
" Biar aku saja yg Antar"
Ucapnya, Arief merapihkan buku-bukunya, dan segera menuntunku keluar.
" Ayo.. nanti biar aku yg meminta surat izin nya.."
D menuntunku meninggalkan kelas, aku mendengar ruangan itu riuh kembali, tapi aku tak tahu mereka berbicara apa..
"Rumah kamu di mana?"
Aku menjelaskan dimana rumahku, tapi nampaknya dia tidak mengetahuinya, karena Arief bukan asli orang sini.
"Aku gak tau, nanti kalau sudah dekat, kamu stop, angkotnya ya..!"
Akhirnya kami sampai, Arief membayar ongkosnya, sebetulnya tadi dia mengajakku untuk berobat ke dokter, tapi aku menolaknya, mana mungkin anak SMP seperti kami mempunyai uang untuk berobat.
Jarak rumahku dari pemberhentian angkot tidak begitu jauh, hanya sekitar 20 m.
.....
"Assalamualaikum, Sepertinya tak ada orang, rumah kamu juga di kunci."
"Iya ayah dan ibuku, di ladang, sebentar lagi juga pulang, sebaiknya kamu pulang saja Rif..!"
"Aku tunggu saja sampai mereka pulang"
Aku mencari kunci cadangan, biasanya ada di bawah kesed, tapi tak ada. mungkin dibawa kak Rama , tadi kan kata mereka kak Rama tidak sekolah.
"Ladangnya dimana? apa jauh dari sini?? aku susul saja ibumu"
"Lumayan jauh, tidak usah nanti kamu nyasar."
Arief mengangguk, dan membeli makanan di warung sebelah, ia membeli banyak makanan, air mineral, dan juga membeli obat pusing. Aku heran berapa bekal anak itu, dia membeli makanan begitu banyaknya, tapi dia bilang uangnya masih ada.
Lama kami menunggu di kursi kayu depan rumah, hingga akhirnya ayah dan ibuku pulang,
Arief mencium tangan ayah dan ibuku, dia menjelaskan keadaanku, kepada ibu, lalu ibu berterimakasih dan mempersilahkan masuk, tapi Arief menolak, ia memilih untuk langsung pulang.
"Arief, terima kasih ya..!"
"Iya.." jawabnya, lalu ia pergi meninggalkan kami.
__ADS_1
Semenjak itu Arief menjadi istimewa bagiku, iya dia mendapatkan tempat tersendiri di hatiku, entah itu apa, yg aku tau aku sangat berterima kasih kepadanya karena selalu menolongku, dan aku selalu bahagia saat melihatnya, walaupun dari jauh.
Sekarang aku tau penyebab kenapa aku sakit, ternyata aku memasuki masa pubertas, iya hari ini aku mengalami pms untuk yg pertama kalinya, menurut ibu, rasa sakit saat pms itu normal, apa lagi saat pertama kalinya, tapi syukurlah aku baik-baik saja.
Hari berganti menjadi bulan, tak terasa beberapa hari lagi akan di adakan ulangan umum kenaikan kelas, aku merasa daripada harus pusing-pusing memikirkan omongan mereka lebih baik si itik buruk rupa ini belajar dengan sungguh-sungguh, agar nanti saat ulangan tidak mengalami kesulitan.
Seperti yg selalu Arief katakan kepadaku,
"Cantik, kamu gak perlu repot-repot menyumpal mulut mereka semua untuk tidak membicarakan kamu, kamu cukup menutup 2 telinga mu saja, itu cukup untuk membuat mu tidak sakit hati"
Dan benar saja setelah aku menuruti perkataan Arief, semuanya jadi terasa lebih baik,
walau mereka tetap menggunjingkan ku, aku merasa tidak lagi se baper dulu.
Lebih baik aku belajar dari pada menangis, apalagi Arief selalu menemani ku belajar, saat jam istirahat tiba aku dan Arief lebih sering belajar di perpustakaan.
Entah kenapa Arief begitu peduli dengan ku, dia berusaha mengajariku, semua pelajaran yg tidak aku kuasai, hingga aku menguasainya.
Mulai hari pertama sampai selesai ulangan, aku tak mengalami kendala yg berarti, aku sangat bisa mengerjakan semua soal dengan baik.
Tak seperti teman sebangku ku Hera, nampaknya ia sedikit kesulitan, padahal waktu SD Hera juara kelas, tapi entah kenapa sepertinya ia kebingungan mengerjakan soal, bahkan sempat aku lihat Hera menyimpan contekan di bawah bangkunya, tapi tentu saja aku tak melaporkannya karena aku rasa itu urusan dia.
Aku, Hera dan Arief berada di ruangan yg sama, karena kelas kami dibagi menjadi 2 ruangan, tak seperti Hera , Arief nampak dengan mudah mengerjakan soal, bahkan hampir setiap pelajaran dia selalu selesai lebih awal, karena ulangan semester 1 saja Arief mendapat nilai terbaik, sedangkan aku mendapat peringkat 10 besar saja sudah senang.
Hari ini hari kenaikan kelas, Raport harus di ambil oleh wali masing-masing, raport ku di ambil oleh ayah.
"Yang mendapat kan nilai terbaik, dan menjadi juara kelas kita masih tetap di raih oleh anak kebanggaan kita semua, Arief Putra Wijaya silahkan maju ke depan...!"
Lagi-lagi Arief menjadi juara kelas, aku senang melihatnya, dia meraih peringkat pertama lagi. Bahkan menurut ibu guru, Arief juga menjadi juara 1 pararel , atau juara umum di sekolah kami.
Sudah bukan kejutan lagi bagiku Arief menjadi juara umum, karena saat mengajariku saja ku rasa kemampuannya setara guru di sekolah kami, saat dia mengajariku aku pun dengan mudahnya memahami penjelasan Arief.
Tapi kejutan yg sesungguhnya bukan itu, saat peringkat ke 2 kelas kami di panggil,
"Untuk peringkat kedua, Cantik Jelita, silahkan maju ke depan..!"
Sungguh aku tak menyangka sama sekali, namaku yg di panggil,
tapi bukannya maju ke depan aku malah bengong.
"Apa aku?"
__ADS_1
Apa aku sedang bermimpi, atau aku salah mendengar, tapi benar kenyataannya, akulah peringkat ke 2,
" Selamat Cantik, ayah bangga dengan kamu,," ayah mengelus kepalaku.
Saat aku maju ke depan, bukan tepukan tangan atau ucapan selamat yg aku dapatkan , seperti Arief tadi, tapi malah sorakan merendahkan,,
huuuu..... huuuu....
Dasar mereka itu, tidak puaskan menghina kekuranganku, kelebihan ku pun masih di hina nya, entah seburuk apa aku Dimata mereka.
"Selamat ya Cantik...tidak sia-sia selama ini kita berdua belajar terus.." Arief mengulurkan tangannya...
" ia Rif, terima kasih, berkat kamu aku bisa seperti ini"
Sebelah tangan Arief menjabat tanganku dan yg satunya memegang pundak ku, lalu dia berbisik kecil di telinga ku.
"Jangan dengarkan perkataan mereka, kamu cukup dengarkan aku saja..."
Arief tersenyum manis padaku,,
uuuh..... melihat senyumannya rasanya aku melayang, seperti ada jutaan burung yg mengajak ku terbang ke langit.
Semakin hari aku semakin menyadari perasaan apa ini, mungkin ini yg namanya
'Cinta Monyet', iya, aku rasa aku menyukai Arief, dia adalah cinta pertamaku, sungguh tidak tau diri rasanya si itik buruk rupa ini menyukai seorang Arief Putra Wijaya, anak yg sangat tampan dan juga seorang juara pararel.
Aku tersenyum sendiri, mengakui perasaanku ini, tapi aku akan menyimpannya rapat-rapat tak boleh ada satupun , orang yg tau termasuk Arief sendiri, apalagi jika mereka tau, mereka akan mem-bully ku jauh lebih dari ini.
Jika kalian bertanya kepadaku, kenapa aku bisa memiliki perasaan ini, jawabannya simple, karena hanya Arief yg menganggap aku ada, hanya Arief yg menganggap aku manusia, hanya dia satu-satunya orang yg tidak menghinaku.
Hari ini aku mendapatkan 2 pencapaian tertinggi dalam hidupku..
*******
Mudah-mudahan ada yg baca.. kalau gak ada juga,,
Assudah lah....
dibaca saja oleh diri sendiri... senyum sendiri, ketawa sendiri, nangis sendiri, biarin deh di sangka orang gila juga sama suami, yg penti kehaluan ini terasalur kan,, 😂😂🤦🏻♀️🤦🏻♀️
hahahaha ampun ampun...
__ADS_1