
"Motor siapa yang barusan keluar dari sini Ma?" Tanya Arief pada Mamanya yang masih berada di teras setelah tadi mengantar kepergian Arga dan Cantik.
"Arga, dia datang bersama pacarnya"
"Sudah punya pacar dia?"
"Iya"
"Kalah aku sama Arga" Ucapnya sambil terkekeh.
"Kamu kapan kenalin pacar kamu ke Mama?"
"Entahlah" ia berlalu pergi meninggalkan Mamanya di luar, Arief selalu malas jika ditanya tentang hal ini oleh siapapun. Tak ada niat sedikitpun baginya untuk menjalin cinta dengan wanita manapun.
Mungkin akibat kecelakaan itu, bukan hanya memorinya saja yang hilang tapi mungkin rasa cinta nya juga hilang.
"Rif, Sepertinya Leony begitu mencintai kamu"
"Ma, dia bukan mencintaiku, tapi dia terobsesi padaku, dia itu terlalu agresif, aku tak menyukainya" Arief duduk di sofa yang berada di ruang keluarga itu.
"Tapi dia gadis yang baik menurut Mama, dan tadi siang Daddy-nya Leony meminta mama untuk memasukan Leony di perusahaan kita"
"What? Jangan sampai itu terjadi Ma, aku bisa gila terus berdekatan dengannya" Arief menjambak rambutnya sendiri, ia nampak frustasi mendengar perkataan ibunya barusan.
"Tapi kamu tau kan siapa ayahnya. perusahaan kita bisa bahaya jika menolak keinginannya"
Arief menghela nafas kasar.
"Jika seperti itu terserah Mama saja, aku bisa apa, tapi jangan paksa aku untuk menyukainya, apa lagi memaksaku untuk berhubungan dengannya."
Padahal jika di lihat dengan kasat Mata Leony itu gadis yang sempurna, terlahir di keluarga kaya raya, berkebangsaan Singapura, namun masih keturunan Indonesia, wajahnya yang oriental dengan mata sipit dan kulit putih bersih, tubuhnya imut, jika di lihat sangat mirip dengan Suzy. tapi walau bagaimana pun sempurnanya Leony, di mata Arief dia hanya gadis yang tidak tahu diri, walau sudah di tolak jutaan kali masih tetap saja mengejarnya.
...
"Makasih mas sudah mengantarku"
"Iya, aku pergi dulu, jaga dirimu baik-baik disini"
"Iya, kamu juga hati-hati di jalan, aku titip Kay ya!"
__ADS_1
"Tentu".
Cantik mencium punggung tangan Arga lalu Arga membalas mencium keningnya, romantis seperti pasangan suami istri yang sebenarnya, sang istri melepas kepergian suaminya untuk bertugas.
Semalaman ia melamun, meratapi takdir yang kini tengah mempermainkannya. Ingin rasanya ia berteriak sekeras mungkin, memaki Arief, bahkan menampar wajahnya, karena ia telah lancang pergi dari hidupnya, dan kini kembali dengan perasaan tidak bersalahnya, dan seolah tidak mengenalinya.
...
"Selamat pagi Bu Cantik" Sapa seorang resepsionis di tempatnya bekerja.
"Selamat pagi juga" Ia membalasnya dengan senyuman.
"Tadi pak direktur berpesan, ibu di tunggu segera di ruangan beliau"
"Oh iya, terima kasih"
Dia melangkahkan kakinya memasuki lift, dan menekan tombol menuju lantai paling atas, menuju ruangan Arief.
Perasaannya tak karuan, kenapa sampai di panggil, apa ada kesalahan, atau ada tugas lagi untuknya, atau mungkin juga Arief sudah mengingatnya, dan mau meminta maaf padanya. Ahh, sungguh pikirannya bercabang menerka-nerka apa yang akan terjadi.
"Hari ini kita ada meeting dengan klien dari Surabaya, persiapkan dirimu, dengarkan dengan baik apa maunya dia, jangan sampai dia kecewa dengan kinerja mu" Ucap Arief dengan nada datar.
"Baik pak"
Ucapan Arief sungguh sangat menyakiti hatinya, 'Kampungan' bukankah dulu saat ia benar-benar jelek Arief tak pernah menghinanya seperti ini, tapi kenapa sekarang hinaan itu sering sekali ia dengar dari mulut kekasihnya masa lalu nya itu.
"Aku rasa tak ada yang salah dengan pakaian ku, ini masih baru dan ini sangat sopan, lantas kenapa bapak menghina saya seperti itu" Ucapnya dengan nada bergetar, sungguh ia tak bisa menahan lagi perasaanya.
"Baru sih baru, tapi semua orang juga tau bahwa itu baju murahan" Ucap Arief seraya melihat penampilan Cantik dari ujung kaki hingga ujung kepala.
Matanya berkaca mendengar Arief berkata seperti itu, mungkin sebentar lagi air matanya akan menetes.
Apa serendah itu aku di mata nya sekarang, kampungan dan murahan.
"Kenapa malah menangis?" Arief mengerutkan keningnya melihat lelehan air mata jatuh di pipi Cantik.
"Baik pak saya akan menggantinya sekarang" Cantik berlalu pergi meninggalkan Arief yang masih heran melihat nya menangis.
Padahal bagi Arief, dia sudah biasa menegur karyawan nya dalam hal apapun termasuk dalam hal penampilan.
__ADS_1
Cantik mempercepat langkahnya menuju keluar.
"Maaf, apa kamu tau butik yang menjual pakaian kantor yang terdekat dari sini?"
Resepsionis itu menjawab.
"Tak jauh dari sini Bu, Ibu berjalan kaki juga bisa"
"Terima kasih"
Sepanjang jalan air di matanya terus meleleh
membasahi pipi nya.
Jika bukan karena kontrak yang sudah ia tandatangani, mungkin saat ini dia akan langsung mengundurkan diri dari perusahaan itu, tapi jika ia nekat penalti yang akan di dapatkan nya sangat besar, dari mana ia mendapatkan uang sebanyak itu.
Karena tidak terlalu mengerti fashion dia menyerahkan semuanya kepada sang empu nya butik.
Harga 2 pasang pakaian saja sudah lebih dari seperempat gaji nya saat di Bandung dulu. lalu bagai mana jika harus membeli untuk satu Minggu kerja. Ahh itu akan menghabiskan banyak sekali uang.
Tapi bukan itu masalahnya, mendengar Arief merendahkannya itu sangat menyakitkan bagi nya, sungguh sangat menyakitkan.
Dia kembali dengan busana yang jauh lebih baik, jauh lebih bagus dan lebih mahal tentunya, dan membuat ibu satu anak itu nampak jauh lebih Cantik dari sebelumnya.
"Itu lebih baik dari yang tadi, walaupun masih terlihat biasa saja" Ucap Arief sembari memicingkan matanya, menyelidik setiap inci penampilan orang yang membuatnya sakit kepala itu. Walaupun dalam hatinya berkata lain, tapi pantang bagi Arief yang sekarang untuk memuji seseorang apa lagi itu Cantik.
Cantik hanya terdiam mendengar ucapan Arief, sungguh berlama-lama berdekatan dengan Arief yang sekarang sungguh sangat tidak nyaman, apa lagi dengan kata-kata Arief yang begitu menusuk di hati.
Seperti biasa mereka pergi bertiga bersama Amar.
"Bu Cantik, sebaiknya duduk di belakang saja, jok depan kotor, tadi ke tumpahan kopi"
Cantik melirik ke arah belakang, Arief duduk dengan memainkan ponsel di tangannya.
"Tak apa pak Amar, aku di depan saja" Sungguh saat ini dia malas berdekatan dengan pria yang berulang kali menyakitinya itu.
"Jangan Bu, kursinya masih kotor belum saya bersihkan"
"Kamu keras kepala sekali, apa susahnya duduk di belakang, bukankah kamu baru berganti pakaian, terus kamu mau saya suruh ganti lagi pakaian karena kotor" Ucap Arief kesal.
__ADS_1
"Iya pak" Dengan terpaksa ia membuka pintu belakang dan duduk di sebelah Arief.
Deg.... Deg... Deg...