
"Lalu kapan kalian akan Menikah?" Ucap ibu dengan lantang dan bersemangat.
"Ya ampun Bu, aku bahkan baru saja membuka hatiku untuk mas Arga, ibu sudah tanya seperti itu, bukankan itu terlalu cepat bu"
Setelah semua yang dibicarakan selesai, Arga pamit, seperti biasa Kay melarang Calon papi nya itu pergi. tentu saja dengan drama seperti biasanya, untung ada Dewa dan Rama yang merayu Kay.
***
Setiap kali ada kesempatan Arga akan menjemput kekasihnya itu saat pulang kerja, entah saat pulang dari kantor atau saat ia memantau lokasi proyek yang ia pegang bersama yang lainnya.
Arga semakin memantapkan hatinya memilih Cantik sebagai pelabuhan terakhir perjalanan cintanya.
Dia berjanji nanti di waktu yang pas dia akan mengenalkan Cantik pada orang tuanya, dan meminta orang tuanya untuk datang melamar Cantik.
Tapi masih ada jurang yang sedikit terjal bagi Arga untuk cepat-cepat mensahkan ibu satu anak itu sebagai pendampingnya.
Kakaknya Arief belum menikah, bahkan sepertinya dia belum memiliki pasangan, mana mungkin Arga tega melangkahi Arief, biar bagaimanapun Arief saat ini sedang sakit, tentu ia tak akan tega menyakiti hati kakaknya dengan lebih dulu menikah, lagian dia masih muda, mungkin nanti dia akan memikirkannya saat pangkatnya telah naik menjadi Letnan.
Jika saja Arga tau bahwa wanita yang sangat ia cintai kini, adalah wanita yang sangat kakaknya cintai di masa lalu, mungkin kasusnya akan semakin rumit saja.
*****
Di sebuah ruangan sempit seorang pria dewasa berwajah tampan dengan sedikit rambut yang mulai tumbuh di wajahnya memijit keningnya berulang kali.
"Sial, kenapa semuanya tak ada yang becus membantuku disini, masa harus aku libatkan Mama lagi dalam urusan ini." Ucap Arief pada bawahannya, Amar.
"Mar, kumpulkan semua Desainer interior yang bagus dan berbakat di semua cabang, lalu seleksi siapa di antara mereka yang terbaik, kirimkan data diri beserta hasil rancangannya padaku "
"Baik pak, Apa di sini tak ada yang sesuai kriteria bapak? Atau kita buka saja lowongan baru?"
"Semua yang ada disini mandeg, tak ada yang sesuai, kalau harus mencari orang baru itu akan membutuhkan waktu yang lama, dalam 2 Minggu harus sudah beres semua"
"Baik pak, saya akan hubungi semua Cabang secepatnya, saya permisi dulu" Ucap Amar.
Arief masih memeriksa semua kesalahan yang Anak buahnya lakukan, bagaimana mungkin proyek sebesar ini harus gagal karena kesalahan beberapa orang saja.
Sebenarnya bisa saja dia meminta bantuan Mama Galuh, tapi saat ini kondisi kesehatan ibunya itu sedang tidak baik, alangkah bodohnya Arief jika harus menambah beban pikiran ibunya itu.
Salah satu cara adalah dengan memutasi seseorang berbakat dari cabang untuk menetap di pusat.
***
__ADS_1
Saat ini sudah bulan ke 2 ia dan Arga menjalin kasih, hatinya masih hambar menjalani semua ini, hubungan ini terasa sangat tidak sehat, dimana ia menjalani hubungan hanya karena rasa tidak enak hati, atas semua kebaikan Arga padanya dan juga Anaknya.
Terlebih lagi dukungan semua anggota keluarganya, tentu dia tidak tega kalau harus melihat mereka semua kecewa padanya, terlebih Kay dia sangat menyayangi Arga, dia bahkan sudah tak sungkan lagi memangil Arga dengan sebutan papi. padahal Papi Kay hanya satu yaitu Arief bukan yang lainnya.
lagi-lagi Arief Arief dan Arief.
"Sayang, Mamaku sedang sakit, aku akan ke Jakarta besok, apa kamu mau ikut bersamaku? sekalian aku akan mengenalkan mu pada orang tuaku"
"Sakit apa Mas, Bu Galuh?"
"Sepertinya darah tingginya naik"
Setelah di timbang-timbang ia menerima ajakan Arga, toh tak ada salahnya menjenguk orang sakit, sekaligus bertemu dengan pemilik perusahaan tempat ia bekerja saat ini.
Cantik Arga dan Kay berpamitan kepada ayah dan ibu, mereka pergi menggunakan mobil yang sama saat dulu mengantar Dewa untuk melamar Diana.
Arga sengaja membawa serta Kay, tak ada satupun yang ia tutupi tentang keadaan cantik yang telah memiliki seorang anak, bahkan sebelumnya dia telah menceritakan semuanya pada ibunya.
"Papi kita mau kemana?" Ucap anak yang duduk di samping kemudi itu. Posisinya berada di tengah antara Mami dan papi nya.
"Kita akan ke Jakarta sayang, ke rumah Papi" Arga mengelus rambut Kay.
"Jakaltaa itu jauh papi? jauh mana dengan tempat Kay beli ayam goeng?" ucap polos Kay.
"Jakarta itu jauh sayang, kalau Kay ngantuk Kay boleh tidur dulu, nanti papi bangunkan kalau sudah sampai"
Kay mengangguk, seolah mengerti tapi tak ada sedikitpun kantuk di wajahnya, dia terus saja melihat ke kanan dan ke kiri, lalu menanyakan apa saja yang dilihatnya.
Setelah beberapa waktu di perjalanan akhirnya sampailah mobil mewah itu di sebuah rumah.
"Wah, ini rumah kamu mas?" Cantik begitu kagum melihat rumah bernuansa Eropa itu, begitu megah dan sangat sangat bagus.
Mungkin karena pemilik dari rumah ini adalah seorang Arsitek hebat, makanya rumah ini terlihat sangat sempurna.
"Bukan ini bukan rumahku" Ucap Arga.
Cantik tentu saja mengerutkan dahinya.
"Kalau bukan rumah kamu kenapa bawa aku kesini?"
"Ini rumah orang tua ku, aku belum mampu membangun rumah sebagus ini"
__ADS_1
"Ohh, aku kira rumah orang lain"
Baru saja mereka masuk, nampak suasana gaduh terdengar dari dalam rumah.
"Untung kamu datang tepat waktu Ga, ayo cepat kita bawa Mama ke Rumah sakit, mama pingsan Ga" Ucap Nadine yang kini telah mengajukan cuti untuk merawat mama nya yang sedang sakit.
Mereka bergegas membawa Mama Galuh ke Rumah sakit terdekat.
Jika saja takdir telah berpihak kepada Cantik, Pasti saat ini dia sedang menatap photo keluarga yang terpajang di ruang tamu rumah mewah itu.
Pasti saat ini dia sedang terkejut melihat wajah yang selama ini dia rindukan itu ada di sana.
Ya tapi bagaimana lagi mana lagi, Tuhan belum mengizinkan nya, untuk menemukan keberadaan Arief.
"Kamu mau tunggu disini, atau mau ikut ke Rumah sakit?" Tanya Arga.
"Ikut saja" Jawab ibunya Kay itu.
Mana mungkin dia di tinggal di sini sendirian, huh ini sungguh sangat menakutkan baginya.
Setelah diperiksa Mama ternyata mengalami Struk ringan, ini akibat tekanan darah Mama yang naik.
Tak berselang lama Mama tersadar dari pingsannya.
Dia melihat, hanya ada Arga dan Nadine di sana, Papa masih di luar kota, sedangkan Arief sedang menangani masalah yang terjadi pada perusahaan nya.
Mama melihat ke arah sofa yang terletak tak jauh dari ranjang itu.
"Ga, siapa dia? Apa dia pacarmu itu?"
"Iya ma"
Cantik yang melihat Mama nya Arga telah tersadar lalu menghampirinya bersama Kay.
"Bu, bagaimana keadaannya sekarang?" Ucap Cantik sambil mencium tangan wanita paruh baya yang sedang sakit itu.
"Cantik, namamu Cantik kan, sesuai dengan wajahmu Cantik"
****
Nggak terasa ya udah 50 bab aku ngetik cerita ini, walau pun masih jalan di tempat, tak ada kemajuan, tapi aku bahagia.
__ADS_1
Menulis adalah hobby ku sejak jaman sekolah dulu, dulu nulis cuman di buku, sekarang Alhamdulillah bisa menulis di NT.