
''Rif... jangan...!"
Sepertinya dia tidak mendengarkan perkataan ku sama sekali, walau aku coba untuk menahannya tapi tentu saja tenaga nya lebih kuat dariku...
Dia mengungkung tubuhku dari atas, dia mengecup bibirku kembali, dengan lembut, dan tiba-tiba ada sesuatu yg melesak masuk kedalam bagian tubuh bawahku...
''aghrh..."
Sungguh sakit terasa, entah apa yg terjadi padaku,,,
"Arief lepaskan aku, ini salah...lepaskan...!"
Sekuat tenaga aku coba membuatnya melepaskan tubuhnya dari tubuhku, tapi sia-sia saja dia terlalu dikuasai sesuatu yg seharusnya tidak di rasakan oleh kami saat ini...
Rasa sakit yg tadi aku rasakan berangsur membaik, dan digantikan oleh rasa yg sangat aneh, entah kenapa aku sangat menikmati kesalahan ini, Arief begitu menguasai tubuhku sampai sesuatu terasa lepas dari tubuh kami berdua, entah apa itu, tapi sepertinya karena itu kesadaran Arief mulai pulih, akhirnya dia melepaskan tubuhku..
Air mataku tak henti mengalir, aku menyesal sesuatu yg paling berharga dalam tubuh si itik buruk rupa ini sudah tiada, sudah hilang, di ambil oleh laki-laki yg paling sangat menghargai ku selama ini..
"Ma maafkan aku cantik...!" Arief menggenggam kedua tangan ku.
"Seharusnya ini tidak terjadi Rif, ini salah, kita bahkan masih berseragam abu-abu, ini salah." aku terus saja menangis, sambil memunguti pakaian ku yg berserakan tak beraturan,,,
"Maaf kan aku cantik aku menyesal, aku begitu menyayangi kamu, aku tak bisa menahannya... aku menyesal sayang" dia menarik tanganku, sepertinya dia belum sadar bahwa dia belum memakai sehelai benang pun.
Aku malu, melihat tubuh kami sama-sama polos.
Tanpa menjawab aku segera pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri...
Di kamar mandi aku mengguyur tubuhku dengan air sebanyak mungkin. aku terduduk lesu di bawah guyuran shower..
Sungguh aku sangat jijik melihat tubuhku yg kini sudah tak suci lagi, apa yg harus aku lakukan setelah ini? aku bingung aku takut.
Tubuhku gemetar tak henti-henti, apa lagi bagian itu terasa sangat sakit, sakit sekali, kamu bodoh cantik, kenapa melakukan hal seperti ini, ini salah, ini salah....
Aku berusaha menenangkan diriku, dan segera memakai pakaian seragamku lagi
Entah apa yg harus aku lakukan setelah ini, saat aku keluar dari kamar mandi, nampak Arief yang sudah memakai pakaian lagi, menungguku dengan resah di depan pintu kamar mandi...
Dia menggenggam pergelangan tanganku lalu menarik ku ke ruang tamu, aku duduk dengan air mata yg masih meleleh di pipi ini.
''Yang maafkan aku!, aku janji aku akan bertanggung jawab" Dia bersimpuh dan tangannya menggenggam erat tangan ku.
"Dengan apa kamu bertanggung jawab Rif, bahkan kita masih sekolah" aku memalingkan wajahku.
"Aku akan menikahi kamu, jika kamu mau, kita bisa menikah secara siri, setelah lulus aku akan menikahi mu secara resmi, aku mohon maafkan aku!"
__ADS_1
"Dengan mudahnya kamu berkata seperti itu Rif, bagai mana dengan orang tua kita? mereka pasti marah"
"Kita bisa jelaskan semuanya perlahan"
"bagaimana kalau aku hamil"
"itu tak mungkin, tapi jika benar, aku mohon pertahankan itu, dia anak kita, anak hasil buah cinta kita, jangan kita sakiti"
Aku sungguh bingung dengan situasi saat ini , dia begitu meyakinkan aku, melunturkan rasa marahku padanya.
"Berjanjilah padaku Rif, kamu tak akan pernah meninggalkan aku…!"
"Iya yang, aku janji, apapun keadaannya nanti aku akan tetap berada di samping kamu"
"untuk sementara, ini rahasia kita berdua Rif, jangan kamu beritahu siapapun, aku takut."
"Apa kamu yakin yang? aku akan mengatakan nya pada orang tuaku, dan aku akan melamar kamu"
"Nanti saja, jika sesuatu terjadi baru kita pikirkan lagi, untuk saat ini biarlah seperti ini, aku tak mau ada yg tau, asal kamu tetap di sini, dan tidak meninggalkan aku"
Dia memeluk ku, dan berjanji takkan pernah meninggalkan aku..
Saat itu juga aku pulang dengan perasaan yg masih kacau.
"Aku antar kamu pulang"
"tidak usah, istirahat saja kamu masih sakit, aku bisa pulang sendiri"
"Aku sudah baikan, aku akan antar kamu pulang"
Dia bangun mengambil jaket dan kunci motor di kamarnya, lalu mengeluarkan motor yg terparkir di garasi rumahnya..
Sekali lagi aku tak bisa menolak laki-laki itu, apapun yg ia katakan selalu aku turuti, entah kenapa aku selalu luluh dengan perkataan nya..
Dalam perjalanan dia meletakkan tanganku di pinggangnya...
"Yang kamu yakin, akan merahasiakan ini"
"Iya, aku takut"
"Tapi aku akan bertanggung jawab, aku akan mengakuinya pada orang tua mu"
"Jangan, mereka akan marah, aku tak mau menambah beban pikiran mereka, nanti saja kita pikirkan lagi, saat ini aku hanya ingin begini "
"Baiklah jika itu mau kamu, aku sangat menyayangi kamu, sejak dulu sebelum kita bersama, sampai sekarang saat kamu jadi milik aku seutuhnya, rasa sayangku akan semakin bertambah"
__ADS_1
Dia memegang tanganku dengan sebelah tangannya, sementara satunya lagi memegang kendali motor matic, yg ia kendarai saat ini.
"Berjanjilah padaku, jangan tinggalkan aku..!"
"Aku berjanji Cantik..."
Dia menjalankan motor sangat pelan entah apa alasannya, sepertinya dia hanya ingin berlama-lama untuk meyakinkan aku agar mau memaafkannya.
Bukan salah dia sepenuhnya, aku juga salah, telah memberi kesempatan padanya untuk melakukan hal yg sangat di larang oleh agama...
Aku telah berzina dengan laki-laki yg sangat aku sayangi, dengan dia yg sangat aku cintai, dia satu-satunya laki-laki yg menghargai ku sebagai seorang manusia, tapi kini dia telah merenggut sesuatu dalam diriku.
Dia mengantar aku sampai depan rumah, rumahku masih sangat sepi, padahal jam sudah menunjukan jam 3 sore, sepertinya ibu dan ayah belum pulang, begitupun dengan kak Rama , dia sering pulang malam, karena dia kuliah sambil bekerja..
"Di rumah tak ada siapa-siapa, sebaiknya kamu langsung pulang.."
"aku tunggu di luar saja"
"Pulang lah Rif, istirahat kamu masih sakit"
"Aku sudah sembuh yang"
"Aku bilang pulang, pulang" mataku menyorot tajam menatap matanya...
"iya, iya, jangan marah! aku pulang!"
Akhirnya dia pergi juga.
"hati-hati Rif..!"
"iya" dia sudah memakai helm nya, dan bersiap menaiki motornya, tapi dia berbalik dan kembali menghampiriku.
"Maaf kan aku Cantik..!"
sekali lagi Arief menggenggam tanganku.
"iya, aku sudah memaafkan kamu"
Dia tersenyum dan mengusap lembut kepalaku, lalu mengecup kening ku...
Arief perempuan mana yg tidak akan bahagia mempunyai kekasih seromantis kamu, sebaik kamu, setulus kamu, sepintar kamu, dan sesempurna kamu, bahkan kamu mau menerima aku yg seperti ini, yang jauh dari kata sempurna..
Sepeninggalan Arief aku melangkah masuk ke dalam rumah... aku lihat photo ayah dan ibu terpajang di dinding, seketika, air mataku menetes...
"Maafkan aku ayah ibu!, maaf!"
__ADS_1