
Rasanya seperti di campakkan pas lagi sayang-sayangnya... iya seperti itulah perasaan ku saat ini..
tiba-tiba ada seseorang yg duduk di kursi sebelahku, lalu dia membelai rambutku dengan lembut, seolah-olah olah ingin menenangkan perasaanku yg sedang kacau ini..
"Jangan nangis...!" Ucapnya...
Hah apakah itu Arief, tapi suaranya kenapa seperti itu?. aku mengangkat wajahku dan memastikan dengan pasti siapa pemilik suara itu..
Ternyata bukan Arief tapi Rangga, kenapa Rangga yg datang menenangkan ku, kenapa bukan Arief yg aku harapkan kini ada di sampingku.. kenapa orang lain?.
Aku menepis tangan Rangga dari kepalaku...
"Maaf... Cantik, aku tak bermaksud"
Aku hanya menganggukkan kepala ku..
" Maaf juga, karena dulu aku melakukan hal yg sama kepadamu.." Sepertinya ada raut penyesalan di wajahnya,,
Aku hanya diam saja mendengarnya terus meminta maaf kepadaku.
Kenapa kamu terus meminta maaf Rangga? aku tidak membutuhkan itu, yg aku butuhkan sekarang kehadiran Arief bukan kamu... iya aku sangat butuh dia....
………
jam pelajaran pun berakhir, kali ini aku langsung pulang tanpa mau berharap lagi akan pulang bersama Arief, aku berjalan menuju gerbang sekolah dengan terburu-buru, aku tak melihat ke kanan dan ke kiri, tiba-tiba aku menabrak seseorang..
" Maaf...!" ucap ku, aku tak melihat wajahnya, aku hanya menunduk, aku juga tak tahu siapa itu... lalu pergi untuk melanjutkan langkah ku lagi..
tiba-tiba sebuah tangan menarik lenganku saat aku beranjak pergi...
"Tunggu.. !"
Aku menoleh ke arahnya, ternyata orang yg aku tabrak adalah Arief..
"kita pulang bersama Cantik..!" ajaknya..
Hah, apa aku tidak salah dengar,,? barusan siapa yg mengajakku pulang bersama?,
apa aku ini tidak bermimpi?
apa benar orang yg mengajak ku itu Arief?
apa aku sedang tidak berhalusinasi?
Terus saja pertanyaan-pertanyaan itu memutar di otakku yg sedang oleng ini..
__ADS_1
" Ayo..!" Arief memegang tanganku dan membawa ku keluar gerbang sekolah...
Aku sangat senang, sudah beberapa lama ini aku menantikan momen seperti ini.. tapi belum juga aku selesai melamun.. tiba-tiba ada seorang anak perempuan memanggil Arief ,
"Arief..." anak itu berteriak..
Kami berdua menoleh ke asal suara.. aku tau dia adalah Manda wakil ketua OSIS,..
"Iya ada apa man?" tanya Arief kepada Manda ,
"Kamu lupa Rif, sekarang kita ada pertemuan dengan kelas 3, untuk membahas tema perpisahan nanti"
"Oh iya aku lupa man," Arief menepuk kepalanya, itu tandanya ia memang benar-benar lupa akan hal itu...
"Maaf ya Cantik..! kita tidak bisa pulang bersama, aku ada urusan dulu.."
"iya.." jawabku,
Lalu Arief pergi berlalu bersama Manda...
hufth...
Perasan perpisahan masih lama, kenapa di bahas secepat ini, apa segitu sibuknya menjadi anggota OSIS?
Baru saja angan ku melambung tinggi karena bisa pulang bersama dengan Arief, kini angan itu jatuh ke dasar jurang yg paling dalam..
Sepanjang perjalanan pulang wajahku nampak kusut seperti kain yg belum di setrika... tadi di kelas ada masalah, di tambah lagi dengan Arief yg memberiku harapan palsu...
Aku terus melamun, merutuki betapa malangnya nasib ku ini, bahkan rasanya air mata sudah menumpuk di pelupuk mataku, dan jika saja aku malu, mungkin di dalam angkot ini aku sudah menangis..
bahkan aku tak menyadari siapa yg baru saja naik ke dalam angkot yg aku tumpangi itu...
Tiba-tiba seseorang yg baru saja naik merangkul bahu ku.. lalu mengacak-ngacak rambutku..
"Heiii kenapa melamun??"
Suara itu suara yg sangat aku kenal, aku menoleh kearah pemilik suara yg sangat familiar itu...
"Kak Rama.."
Ternyata kak Rama dengan teman nya, saking banyaknya pikiran di otak ku ini aku tak menyadari jika kakak ku duduk di sebelah ku..
Aku melihat beberapa anak perempuan di depanku sedang berbisik-bisik satu sama lain, entah apa yg ada di pikiran mereka saat ini, aku yakin mereka akan menggunjing ku lagi.
Entah setan dari mana yg memberiku ide yg sangat aneh ini, ide yg keluar dari zona nyamanku...
__ADS_1
Dengan sengaja aku tak melepaskan rangkulan kak Rama, justru aku malah membalasnya dengan pelukan kecil, aku juga berakting manja, seolah-olah kak Rama adalah pacarku..
Gelagat mereka semakin menunjukan ketidak sukaannya kepada ku, mereka seperti kebakaran jenggot melihat si itik buruk rupa ini, di peluk oleh anak SMA yg tampan seperti kak Rama..
Belakangan ini kak Rama menjadi sangat baik kepadaku, entah apa alasannya, tapi semakin hari aku merasa seperti mendapat perhatian lebih darinya, dia tak lagi marah kepada ku atau mengacuhkan ku lagi..
Melihat tatapan mereka seperti itu aku yakin, mereka sepertinya tak tahu jika kak Rama adalah kakakku, mungkin mereka mengira aku yg tidak-tidak. tapi entah kenapa kali ini aku merasa senang, merasa menang, karena berhasil membuat mereka kesal..
Dan seketika mood yg tadinya sudah hancur itu, perlahan membaik karena ulah ku ini, haha dasar si itik buruk rupa yg biasanya teraniaya ini bisa-bisanya melakukan hal seperti ini kepada mereka..
Jika benar apa yg aku kira , maka besok di sekolah akan ada gosip baru tentang ku, lihat saja besok, aku sangat menantikannya...
Kak Rama tidak langsung pulang ke rumah, dia ada tugas kelompok di rumah temannya.. Alhasil dia turun lebih dulu dariku..
"Cantik, aku duluan"
"Iya kak, hati-hati..!" Lalu aku tersenyum dengan sok di manis-maniskan kepada kakakku..
Melihat itu mereka semakin kepanasan sepertinya..
" mil, kamu punya cermin tidak?"
ucap salah satu anak kepada temannya,,
"Iya ada nih, untuk apa?" anak lainya menyodorkan sebuah cermin kecil di saku nya..
" ya , buat ngaca lah.. buat apa lagi,, cermin itu gunanya supaya kita tahu diri kita itu seperti apa, jangan sampai kita merasa sok ke-cakepan, apa lagi sok ke-ganjenan" ucap anak itu, sambil melirik kearah ku...
Sontak mereka semua tertawa terbahak-bahak seperti menyindirku...
Aku tak menghiraukan perkataan mereka, mereka tidak tau apa aku ini sudah kebal di perlakukan seperti itu, tadi saja saat di kelas aku berani melawan perkataan keji mereka, sekarang saat nya aku beraksi, membalas mereka yg nyinyir terhadapku...
"Strong girl bangkit lah...!!"
aku berteriak dalam hatiku sendiri, iya sudah saatnya sisi lain dari diriku muncul ke permukaan bumi, muncul sebagai tameng untuk ku menghadapi mulut mereka yg jahat dan tidak pernah di sekolahkan itu..
………
Sesampainya di rumah, aku melihat ada sebuah mobil ber-plat merah terparkir di depan Rumah ku, nampak juga pintu rumah ku terbuka, biasanya jam seperti ini ayah dan ibu belum pulang, mereka biasa pulang pada saat adzan ashar tiba...
"Assalamualaikum..." ucapku, walaupun tak ada seorangpun di rumah aku selalu mengucapkan salam ketika masuk rumah, apa lagi sekarang banyak orang di rumah.
"waalaikumsalam," jawab ayah ibu, dan seorang laki-laki yg berpakaian loreng khas tentara..
Aku juga segera mengambil tangan ayah dan ibu untuk aku cium secara takzim, tak lupa aku juga melakukan hal yg sama kepada tamu itu..
__ADS_1
Tamu itu mengelus kepalaku....