Panggil Aku Cantik...!

Jangan Panggil Aku Cantik...!
Bab 32 Manis


__ADS_3

Aku mencoba menelpon nya sekali dua kali tiga kali, kenapa tak di angkat...?


Aku coba SMS,


'Yang'


'Yang'


'Yang kenapa gak di angkat?'


'apa masih belajar?'


'yang'


'yang'


'yang bales dulu..!'


Akhirnya aku mendapatkan balasan, aku kira dia marah padaku tapi ternyata dia hanya tidak mendengar saja hp nya berbunyi,


Syukurlah aku tenang sekarang.


Entah apa yang membuatku selalu merindukannya, dia bagai candu dalam hidupku.


Aku mendapatkan kabar dia akan menjengukku nanti sepulang sekolah, dan akan membawakan bakso langganan kami..


Aku sangat senang akhirnya nanti kami akan bertemu juga, walaupun masih lama tapi tak apalah aku akan menunggunya..


Jam pulang sekolah sekitar jam 3 sore, sedangkan sekarang baru jam 10 pagi, akan terasa sangat lama menunggu waktu itu..


Sebaiknya aku tidur saja dulu... aku tidur begitu lelap.. aku memimpikan sesuatu yang sangat tidak boleh aku mimpikan...


Aku mimpi menikah dengan Cantik, dan aku menghabiskan malam pertama dengannya, ohh tidak, ini sangat salah, kenapa bisa aku sampai mimpi yang semenjijikan itu...


Aku terbangun saat seseorang memanggil ku..


''Yang bangun..! ini aku bawakan bakso,makan dulu nanti keburu dingin''


Aku membuka mataku perlahan... apa aku tidak salah lihat?


''yang kamu kenapa disini? ini jam berapa?'' tanyaku pada Cantik.


''baru jam 11''


''Kenapa sudah pulang? atau kamu bolos demi aku?''


''Gurunya ada rapat Rif, jadi anak-anak pulang lebih awal'' jelas ku pada Arief.


Haduh bagai mana ini, sesuatu yang di bawah sana masih berdiri karena mimpi bodohku tadi, ya aku akan mencoba mengalihkan nya dengan makanan yang ada di tangan Cantik.


'' Yang wangi.. aku lapar dari pagi belum makan"


"Eh kenapa belum makan? lagi sakit harus banyak makan"

__ADS_1


"malas"


"Ya sudah gih sana cuci muka dulu..! aku tunggu di depan"


aku mengangguk dan segera bangkit dari tidurku, aku mencuci wajahku dengan sabun muka agar tak terlalu kelihatan kusam, ya karena dari tadi aku belum mandi..


Aku juga berusaha menidurkan yang dibawah sana tapi dia tidak mau bagaimana ini, kalau sampai Cantik tau aku akan sangat malu.


Aku duduk di bawah dengan lesehan, dan menyalakan televisi.


"Mana baksonya yang..?"


"ini" dia menyodorkan bakso yg telah siap di mangkok, dan segelas jus jeruk pesanan ku tadi.


"Yang bibi kemana sih? aku bungkus kan bakso juga buat bibi"


"Dia, sedang ada urusan, ada saudaranya yg hajatan, jadi dari 2 hari yg lalu dia tak disini"


"pantesan saja, rumah kamu berantakan, eh tadi katanya bibi sudah beli obat buat kamu?"


"iya, sudah, obat banyak di kotak p3k, itu bibi yg beli semuanya.."


Aku sengaja menuangkan sambal lebih banyak dari biasanya, ya tujuannya untuk tetap mengalihkan isu.. isu yang tadi.. Taukan itu apa?


"Jangan banyak-banyak yang...!"


"biar saja, enak lagi pusing" jawabku, sambil memegang kepala, ya aku sangat pusing memikirkan bagai mana menidurkan burung kakak tua yang sangat keras kepala ini.


"iya pusing nya sembuh, nanti malah sakit perut kamu, sini buat aku sebagian cabe nya,, kamu jangan banyak-banyak...!"


"Perhatian sekali kamu sama calon suami".


"Ihh apa an siih.. Sudah cepetan makan nanti keburu dingin...!"


Sepertinya dia sangat malu, saat aku berkata Calon suami.


Kami pun melanjut kan makan, sembari mengobrol ringan di ruangan tv, setelah selesai dia membereskan rumah ku yang berantakan ini..


"Yang, aku beresin dulu rumah kamu, berantakan,"


"Biarkan saja nanti bibi saja yg mengerjakan, kamu duduk saja temani aku main ps" ucapku


"Sedang sakit main game terus, istirahat saja Rif..!"


Sebenarnya aku main PS bukan untuk apa-apa tapi tujuanku tetap sama untuk menidurkan sesuatu itu.


Aku terus memperhatikan Cantik saat membereskan rumahku.


"Jangan terus melihatku, itu nanti game nya kalah.."


" Memangnya salah kalau melihat calon isteri yg begitu rajin" entah dari mana keberanianku sehinga kata-kata yang memalukan itu terlontar dari mulutku begitu saja.


"Ariiieeefff...." matanya melotot ke padaku..

__ADS_1


"iya, iya " Jawab ku sembari melanjutkan main PS lagi.


Dia mengatakan sesuatu dari dapur, aku tak bisa dengan jelas mendengarnya lalu aku pergi ke sana...


"Bibi kapan pulangnya yang?"


"Mungkin besok atau lusa" jawabku.


"Terus kamu sendirian di rumah, kan lagi sakit, siapa yg akan mengurus kamu"


"Iya, biar saja, aku bisa sendiri"


Melihatnya sedang berdiri membelakangi ku, Entah kenapa aku ingin sekali memeluknya dari belakang.


"Atau kamu saja yg temani aku disini, kamu yg mengurusku disini, yang"


"Arief, lepaskan ihh.."


dia berusaha melepaskan tangan ku dari pinggangnya, tapiaku tak mau melepaskannya..


"Rif, lepaskan aku engap..!"


"tak mau, aku kangen sama kamu.."


"Aku bau, aku berkeringat, awas..!" ucapnya kesal.


"Kamu wangi sayang" ya kamu benar-benar wangi, aku yang bau dari tadi belum mandi.


Lalu aku membalikan tubuhnya, sehingga mata kami berdua bertemu dalam kekakuan, mata kami saling menatap tajam, bibir nya yang tipis itu kenapa terlihat sangat enak, ya aku ingin memakannya, memakan bibir yang sangat manis itu.


Semakin lama aku menatap bibirnya, semakin besar keinginanku untuk merasakan manisnya bibir itu.


Aku hanya mengikuti naluri untuk lebih mendekat kan bibirku dengan bibirnya. dan entah setan dari mana yang membujuk ku untuk berani mencium bibir manis itu...


Aku mencium bibir itu dengan lembut.


Perasaanku menghangat, tapi dia hanya diam saja, apa dia marah, tapi biarlah toh dia tidak menolak ku.


Ciuman lembut ini perlahan berubah menjadi ciuman yang lebih berani..


Aku menghisap bibirnya dan menggigit bibirnya pelan, aku tak bisa menguasai tubuhku sendiri, apa lagi melihat nya membalas semua perlakuan ku pada dirinya.


Ada sesuatu yang ingin aku lepaskan di tubuh ini, tubuhku sudah sangat panas, ya aku menginginkan nya sekarang...


Aku membopong tubuhnya ke kamarku, dam melepaskan helai demi helai pakaian yang menutupi tubuhnya, dan dia juga melakukan hal yang sama padaku.


Aku semakin yakin akan melakukan hal yang di luar batas ini padanya, aku tak memikirkan akibat apa yang akan tejadi nanti, yang pasti sekarang aku hanya ingin mencurahkan semua perasaan ini untuknya..


"Aku Sayang Kamu Cantik" bisik ku di telinga nya..


dia tidak menjawab perkataan ku, aku mencium bibirnya lagi dan tangannya melingkar sempurna di leher ku, aku memeluknya arat..


Semakin lama perasan ini semakin menggebu, hembusan nafas kami sudah tak beraturan, sesapan demi sesapan terjadi, bahkan tangan ku mulai berani menyentuh tubuhnya satu persatu.

__ADS_1


''Rif.. jangan...!" ucapnya sambil mendorong tubuhku untuk menjauh darinya.


__ADS_2