Jangan Panggil Aku Cantik...!

Jangan Panggil Aku Cantik...!
Bab 54 Kabur begitu saja.


__ADS_3

Saat itu juga bukan Arief yang ia lihat sedang menggendong Kay.


Tapi Arga...


Ia terbangun dalam tidurnya. Merenungi mimpinya tadi, mimpi itu seolah nyata, dia begitu mengharapkan Arief untuk menjadi ayah Kay, tapi kenyataanya Arga lah yang Kay anggap sebagai ayahnya.


Sampai pagi menjelang ia tak bisa memejamkan matanya lagi.


Hari ini dia di sibukkan dengan pekerjaan yang sangat padat. Dia, Arief, Amar, dan beberapa orang lain dalam tim mengunjungi lokasi pembangunan perumahan para sultan itu.


Nampak pembangunan sudah berjalan, karena beberapa masalah pembangunan sempat berhenti.


Ia berada dalam satu mobil yang sama dengan Arief, Amar Asisten Arief menyetir di depan, dan dirinya berada di samping amar, serta Arief berada di kursi belakang.


Sesekali wanita itu mencuri pandang pada kaca spion, melihat betapa tampannya mantan kekasihnya dulu itu.


Dia masih bertanya-tanya kenapa Arief bisa sampai tidak mengingatnya sedikitpun, padahal dalam beberapa kali percakapan dia sudah menyinggung kenangan di masa lalu saat bersama.


Tak seperti dirinya yang terus memperhatikan wajah tampan itu, Arief terlihat cuek seolah tak peduli sedikitpun dengan Cantik, mulutnya diam terkunci tanpa bicara juga tanpa senyuman. padahal salah satu yang membuat cantik mencintai Arief adalah senyumannya itu.


"Setelah ini kita kemana pak?"


"Antar dia pulang, setelah itu antar aku pulang"


"Baik pak, Bu Cantik rumahnya di mana?" Amar bertanya pada wanita itu.


"Rumah saya di Bandung, tapi bapak antar saja ke kontrakan saya di daerah x"


"Baik Bu, tunjukan saja jalannya"


Ponsel wanita itu berbunyi, nampak panggilan Vidio dari Rama.


"Maaf pak Arief saya izin angkat telpon sebentar!"


"Assalamualaikum sayang"


"Waalaikumsalam Mami, hu hu hu"


Nampak Kay sedang menangis tersedu, entah apa yang membuatnya menangis.


"Anak mami kenapa menangis? apa yang terjadi?"


Kay menjelaskan bahwa dia sangat merindukan maminya, apa lagi papi Arga tidak datang menemuinya hari ini.


Cantik berusaha memberi pengertian pada anaknya tentang apa yang terjadi.

__ADS_1


Pada akhirnya Kay mau mengerti dan mau berhenti menangis asalkan nanti saat pulang maminya memberikannya mainan tentara yang besar.


Arief sedari tadi mencuri dengar percakapan ibu dan anak itu.


"Hey, kau sudah punya anak, lalu kenapa di CV mu kau lajang belum menikah?"


"Saya memang belum menikah pak, tapi saya sudah mempunyai anak" Ucap nya dengan nada bergetar.


"Kenapa bisa seperti itu? kau penganut s** bebas?"


"Saya tidak seperti itu, tapi seseorang telah berani menodai saya lalu dia kabur begitu saja tanpa mau bertanggung jawab" Ucap Cantik dengan nada menyindir.


"Oh ya?, kenapa dia kabur? dan tidak mau bertanggung jawab, sungguh laki-laki pengecut"


"Ya dia memang laki-laki pengecut, Saya tidak tau kenapa dia lari, tapi bapak bisa menanyakannya pada diri sendiri"


Arief terdiam sejenak mencerna perkataan Cantik.


"Heh maksudnya apa? mana aku tau kenapa dia meninggalkanmu?"


"Tidak, maksudnya kan bapak juga laki-laki pasti tau alasan kenapa?"


"Kenapa bertanya padaku, tanya Amar sana!" Ucap Arief kesal.


"Sudah, sudah jangan bertengkar!" Amar menengahi kedua orang yang sedang beradu mulut itu.


"Siapa yang bertengkar?" Ucap keduanya secara bersamaan.


Amar hanya tersenyum melihat kedua orang itu, ia tak tau apa yang terjadi sebelumnya pada mereka berdua, tapi melihat tatapan Cantik pada Arief sepertinya ada sesuatu yang dia sembunyikan. Apalagi sedari tadi Cantik berkata seolah sedang menyindir Arief.


Apa Bu Cantik itu orang di masa lalu pak Arief? aku harus menyelidikinya. Batin pria yang sudah punya 2 anak itu.


"Depan belok mana bu?"


"Belok kiri"


Akhirnya sampai juga di sebuah rumah kontrakan yang berjejer 6 unit dengan desain bangunan yang sama.


Cantik turun dan mengucapkan terima kasih kepada Arief dan Amar karena telah mengantarnya.


"Kenapa wajahnya di tekuk seperti itu pak?" Tanya Amar yang melihat wajah kusut bos nya itu.


"Kalau bukan karena kemampuannya yang luar biasa, saya sudah pecat gadis itu dari kemarin-kemarin"


"Kenapa pak? oh iya dia bukan gadis pak dia sudah punya anak" Ucap Amar santai.

__ADS_1


"Terserah lah, mau gadis ataupun janda juga saya tak peduli, setiap melihat nya kepala saya itu sakit mar, dia tuh bikin emosi saya terus"


"Mungkin bapak mengenal dia sebelumnya pak, makanya otak bapa berusaha mengingat memori lama bapak"


"Masa sih? tapi jika bertemu dengan orang yang mengenal saya dulu, kepala saya biasa saja tak sakit seperti ini"


"Saya tak tau pasti pak, tapi lebih baik bapa konsultasikan ini kepada dokter"


Arief terdiam seolah menyetujui usul dari asistennya itu.


"Kita langsung pulang pak?"


"Ya" Jawabnya singkat.


Arief masuk ke dalam rumah mewah 3 tingkat itu, nampak lengang seperti biasa, sepi tak ada orang hanya pembantu dan satpam yang setiap hari ada di rumah itu. Sementara penghuni aslinya sibuk dengan aktivitas masing-masing.


Sepanjang malam Arief berpikir, apa benar yang dikatakan Amar, bahwa mungkin Cantik mengenalnya, apa mungkin, tapi mana mungkin dia mengenal wanita semenyebalkan itu.


***


Satu Minggu berlalu, terasa begitu lambat bagi ibu nya Kaede Rukawa itu. Dia begitu rindu dengan anaknya, ingin sekali secepatnya bertemu dan memeluk nya dan mencium pipi chaby anak itu.


Hari Sabtu semua karyawan pulang lebih awal, pukul 1 siang padahal biasanya pukul 4 sore.


Ia segera pulang dan menyiapkan beberapa oleh-oleh yang ia beli untuk anaknya dan juga keluarganya, tak lupa ia juga membeli untuk papinya Kay, Arga maksudnya, bukan Arief.


Walau kini ia telah berhasil menemukan Arief, tapi realitanya tak sesuai ekspektasi.


Kenyataannya bukan kebahagiaan yang ia dapatkan setelah bertemu dengan pujaan hati nya di masa lalu, tapi kesedihan, rasa sakit, dan kekesalan, mengingat sikap Arief padanya, yang tak hanya acuh tapi seolah membencinya.


Tapi ya sudah lah, ia tak begitu mempedulikannya lagi, biarkan saja waktu berjalan sesuai takdir Tuhan, entah seperti apa ke depannya, dia hanya berdoa untuk meminta yang terbaik baginya dan juga bagi anaknya.


Kini dia sudah sampai di Terminal, ia putuskan untuk pulang naik bus saja, alasannya karena ia belum gajian jadi menghemat uang akan lebih baik tentunya.


Walaupun sebelumnya Arga menawarkan menjemputnya, tapi tentu dia menolak karena merasa tak enak hati.


"Mami...."


Terdengar suara yang tak asing lagi baginya...


*****


Assalamualaikum semua Saya ini adalah Author baru yang masih belajar menulis, sering kali saya kebingungan untuk menemukan alur yang pas untuk cerita ini, saya masih belajar, dan saya akan senang jika ada yang memberi masukan pada saya.


Jadi tinggalkan komentar jika berkenan...☺️

__ADS_1


__ADS_2