Jangan Panggil Aku Cantik...!

Jangan Panggil Aku Cantik...!
Bab 52 Bukan Super Hero ku.


__ADS_3

Saat kursi itu berputar...


Deg... Jantung ibu satu anak itu seolah berhenti.


Matanya seolah tak bisa berkedip sedikitpun, tubuhnya bergetar menahan perasaan yang entah itu apa.


Air bening memenuhi ruang di balik kelopak matanya.


"A A Arief" Nama yang selalu ia rindukan itu akhirnya ada di depan matanya sendiri.


Ia seolah tak percaya, Arief ada di hadapannya saat ini, atau kah ini hanya mimpi, atau imajinasinya saja.


"Berani kamu panggil saya dengan Arief saja, panggil saya pak Arief!" Ucap pria tampan yang wajahnya terlihat lebih dewasa dari terakhir bertemu.


Deg...


Mendengar pria yang dulunya baik hati itu berucap dengan nada tinggi, membuat Cantik berasumsi dalam pikirannya.


Apa dia lupa padaku, apa karena aku sekarang memakai hijab, atau karena dia bukan Arief yang aku kenal, ah iya mungkin dia orang lain.


"Jangan diam saja!, kenapa melihat ku seperti itu? Siapa namamu?"


Siapa namamu ? apa kau benar-benar tidak mengenaliku Rif ? atau kau pura-pura tak mengenaliku.


Perasaan wanita itu sungguh campur aduk antara senang, akhirnya orang yang ia cari selama ini ia temukan.


Lalu sedih saat pria yang ia rindukan itu tak mengenalinya lagi.


"Nama saya Cantik Jelita" Ucap nya, tak hentinya dia menatap wajah tampan itu. wajah ayahnya Kay.


"Cantik Jelita? Percaya diri sekali orang tuamu menamai mu seperti itu" Arief tersenyum sinis, seolah dia sedang meledek wanita itu.


Sakit, sungguh sakit mendengarnya berkata seperti itu, padahal dulu saat orang lain menghina namanya, Arief yang jadi super hero yang akan membelanya.


Lalu kenapa sekarang dia malah menghina nya seperti ini, ya, Cantik yakin dia bukan Arief yang ia cari, mungkin dia orang Lain.


Tapi sebuah nama jelas tertulis di atas meja itu.


'Direktur Utama Arief Putra Wijaya S.Ars'

__ADS_1


Dia Memang benar Arief nya yang lama hilang, Arief Putra Wijaya. Arief kekasihnya, Arief ayahnya Kay.


Kenapa selama ini dia bodoh sekali. kenapa dia tidak bisa membaca tanda-tanda yang Tuhan berikan padanya.


Bukankah Nama Arief Putra Wijaya sama persis dengan nama Kekasihnya sekarang Arganata Putra Wijaya, lalu kenapa dia baru engeuh sekarang, bahkan sudah beberapa tahun ia mengenal Arga, tapi tak pernah sedikitpun curiga, bahwa Arga adalah adiknya Arief.


Bahkan Dokter Nadine, orang yang selama ini menolongnya sejak Arief meninggalkannya, sejak Kay masih dalam kandungan, dia adalah kakaknya Arief.


Ya Tuhan aku memang bodoh, kenapa aku selalu bungkam saat orang lain bertanya siapa ayah nya Kay, padahal jika aku bicara, mungkin sejak lama aku akan mengetahui keberadaan nya.


Mulutnya tak sanggup mengeluarkan kata-kata. Apa lagi Arief sama sekali tak mengenalinya.


"Pak Arief, apa bapak tak mengenali saya?" Ucapnya dengan nada suara bergetar.


"Apa kita pernah bertemu sebelumnya? apa kau mengenaliku?" Arief memicingkan matanya.


'Apa kita pernah bertemu sebelumnya? apa kau mengenaliku?'


Maksud kamu apa Rif? kenapa kamu melupakan aku begitu saja?


"Ma maaf pak sepertinya saya salah orang" Cantik mencoba mengingkari bahwa pria yang ada di hadapannya ini bukan Arief nya yang hilang, hanya wajah dan namanya saja yang sama, tapi dia bukan Super Hero nya yang dulu.


Sungguh jika waktu bisa berputar kembali ia ingin kembali ke masa yang lalu, masa dimana dirinya dan Arief merajut kasih, menjalin cinta, dan merangkai indahnya kebersamaan. Tapi itu tak bisa, masa lalu tak akan kembali, hari ini ya hari ini.


Matanya tak berkaca-kaca, air yang sedari ia tahan sekuat tenaga itu tak kuasa lagi ia tahan.


Dia meminta izin untuk ke toilet sebentar, dan tentunya Arief mengizinkan walau pun dengan nada ketus.


Sesampainya di toilet, dia tumpahkan semua rasa sakitnya, dia menangis tanpa suara, hanya isakkan kecil saja yang terdengar, sudah 15 menit lebih ia di dalam.


Beberapa karyawati mendengar isak tangis wanita itu, lalu mereka melihat Cantik keluar toilet dengan mata yang merah, dan make up yang sedikit luntur.


"Lihat tuh, anak baru, baru itu, keluar ruangan direktur sudah seperti itu, kena mental dia rupanya, gak tau aja bagaimana galaknya pak Arief" Ucap salah satu dari mereka.


Cantik mencoba merapikan lagi riasan tipis di wajahnya, dia poles lagi wajahnya yang nampak sembab.


"Maaf kamu karyawan baru ya? pasti kamu barusan kena damprat pak Arief ya?, jangan heran pak Arief memang gitu, galak, kata-katanya pedas. Yang sabar ya!" Ucap Mila salah satu staf di bagian keuangan.


Mereka akhirnya berkenalan, dan Cantik segera pergi ke ruangan itu lagi.

__ADS_1


"Kamu itu ke toilet atau ke mana? Lama sekali, saya sampai lumutan menunggu kamu di sini"


"Maaf pak saya sait perut" Cantik berusaha menyembunyikan keadaannya.


Arief menjelaskan tentang tugas apa yang harus Cantik lakukan, ia mendengarkan dengan seksama, setelah semuanya beres, ia pergi menuju ruangannya.


Dia tak bisa percaya dengan apa yang terjadi padanya, Arief sama sekali tak mengenalinya sedikitpun, entah karena apa alasannya.


Mungkin kamu hanya pura-pura tak mengenaliku saja Rif, tapi lihat saja jangan harap aku menyerah, aku akan bertahan di sini, sampai aku tahu alasan kamu meninggalkan ku dulu.


Dia memasuki sebuah ruangan di sana tak hanya dirinya ada 4 orang lainnya yang berada di sana. Ruangan itu hanya di batasi sekat-sekat yang terbuat dari kaca buram saja.


"Selamat pagi, kau Desainer interior baru itu? Siapa namamu? Kenalkan Nando" Ucap seorang pria tinggi yang mungkin usianya sekitar 30 tahunan.


"Ia, nama saya Cantik, salam kenal" Ia membalas uluran tangan Nando.


"Cantik? Beautiful name, sama seperti orangnya" Mereka berjabat tangan lalu 2 orang lain ikut memperkenalkan dirinya.


"Saya Rio Assisten kamu sekarang" ucap pria muda yang mungkin seusia dengan dirinya.


"Saya Naya, Saya Assisten pak Nando"


Mereka berkenalan tak lupa Cantik meminta bantuan dan kerja sama nya dari mereka semua.


Pikiran wanita itu belum sepenuhnya terkumpul, otaknya masih melanglang buana mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang sedari tadi memutar di kepalanya.


Kenapa bisa sampai Arief tak mengenalinya. Lalu apakah ia harus mengatakan Pada atasannya itu tentang Kay. Entah lah nanti ia pikirkan lagi, saat ini dia hanya harus berusaha fokus pada pekerjaannya.


Saat ini tugasnya adalah mempelajari berkas yang Arief kirim melalui email nya.


Mega proyek pembangunan Real estate di daerah Jakarta pusat, saat ini menjadi tanggung jawabnya.


Dia terpilih sebagai Desainer interior yang menggantikan orang yang terlebih dahulu memegangnya yang kini telah di pecat.


Menurut Rio, Pak Arief tak segan memecat Bu Maria dengan tidak hormat karena kesalahan fatal yang ia perbuat.


Rio juga mengatakan padanya, jika ia harus berhati-hati jika bersikap di depan pak Arief, salah sedikit kena semprot lebih sering lagi potong gaji.


Menurut Rio, Arief adalah atasan yang killer, tapi jika bawahannya salah, tapi kalau bawahannya memberikan kontribusi yang baik untuk perusahaan dia tak segan untuk memberi bonus pada siapa saja yang berhasil.

__ADS_1


"Jangan menggosipkan Direktur!"


__ADS_2