Jangan Panggil Aku Cantik...!

Jangan Panggil Aku Cantik...!
Bab 53 Kangen


__ADS_3

"Jangan menggosipkan Direktur!" Ucap pria dewasa yang sedari tadi menatap iri pada Rio yang bisa dengan leluasa berbincang dengan wanita yang menarik perhatiannya itu.


"Maaf pak Nando, saya tidak bermaksud demikian" Ucap Cantik sembari menyatukan kedua tangan nya di dadanya.


Kemudian Nando berbisik di telinga Cantik.


"Dari pada membicarakan pak Arief yang dingin itu, lebih baik membicarakan ku saja, yang hangat ini"


Tentu saja Cantik merasa risih dan tidak menyukai sikap Nando barusan.


Nando nampak melakukan beberapa hal untuk mencari perhatian wanita itu. Mulai dari meminjam bolpoin, mengajak makan siang bersama, menawarkan nanti untuk mengantarkannya pulang.


Tentu saja dia tak menerima tawarannya, saat ini dia sedang menjalin hubungan dengan Arga anak dari pemilik perusahaan ini. dia tak akan memberikan harapan pada siapapun yang akan mendekatinya.


Telpon di meja kerjanya berbunyi.


"Ibu Cantik diminta untuk ke ruangan Direktur sekarang" Ucap sekertaris Arief itu.


"Baiklah" sahutnya.


Setelah sambungan telpon itu terputus, dia menghampiri meja Asisten sekaligus sekretarisnya Rio.


"Mas Rio, saya keluar dulu, saya di panggil pak Arief"


Rio mengangguk, setelah Cantik melangkahkan kakinya, Rio memanggil lagi.


"Bu, Kuatkan hati" Ucap Rio sambil mengangkat tangan kanannya seperti orang memberi semangat.


Cantik hanya menanggapi dengan senyuman.


Kau benar Rio, aku harus menguatkan hatiku.


Tok Tok.


"Masuklah!"


Sekali lagi ia terpana melihat orang yang ada di depannya, kakinya seakan membawa beban 50 kg, yang membuatnya berat untuk melangkah masuk.

__ADS_1


"Duduk!, kenapa diam saja di situ" Ucap Arief ketus.


Sungguh melihat wajah Cantik membuat kepalanya sakit, entah karena apa dia sama sekali tak tau, dan karena itu juga ia bersikap ketus dan kasar terhadapnya.


"I i iya pak" Dalam hatinya ia bersorak senang telah berhasil menemukan Arief, tapi pada kenyataannya sikap Arief padanya membuat nya merasakan sakit yang jauh lebih sakit saat dulu Arief meninggalkannya.


"Siapkan dirimu, besok kita akan menemui penanggung jawab proyek itu, dan jangan sampai kau melakukan kesalahan yang sama seperti orang yang sebelumnya" Arief menatap tajam mata Cantik, dan itu membuat kepalanya terasa berdenyut kencang.


"Ba baik pak, saya akan persiapkan sesuai keinginan bapak tadi"


"Ya sudah, pergilah melihatmu membuat kepalaku sakit"


Ya Ampun Arief, kenapa kamu berubah, apa setidak ingin nya kamu melihat ku, lalu kenapa kamu memilihku untuk berada di sini, kenapa tidak orang lain saja.


Dia masih terpaku bahkan tak mengedipkan matanya melihat wajah pria tampan itu. Alis Atasannya itu mengkerut tangan kirinya memegang keningnya, dan tangan kanannya mengibas-ngibas menyuruh Cantik pergi.


"Sana keluar !, kenapa masih di sini? Apa wajahku setampan itu sampai kau tidak berkedip melihat ku"


"Ma maaf pak"


Kau memang tampan Rif, bahkan jauh lebih tampan dari Arief yang ku kenal dulu.


***


Jam kantor berakhir, ia pulang dengan menggunakan angkutan kota, jarak kontrakannya lumayan dekat, cukup dengan 1 kali naik angkot saja. sebenarnya bukan tak mampu membayar taksi, tapi saat ini dia hanya ingin saja mencoba naik angkot.


Memori indah saat SMP dulu dirinya dan Arief saat pulang sekolah bersama dengan menaiki angkot kembali menyeruak di pikiran ibu satu anak itu.


Ingin rasanya ia ulangi kejadian itu saat ini. tapi mana mungkin, Arief yang sekarang adalah seorang Direktur mana mungkin dia mau menaiki kendaraan rakyat jelata seperti ini, apa lagi mengingat sikap dingin dan ketus Arief padanya.


Sesampainya di rumah kecil dengan 1 kamar itu, ia segera mandi dan mengganti pakaian dengan piama tidurnya.


Rencananya ia akan menelpon Anaknya Kay melalui telpon ayah.


Belum juga dia memencet kontak Ayah, hp nya sudah lebih dulu berdering.


Mas Arga Calling....

__ADS_1


"Assalamualaikum mas"


"Waalaikumsalam Mami" Bukan Arga yang menjawab salamnya, tapi suara yang sangat ia rindukan.


"Sayang, Mami kangeng"


"Aku juga Mi, Papi juga kangen Mami katanya"


Semburat merah merona di pipi mulus wanita berkulit sawo matang itu. Bagaimana bisa saat ini dia sedang menjalin kasih dengan Arga, tapi seharian ini hatinya malah terus terisi dengan kakaknya Arga, Arief.


Bahkan baru beberapa waktu yang lalu ia meyakinkan dirinya bahwa akan membuka hatinya untuk Arga dan akan menerima Arga sebagai pendampingnya kelak, tapi lalu kenapa tiba-tiba orang yang sangat ingin dia lupakan malah muncul dan mengisi lagi ruang hati yang sudah ia kosongkan itu.


Baru saja Arga pelan- pelan masuk ke dalam hatinya, lalu tiba-tiba, Arief muncul lagi dan melesak masuk mendahului Arga tanpa permisi. Sungguh takdir hidup yang sangat rumit untuknya.


Mereka bertiga saling melepas rindu, berbincang menceritakan keseharian masing-masing, tapi tentu saja pertemuan dengan ayahnya Kay tidak ia singgung sedikitpun. bagaimanapun dia harus lebih dulu mengetahui kebenarannya.


Pembicaraan ngaler-ngidul itu diakhiri dengan kecupan manis dari anaknya Kay.


Mendengar Kay yang baik-baik saja tanpa keberadaanya di sampingnya, itu sudah membuatnya tenang untuk hari ini, tapi entah sampai kapan dia di sini, dia merasa tak sanggup jika harus terus berjauhan dengan anak kesayangannya itu.


Malam pun telah larut. dia rebahkan tubuhnya di kasur busa tanpa ranjang itu.


Ia mencoba untuk memejamkan matanya, bayangan tadi saat bertemu dengan Arief, membuat ia meneteskan air matanya.


Dia menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi pada Arief, kenapa dia sama sekali tak mengenalinya, apa sesuatu terjadi padanya? ya dia akan menyelidikinya.


Tentu saja dia tak akan gegabah dengan mengatakan pada Arief bahwa Arief memiliki anak darinya. bagaimana jika Arief menyangkalnya, sama seperti tadi Arief menyangkal bahwa dia tidak mengenalinya.


Matanya mulai mengantuk tapi pikirannya masih bekerja keras bukan hanya karena Arief saja, tapi karena pekerjaannya juga.


Semua yang ia butuhkan untuk besok telah rampung, dia sudah merancang Desain yang Arief inginkan, dan juga dia telah merancang kata-kata yang akan ia ungkapkan kepada kliennya besok.


Dan tanpa tersadar dia tertidur begitu lelapnya. dalam mimpinya dia Kay dan Arief sedang bermain-maiin di sebuah pantai. pantai berpasir putih, dengan deburan ombak dan angin yang bertiup kencang.


Dalam mimpinya Arief yang menggendong Kay mengejarnya yang berlari ke arah lautan.


"Mami, mami jangan ke sana!" Ucap Kay, lalu dia menoleh.

__ADS_1


Saat itu juga bukan Arief yang ia lihat sedang menggendong Kay.


__ADS_2