
'' tuh kan cantik, tanpa gula pun teh nya terasa manis.." ucapnya sambil tersenyum
"Hah manis?" Aku bingung, kenapa manis? padahal aku buatkan teh yg sama denganku tanpa gula, kenapa manis ? kalau teh panas baru iya..
"Kamu mati rasa Rif, teh pahit gini, kamu bilang manis, dasar aneh,,"
" Iya, apa pun yg aku minum, kalo minumnya sambil melihat kamu, semuanya jadi manis" Arief kembali tersenyum seolah-olah meledekku,,
" Apaan si rief, bisa-bisanya kamu meledek ku.."
aku memukul bahu Arief,..
" AW sakit..." katanya..
Kami berdua pun tertawa bersama..
Dalam hidupku jarang sekali aku tertawa seperti ini, hanya dengan dia aku bisa tertawa lepas seperti ini, melupakan semua kesedihan ku.
Termasuk saat ini aku lupa bagaimana ketakutan ku, untuk memberi tahukan masalah ini kepada ayah dan ibu..
" Rif, aku bingung bagai mana cara memberitahu orang tua ku, aku takut nanti mereka marah,,"
" aku akan bantu menjelaskan nya, bagaimanapun aku yg salah'' Arief menundukkan kepalanya,
''kamu tidak salah Rif , ini semua terjadi karena aku,"
"kalau kamu dan aku merasa bersalah, terus anak itu merasakan apa yg kita rasakan tidak ya?" Arief memegang dagunya dengan jari telunjuk dan jempol yg digerak-gerakkan..
"entahlah, tanyakan saja padanya langsung besok.." jawabku
" ihh amit-amit" Arief bergidik menggerakkan bahunya keatas dan kebawah..
Kami pun tertawa bersama lagi...
………
Setelah beberapa lama menunggu, Ayah dan ibu ku pulang...
Ibuku masuk dan melihat keningku yg tertutup kain perban.
" Sayang, kamu kenapa? kenapa di perban ? apa kamu terluka?"
ibu sangat panik melihat kondisiku.
__ADS_1
"Maaf Bu...!"
"Kenapa minta maaf? ceritakan pada ibu apa yg terjadi..
Mendengar ibu berbicara dengan keras, ayah pun masuk..
"Kamu kenapa cantik??"
Entah kenapa seperti biasanya aku terlalu lemah, aku tak sanggup menceritakan semuanya, aku hanya bisa menangis dan menangis saja..
Untung ada Arief yg membantu menjelaskan semuanya, dia menceritakan semua kejadian tadi tanpa terkecuali, dan tanpa di lebih-lebihkan tentunya..
Arief pun minta maaf kepada ayah dan ibuku. mereka memahami keadaan nya, mereka tidak marah kepada ku dan kepada Arief juga, justru ibu berterima kasih kepada Arief, menurut nya sudah 2 kali ia menolongku dan mengantarkan aku pulang,
Sebenarnya bukan 2 kali, tapi mungkin puluhan kali Arief menolong ku, hanya saja ibu tak tahu itu..
Aku memberikan surat dari sekolah kepada ayah, ayah membacanya, ini surat panggilan pertama untuk ayah, selama ini kak Dewa dan kak Rama pun tak pernah melakukan kesalahan yg sampai mengharuskan ayah untuk datang ke sekolah, hanya aku saja anak yg tak tau diri ini...
………
Keesokan harinya, Aku ayah dan kedua kakak ku berangkat bersama menuju sekolah.
"Cantik, palingan kamu bakalan di skors sama pak Amir" ucap kak Rama.
Ku terkejut mendengar ucapan kakak, Di DO??, apa iya aku akan di DO, di skors pun rasanya aku tak mau, apa lagi di keluarkan dari sekolah, jika itu benar terjadi kasihan sekali Ayah dan ibu mempunyai anak sepertiku ini..
"Huss, kalau ngomong jangan sembarangan, mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa" Ucap ayah sambil mengelus kepalaku...
" Kita berdua aja yg yg laki-laki gak pernah bikin ayah dipanggil ke sekolah, iya kan Ram??"
Kak Rama mengangguk menyetujui ucapan kak Dewa,
Mereka berdua bukannya membelaku, malah memojokkan ku, tapi tak apa, aku sudah kebal, aku sudah biasa menghadapi situasi seperti ini, aku tak akan sakit hati lagi..
Aku dan ayah telah sampai di sekolah, sementara kakak tadi, sudah turun lebih dahulu.
Kami berjalan menuju ruangan BP, ruangan tempat anak-anak bermasalah,
(pada saat itu namanya ruang BP bukan BK.)
Di ruangan itu nampak Pak Amir dan guru BP serta seorang ibu paruh baya dia mengenakan jilbab berwarna abu-abu dan seorang anak laki-laki yg wajahnya terlihat kusut, ya dia adalah Rangga.
"Sepertinya tinggal Arief dan wali nya yg belum datang, mohon ibu dan bapak menunggu sebentar...!" ucap pak Amir memecah keheningan di ruangan itu..
__ADS_1
tak lama setelah itu Suara pintu di ketuk.
ternyata Arief datang dengan seorang pria bertubuh tinggi besar, tampak gagah berwibawa dengan menggunakan baju batik.
Dari penampilan ayahnya, aku yakin Arief bukan anak dari orang biasa seperti ku.
"perkenalkan saya Adrian Wijaya papa nya Arief..."
kemudian orang tua Arief menyalami kepsek dan semua orang yg ada di sana...
Tak lama setelah itu, pak kepsek menjelaskan alasan kenapa beliau mengundang kami semua.. dia menjelaskan duduk perkara yg terjadi antara aku Arief dan Rangga..
Dari pertemuan itu,
Keputusan kepala sekolah adalah menskors Arief dan Rangga selama 5 hari, sedangkan aku di bebaskan dengan alasan aku menjadi korbannya, tetapi menurut kepala sekolah aku bisa izin untuk istirahat di rumah selama beberapa hari, untuk memulihkan Kula di kepalaku..
Di antara ke 3 orang tua itu, hanya Ibu Rangga yg berkeberatan atas keputusan itu.
Sedangkan ayahnya Arief nampak senang dengan apa yg terjadi barusan,, bahkan secara terang-terangan Ayah Arief malah memuji kelakuan anaknya yg berkelahi di sekolah..
"Papa bangga pada mu Rif akhirnya kamu membanggakan papa mu ini"
ayahnya Arief mengusap pelan pucuk rambut Arief..aku tak mengerti kenapa seorang ayah bangga terhadap anaknya yg mendapat hukuman,, sungguh aneh menurut ku,,
Arief justru menepis kasar tangan ayahnya itu, entah apa yg terjadi padanya, sepertinya ia tak suka dengan perlakuan ayahnya itu...
....
Waktu pun berjalan begitu cepat, Hari ini hari pertama Arief masuk sekolah setelah masa hukuman berakhir.. sedangkan aku hanya libur 2 hari saja...
Seperti biasa aku duduk di bangku pojok dekat pintu keluar dan seperti biasa juga aku duduk seorang diri, sedangkan semua orang duduk berdua dengan teman sebangku nya..
Tak ada Arief di kelas sungguh sangat sepi, tak ada lagi yg menemaniku yg menyapaku, yg mengajakku mengobrol, sungguh aku sangat merindukannya, apa lagi kelas Arief ternyata jauh di ujung sana, Arief masuk di kelas 2 H..
Sesungguhnya aku sangat senang dengan berakhirnya masa hukuman Arief, aku bisa bertemu dengannya lagi, tapi aku juga takut, karena itu artinya masa hukuman Rangga juga berakhir, dan sialnya lagi ternyata Rangga sekelas dengan ku..
Ya Tuhan , semoga Rangga tidak dendam kepadaku.
Hari ini pelajaran pertama adalah fisika, pelajaran yg paling susah, gurunya pun galak, atau tegas sebetulnya, beliau paling tidak suka dengan anak yg telat menyerap pelajaran darinya apa lagi anak yg tidak disiplin, beruntunglah aku tidak tergolong ke dalamnya, aku sangat mengerti pelajaran itu kenapa ? karena berteman dengan Arief membuat aku lebih giat belajar, dan menguasai semua pelajaran yg Arief ajarkan padaku...
Disaat pelajaran sudah di mulai, terdengar suara pintu di ketuk pelan...
Tok tok tok.....
__ADS_1
''masuk lah..''