
''benarkah itu cantik jadi sekarang kita pacaran ?"
Aku tak menjawabnya, aku hanya diam dan menundukkan kepalaku, aku sungguh malu, mendengar kata 'pacaran' saja aku sudah bergidik ngeri membayangkan nya,
Harus bagaimana nanti sikapku kepada Arief setelah status kami berubah? Apa aku harus memanggilnya sayang? atau abi? atau cintaku? atau honey?..
iyuww...itu sangat menjijikan terdengar...
"Dari pada melamun lebih baik kamu makan coklat ini,, sepertinya enak..!"
"iya" Aku mengambil satu buah coklat itu, aku cicipi ternyata benar enak..
"ini enak" ucapku...
lalu tiba-tiba...
"aaaaaa...."
"Apa sih??" dasar laki-laki itu sangat menjijikan...
"kenapa diam saja aku mau.. suapi aku..!"
"Barang yg sudah di berikan itu tak boleh di ambil lagi.." ucap ku menahan kesal padanya,
"Kenapa pelit sekali sih sama pacar sendiri.." Lalu Arief mengambil kotak coklat itu dan segera memakannya...
bukannya marah aku malah tertawa melihat tingkah laku Arief , sungguh kekanak-kanakan. ehh kan kita berdua memang masih anak-anak.. ya??
"Sebenarnya cokelat itu untuk aku atau bukan sih Rif, kenapa malah kamu yg makan paling banyak? itu coklatnya yg enak atau kamu yg lapar?"
"dua-duanya kayaknya..hehe
besok aku bawakan lagi coklat yg lebih besar buat kamu, biar kita makan bersama lagi.."
__ADS_1
"biar kita makan bersama, atau biar kamu habiskan sendiri??"
"Dasar kamu pacar aku..." Arief mengacak-ngacak rambutku...
setelah menunggu beberapa lama akhirnya hujan mulai reda...
"Ayo Rif aku mau pulang..!"
"Ayo"
Akhirnya kami pulang ke rumah masing-masing, aku melemparkan tubuhku yg tadi sebelumnya sudah berganti pakaian keatas kasur yg tidak begitu empuk ini ...
Sejenak aku melamun..
Aku tak menyangka ternyata kebaikan Arief itu tidak tulus kepadaku, dia tidak tulus menganggap ku sahabat seperti yg aku kira selama ini, ternyata dia mengharapkan lebih dari hanya sekedar persahabatan..
Ternyata bukan aku saja yg menyimpan perasaan seperti ini, bukan aku saja yg cemburu melihat nya dekat dengan orang lain, ternyata dia juga cemburu melihat ku dekat dengan Rangga.
Ya benar Arief memang sempurna,,
apa dia juga sebahagia aku? aku bukan gadis yg cantik, aku hanya seorang itik buruk rupa, lalu bagai mana mungkin Arief yg setampan dan sepintar itu menyukai ku, ini terdengar mustahil..
Tapi kalau dia tidak benar-benar menyukaiku, kenapa tadi dia terlihat sangat bahagia mendengar aku menerima nya menjadi pacarku,, kenapa ? atau jangan-jangan dia sedang berakting, atau mungkin besok saat bertemu dengan ku dia akan bilang... April Mob... eh tapi ini February kan bukan bulan April...
Aku mengeleng-gelengkan kepalaku menepis semua ke parnoan ku kepadanya.. semoga saja dia benar-benar menyayangiku sepenuh hatinya, seperti halnya aku menyayangi dia dengan sepenuh hatiku...
******
Hari-hari pun berlalu begitu cepat, sebentar lagi kami akan meninggalkan bangku SMP,
Arief mempertahankan gelarnya sebagai pararel 1.
Berhubungan dengan Arief justru malah membuat ku semakin pintar,, bahkan ternyata sekarang aku juga mendapatkan juara pararel 3, menggeser anak-anak lainya..
__ADS_1
Sungguh kami adalah pasangan serasi dalam prestasi, tapi tidak dalam hal penampilan, bahkan anak-anak FBA (FANS BERAT ARIEF) menyebut kami beauty and the beast, Arief yg beauty aku yg jadi monsternya..
FBA itu aku yg membuatnya sendiri, Bagai mana tidak, banyak sekali anak yg mengejar-ngejar sang ketos itu, karena cemburu ya sudah aku buatkan saja mereka klub' itu.,. aneh nya lagi mereka betul-betul menjadikan klub itu benar-benar ada, dan aktif di kalangan anak-anak perempuan keganjenan, padahal aku tidak sungguh-sungguh membuatnya...
Tapi aku tak perlu risau dengan semua fans Arief, karena Arief membuktikan kesungguhannya kepadaku, dia sama sekali tak pernah menggubris siapa pun gadis yg menggodanya,, haha ...
ihh menjijikan sekali melihat mereka menggoda Arief, bahkan menembak Arief di depan mataku sendiri, sebegitu murahan nya gadis-gadis itu Tapi Arief selalu menolak mereka, bahkan dia dengan lantang mengatakan kepada semua orang kalau aku adalah pacarnya... Sungguh aku ini orang yg paling beruntung di dunia..
Sebagai juara pararel, aku dan Arief mendapat tawaran beasiswa untuk masuk SMA favorit,, aku dan dia menerimanya dan lolos dalam seleksi,,,
SMA ku itu, terletak agak jauh dari tempat tinggal ku, Tentunya bukan SMA tempat sekolah kak Rama saat ini, sebenarnya ayah menginginkan ku masuk ke sekolah kak Rama, alasannya agar bisa berangkat bersama dengan kak Rama, dan jugaagar ada yg menjagaku,,
"ayah tak perlu repot repot memikirkan siapa yg akan menjagaku, aku sudah punya bodyguard yg selalu melindungi ku, bahkan selain bodyguard dia juga bisa jadi tukang ojek gratis untuk ku yah..." Tentu saja alasan itu tidak aku ucap kan kepada ayah ku, apa lagi kepada Arief, pasti dia akan ngamuk, kalau aku menyebutnya tukang ojek...
aku berusaha meyakinkan ayah dan ibu. dengan cara memelas, membujuk dan yg lainnya.
kapan lagi bisa masuk sekolah favorit kalau bukan saat ini, apa lagi semua biaya di tanggung oleh pemerintah, bahkan katanya nanti akan dapat uang saku juga, itu tentu akan sangat membantu ayah..
Sebenarnya bukan sombong tapi ke tiga anak ayah semuanya pintar, kak Dewa saja sekarang sedang kuliah di salah satu universitas pertanian di kota B, dengan jalur prestasi tentunya. dia sangat ingin menjadi insinyur pertanian, dan mengembangkan usaha ayah dengan cara pertanian modern seperti di Jepang...
Sedangkan kak Rama dia juga mendapatkan juara umum di SMA nya, sebagai juara 1..
Sepertinya kelak ia juga akan kuliah dengan jalur yg sama seperti kak Dewa.. tapi mungkin akan
Sedangkan aku sangat senang sekali, bisa mendapat pararel 2 di SMP , dan sebentar lagi masuk SMA terbaik di sini dan semoga prestasiku tidak menurun setelah masuk SMA .
Sebenarnya nilai ku cukup tinggi, tapi nilai Arief justru bukan lebih tinggi dariku, justru malah sempurna.
Beredar kabar di sekolah katanya aku menyontek dari Arief, semua nilai yg aku dapat Arief yg mengerjakannya. makanya aku bisa menjadi juara parerel di semester pertama kelas 3, padahal semua itu tidak benar,, tapi untung lah guru-guru melakukan test terhadapku, dan tidak terbukti samasekali kalau niali yg ku dapat dari kerja kerasku sendiri.. walaupun Arief punya andil besar dalam prestasiku...
kami selalu belajar bersama, berdiskusi bersama, bahkan waktu pacaran saja hanya kami habiskan dengan belajar, dan melakukan penelitian-penelitian ilmiah saja, kami sangat senang bereksperimen membuat sesuatu yg baru. membuat ini membuat itu, walaupun banyak yg gagal...
Dan karena itu juga aku dan Arief mendapat beasiswa ini..
__ADS_1