Jangan Panggil Aku Cantik...!

Jangan Panggil Aku Cantik...!
Bab 37 A Boy.


__ADS_3

"Cantik apa kakak harus menghubungi ayah dan ibu?"


"Jangan, aku takut kak!"


Rama mengangguk menyetujui keinginan adiknya itu, yang terpenting sekarang baginya adalah melihat adiknya melahirkan dengan selamat.


"Dok sepertinya sekarang" Ucap cantik sembari meringis lebih keras.


"Baik lah, coba tarik nafas dalam, lalu lepaskan lewat mulut sayang...!, kakaknya cantik bisa tolong tiup ubun-ubunnya sekarang!" titah dokter itu.


Rama menurut saja apa kata dokter, ini pengalaman luar biasa bagi Rama pengalaman yang tak akan ia lupakan sampai kapanpun.


Untuk pertama kalinya ia mendampingi seorang wanita melahirkan, seharusnya dia mendampingi istrinya tapi saat ini dia mendampingi adik kesayangan nya itu.


Cantik terus menarik nafas lalu menghembuskan nya lewat mulut terus terus dan berulang sampai saatnya ia sudah merasa tak kuat lagi.


Rasa sakit nya terasa jutaan kali lipat dari sebelumnya.


"Tarik nafas panjang Cantik, lalu langsung mengejan ya dalam satu tarikan nafas, ingat tahan bokong kamu jangan sampai terangkat!"


Cantik mengangguk dan segera melakukan perintah dari dokter Nadine.


Dan.....


Oe oe oe...


Suara tangisan bayi segera menyadarkan Gadis yang kini telah resmi menjadi seorang ibu itu.


Rasa sakit yang begitu menggunung, kini di gantikan dengan rasa bahagia tak terkira.


"Alhamdulillah, sesuai prediksi anak ini laki-laki, dan lahir sempurna tanpa ada kekurangan sedikitpun"


"Alhamdulillah" ucap Rama dan cantik secara bersamaan.


Setelah dibersihkan. Dokter Nadine meminta


Rama untuk mengadzani bayi tampan itu.


Ada perasaan yang begitu sakit saat melihat bayi yang sedang diadzani oleh ua nya itu.


Harusnya Arief yang menemaninya dan mengadzani nya, tapi laki-laki itu entah berada dimana, dan hanya melepaskan diri dari tanggung jawabnya.


Tak ada sedikitpun peralatan bayi yang Cantik bawa, bukan karena ia tak membelinya, tapi karena sebelumnya dia menitipkan semuanya di klinik dokter Nadine.

__ADS_1


Bayi itu didekatkan untuk melakukan imd, setelah selesai, Bayi itu di gendong oleh ua nya.


"Hai boy, kamu sangat tampan, kulitmu putih tak seperti ibu mu burik, dan hidungmu juga mancung tak seperti ibumu pesek" Ucap Rama sambil terkekeh dan memegang hidung Bangir keponakan nya itu.


"Kak Rama.." Ruangan yang tadinya terasa sangat kaku kini berubah seketika, Dokter dan perawat pun ikut tertawa di buat nya.


Rama sungguh sangat pandai merubah suasana.


Memang benar apa yang dikatakan Rama, Bayi mungil itu sama sekali tidak mirip dengan ibu nya, dia lebih mirip ayah nya Arief.


Mungkin bayi itu takut tidak di akui jika suatu saat nanti bertemu dengan ayahnya, makanya wajahnya 90 persen mirip dengan Arief.


Setelah suasana mulai tenang, Rama mencoba mengeluarkan suaranya.


"Siapa ayahnya Cantik?"


Cantik hanya terdiam, tak mau menjawab pertanyaan nya.


"Kenapa dia tidak menemani mu, siapa laki-laki pengecut itu, katakan padaku, aku akan menghajarnya" Ucap Rama emosi.


"Jangan kak, biarkan hanya aku saja yang tau, Ayah dari bayi ini pergi, dia tak menginginkan kami" Ucap cantik sendu.


"Katakan pada kakak, kakak akan mencarinya!"


Astaga sepolos itukah adiknya itu, dia masih saja melindungi orang yang telah menyakitinya, terbuat dari apa hati adiknya itu?


"Biarkan itu menjadi privasi nya, Saya juga sudah mencoba berbagai cara agar cantik mau menyebut Sekali saja nama laki-laki itu, tapi tetap dia tak mau" timpal dokter Nadine.


Benar apa kata Dokter Nadine, jika saja Cantik mau menyebutkan nama Arief Putra Wijaya adalah ayah dari bayi itu kepadanya, maka hanya dengan hitungan detik dokter itu akan mengetahui keberadaan ayah dari bayi malang yang ada di pelukan ua nya itu.


Tanpa Cantik ketahui, Nadine adalah kakak kandung Arief, Nadine tahu pasti keberadaan adiknya yang saat ini menetap di Singapura, untuk menjalankan perawatan jangka panjangnya.


Takdir sungguh sangat mempermainkan Cantik, atau malah dirinya sendiri yang menjauhkan kesempatan untuk mengetahui keberadaan pria yang telah dengan tega meninggalkan nya itu.


Sebenarnya Arief bukan pria sejahat itu, takdir berkata lain dengan menghilangkan semua memori yang terekam selama belasan tahun di hidupnya.


Arief hidup sebagai orang baru, dia akan sangat kesakitan saat berusaha mengingat masa lalunya, makanya dokter menyarankan dia untuk memulai hidup baru tanpa mengingat masa lalu nya.


Dengan sangat terpaksa Rama memberi tahu ibu dan ayahnya walaupun Cantik melarangnya.


"Bagaimana pun ayah dan ibu harus tahu Cantik, dia cucunya, kakak yakin siapapun akan menyayangi bayi tampan ini, kamu jangan takut, hadapi saja, kakak akan ada untuk membelamu" Rama berusaha meyakinkan adiknya itu.


Tak berselang lama Ayah ibu dan kak Dewa, sudah ada di hadapan Cantik.

__ADS_1


Ayah menampakan wajah marahnya kepada anak perempuan kebanggaannya itu.


Plak...


Satu tamparan mendarat di pipi Cantik.


"Maafkan aku yah!"


Cantik menangis dia turun dari ranjang dan memeluk kaki ayahnya itu.


Ibu berusaha membangunkan nya, tapi dia tak akan bangun sebelum ayah memaafkannya.


"Kamu itu anak perempuan ayah satu-satunya yang selalu ayah banggakan, sejak kecil kamu selalu ayah utamakan di banding kakak-kakak mu, lalu kenapa kamu tega melakukannya cantik jawab ayah?" ayah berteriak kepada anaknya itu.


"Maafkan aku yah!, maaf!" Cantik terus saja menangis, mengiba berharap ayah nya mau memaafkannya.


"Siapa laki-laki itu?, katakan pada ayah!"


Cantik masih tetap bergeming, dia tak mau menjelaskan siapa ayah dari anaknya itu.


Sekali lagi itulah kesalahan terbesar dari ibu baru itu, dia tak mau mengatakan siapa ayah dari bayinya, padahal ayah mengenal dengan baik siapa orang tua Arief.


Pemilik lahan yang ditanami ayah adalah orang tua Arief pak Adrian atau yang biasa mereka panggil Ryan.


Ibu berusaha untuk meredakan emosi suaminya.


"Sudah yah, maafkan dia, dia anak kita, kasihan dia yah"


"Ibu tak mengerti perasaan ayah, ayah hancur melihat dia seperti ini bu"


"Ayah saja hancur, bagaimana dengan cantik yah, dia menyembunyikan masalah seberat ini sendirian, tapi dia masih bisa membanggakan kita dengan prestasinya. yah"


Di sudut berbeda Dokter Nadine meneteskan air matanya, ia menyaksikan langsung drama keluarga di depan mata nya sendiri, sangat menyakitkan.


Dokter Nadine tak tahu saja jika adiknya lah penyebab dari kekisruhan yang terjadi dihadapan nya.


Dia Sudah menganggap Cantik sebagai adiknya sendiri, dia sangat menyayangi Cantik, apa lagi sekarang setelah melihat bayi mungil itu, ada ikatan batin tersendiri yang ia rasakan, entah apa itu yang pasti dia akan menyayangi keduanya.


Sementara Rama dan Dewa justru malah sibuk sendiri, mengurusi bayi tampan keponakan mereka itu, Rama sangat menyukai bayi itu, begitu juga Dewa.


Selama Cantik kecil Dewa dan Rama sangat iri dengan kasih sayang yang ayahnya berikan untuk cantik, dulu mereka membenci adik perempuannya itu, Karena kedewasaan perlahan benci itu berubah menjadi kasih sayang yang seutuhnya.


Sekarang Kesalahan di masa lalu tak ingin mereka ulang lagi.

__ADS_1


__ADS_2