Jangan Panggil Aku Cantik...!

Jangan Panggil Aku Cantik...!
Bab 22 Garis 2


__ADS_3

'Maafkan aku ayah, ibu.! maaf'


Tubuhku bergetar hebat, air mataku tak henti mengalir, sebelum semua orang pulang aku harus memenangkan diriku, aku harus berpura-pura tidak terjadi apa-apa pada diriku, aku tak mau mereka curiga kepadaku.


Semalaman aku tak bisa memejamkan mataku sedikitpun, bayangan kejadian itu selalu menghantui setiap kali aku menutup mata, sungguh aku bingung apa yg harus aku perbuat, aku takut jika akan terjadi sesuatu pada diriku nantinya...


'Tuhan aku mohon, jangan kau tiup kan ruh di dalam perut ku ini, aku mohon jangan, jangan sampai dosaku ini terlihat oleh semua orang, aku mohon Tuhan'


Aku terbangun di kala adzan subuh berkumandang, rasanya mata ini enggan untuk terbuka sekarang, rasanya baru saja aku larut dalam mimpi, sekarang aku harus terbangun lagi, dengan mata yg membengkak, karena tangisan dan kurang tidur...


Aku segera melarikan tubuh kotorku ini ke kamar mandi dan mengguyur nya dengan air dingin, air dingin ini terasa menusuk di pori-pori kulitku, rasanya menusuk sampai ke tulang, dingin sungguh dingin.


Segera ku ambil wudhu dan menunaikan kewajiban ku, lalu aku berdoa kepada Tuhan , dan meminta ampunan atas semua dosa yg aku perbuat..


Seperti biasa aku membantu membersihkan rumah, sementara ibu memasak di dapur, ayah dan kak Rama juga sibuk dengan kegiatan masing-masing.


''Cantik kamu berangkat sekolah kakak antar, kebetulan kakak lewat sekolah kamu"


"iya kak" jawabku pelan


Ting.. benda pipih di saku ku berbunyi..


"Yang aku jemput ke rumah kamu"


"Jangan Rif, hari ini kak Rama mau mengantarkan aku, aku tak enak menolak."


"apa kamu masih marah kepadaku?"


"Tidak, bukan karena itu"


"jangan marah lagi padaku..! maafkan aku!"


"iya, aku maafkan semuanya"


"Makasih yang i love you, sampai ketemu di sekolah"


'Aku tak bisa lama-lama marah kepadamu Rif, hanya butuh beberapa menit untuk aku memaafkan kamu, apapun kesalahan kamu selalu aku maafkan'


Di depan gerbang sekolah seseorang menungguku, dia bersandar di sebuah pagar, tangan kirinya di masukan ke saku celana dan tangan kanannya sibuk memainkan ponsel.


Kak Rama menurunkan ku tepat di depan Arief.


"makasih kak!"


Kak Rama hanya mengangguk, dan pergi meninggalkan aku.


"Ayo masuk..!"

__ADS_1


Arief memegang pergelangan tanganku dan segera membawaku ke kelas yg berada di lantai 3, dengan menaiki tangga.


tampak anak-anak berlalu lalang dari anak kelas 1 2 dan 3. Hari masih pagi belum semua anak datang sebagian masih diperjalanan.


"Apa kamu baik-baik saja yang? mata kamu bengkak, pasti kamu nangis terus?


maafkan aku ya! maaf!"


Arief menatapku dalam, tampak penyesalan yg dalam di matanya.


"iya, aku sudah memaafkan kamu"


Dia tersenyum padaku, jantung ku semakin berdebar melihat senyumannya...


Hari hari berlalu, perlakuan Arief kepadaku semakin baik, dia memperlakukan aku seperti seorang putri, apapun yg aku mau dia berikan, apapun akan dia lakukan untukku.


***


Sudah lebih dari 1 bulan dari kejadian itu, aku masih juga belum mendapatkan tamu yg seharusnya datang di setiap bulannya..


Bagai mana ini aku takut, jangan-jangan terjadi sesuatu pada diriku, jangan sampai sesuatu yg aku takutkan terjadi...


Arief mengajakku untuk makan bakso setelah pulang sekolah, ini kesempatan ku untuk memberi tahunya, tentang semua yg aku risau kan..


"Yang kenapa baksonya hanya di lihat saja,?"


"Rif, aku mau bicara sama kamu,"


"Aku belum mendapatkannya bulan ini, seharusnya sudah dari dua Minggu yg lalu, tapi sampai sekarang belum"


Arief nampak heran mendengar perkataan ku, sepertinya dia tidak mengerti dengan apa yg aku maksud, aku bingung menjelaskan nya, aku malu.


"maksud kamu apa yang? aku tak mengerti"


"ini" aku menunjuk perutku.


"apa?" Akhirnya Arief mengerti apa yg aku maksud.


Keesokan harinya hari libur, dia mengajakku untuk pergi ke luar daerah, yg sedikit jauh dari lingkungan kami berada, alasannya apa lagi kalau untuk menghindari kecurigaan orang-orang terhadap kami.


Dia menyuruh seseorang untuk membeli sebuah alat yg bisa mendeteksi keadaan ku saat ini, sangat tidak mungkin jika kami membelinya sendiri, itu akan sangat memalukan, karena kami masih pelajar..


Kami membeli beberapa alat dalam berbagai jenis, tujuannya untuk memudahkan mendeteksi keakuratan nya..


.


Aku memasuki toilet di salah satu mall di sana, dengan teliti aku memasukan alat itu kedalam urine ku satu persatu dan perlahan terlihat dengan jelas 2 garis muncul di semua alat itu..

__ADS_1


deg....


Seketika tubuhku melorot ke bawah, air mataku tak henti mengalir, tanganku gemetar dan kakiku mendadak lemas..


Entah apa yg harus aku perbuat saat ini aku bingung..


"Arief ada 2 garis yg muncul"


"Apa? itu artinya kamu?"


Aku mengangguk dan menangis di hadapannya...


"Bagaimana ini, jika ada yg tahu, aku bisa di keluarkan dari sekolah"


"Maaf kan aku Cantik, ini semua salahku. Aku akan menikahi kamu secepatnya... urusan sekolah bisa kita pikirkan nanti, yg penting sekarang aku harus bertanggung jawab atas kamu dan bayi kita..." dia menggenggam erat tangan ku.


"Aku bingung Rif, beberapa bulan lagi ujian nasional, bagai mana ini? aku tak mau mengecewakan orang tuaku Rif."


Arief menyeka air mataku, dia berjanji akan bertanggung jawab, tapi sekolah kami bagaimana.


"Minggu depan orang tuaku akan kesini, AU akan menjelaskan kepada mereka tentang ini, dan setelah itu, aku sendiri yg akan menjelaskan pada orang tuamu yang.."


Aku tak menjawab sedikitpun, sungguh yg aku tak tahu apa yg akan aku lakukan dengan semua ini, ini semua kebodohan ku, kenapa aku sampai melakukan kesalahan sefatal ini, ini salahku...


Orang-orang saling berbisik, melihat aku yg terus menangis di meja di sebuah restoran fast food di mall itu, untung dia antara mereka tak ada satu pun yg mengenal kami, jika ada ini akan sangat gawat..


"Neng Kenapa nangis?"


tanya seorang ibu-ibu paruh baya yg ada di sebelah meja tempat kami duduk.


"Saya tidak apa-apa Bu, mata saya hanya kemasukan debu saja" jawab ku sambil mengucek kedua mataku...


Lalu ibu-ibu itu melihat kearah Arief dan berkata..


"Kasep, jangan di sakiti atuh si Eneng cantik nya.."


Hah kenapa dia tau namaku..


"tidak, Bu saya tidak mungkin menyakitinya, apa ibu mengenalnya?, kenapa ibu tau namanya Cantik?"


Ibu itu tampak kebingungan..


"Saya tidak mengenalnya, oh namanya Cantik, sesuai ya kamu gadis yg cantik.."


Aku heran jangan-jangan mata ini itu minus, kenapa dia berkata aku cantik...


ibu itu lalu meminta izin untuk duduk di meja kami, dan berkata...

__ADS_1


"ibu ini seorang bidan, maaf ibu tadi mencuri dengar apa yg kalian bicarakan, maaf ya ibu hanya ingin membantu saja..."


"Ma maksud ibu apa?"


__ADS_2